MENJADI YANG TERBESAR

MENJADI YANG TERBESAR

Oleh : Paul Bolla

Bacaan: Lukas 9:43b-48

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) membuka pintu gerbang Perayaan Minggu-minggu Sengsara tahun 2022 dengan memilih bacaan Lukas 9:43b-48.

Bacaan ini bercerita tentang pertengkaran murid-murid Yesus tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Pemicu pertengkaran bersumber dari pernyataan Yesus sebelumnya, bahwa “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” (Lukas 9:44)

Murid-murid tidak paham maksud Yesus itu. Mereka mengartikan perkataan Yesus bahwa setelah Yesus diserahkan, harus ada pemimpin baru, lalu siapa di antara mereka yang akan menggantikan-Nya. Akan terjadi suksesi kepemimpinan kelompok Yesus.

Pikiran murid-murid Yesus itu masuk akal dalam konteks mereka. Sebab kelompok Yesus sangat populer, pengikutnya banyak. Nama Yesus jaminan memiliki pengaruh besar di seantero Yerusalem dan sekitarnya. Israel sedang dalam penjajahan Romawi. Ada banyak faksi sedang memperjuangkan kemerdekaan Israel.

Di kalangan elit, ada para Imam Besar (eksekutif), kelompok Sanhedrin/Legislatif (diisi wakil dari kaum Saduki dan Ahli Torat), dan Anggota Mahkamah Agama (Yudikatif). Sementara di akar rumput, ada banyak kelompok/partai, di antaranya, kaum Qumran, Zelot, Kaum Nelayan, dan lainnya. Platform perjuangannya berbeda-beda. Ada yang memilih berdoa dan berpuasa, ada yang memilih mempersenjatai diri, dan lainnya.

Meski populer, Yesus tidak memilih berafiliasi pada kelompok politik manapun. Tetapi murid yang direkrut memiliki afiliasi pada perjuangan politik kelompok tertentu, seperti Simon dari Partai Zelot. Karena itu murid Yesus laten memendam harapan politik, berharap Yesus menjadi mesias politid yang akan membebaskan Israel dari tangan kekuasaan Romawi.

Yesus jelas tidak berpolitik praktis dengan memilih aliran tertentu. Namun Yesus sebenarnya berpolitik juga, yakni politik etis. Lewat ajaran-ajaran-Nya, diceritakan secara jelas dalam Injil, Yesus menginspirasi gerakan moral untuk memperjuangkan kaum lemah yang kala itu amat menderita. Politik Yesus adalah politik memihak kaum lemah.

Karena itu teguran kepada para murid yang bertengkar, Yesus mencontohkan seorang anak kecil. Yesus mengatakan: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (Lukas 9:48)

Teguran itu manjur. Jelas sekali suksesor Yesus adalah orang yang menyambut Yesus. Siapa yang bersedia menjadi yang terkecil, dialah yang terbesar. Dalam bahasa politik, yang terbesar adalah mereka yang mau berpihak pada kaum lemah yang paling menderita, seperti anak kecil.

Pilihan bacaan GMIT diawal minggu sengsara ini relevan dengan situasi kita saat ini. Indonesia sedang memulai persiapan pemilu legislatif dan pemilu presiden. Provinsi NTT juga mulai bersiap menyongsong pemilihan Gubernur NTT. Kota Kupang dua tahun lagi akan memilih Walikota Kupang. Di internal GMIT, tahun 2023 akan ada pergantian Majelis Sinode dalam persidangan yang direncanakan berlokasi di Kabupaten Sabu Raijua.

Konstelasi politik diberbagai level itu, sudah dimulai. Tim sukses sudah dibentuk. Mereka bekerja secara terang-terangan dan terselubung. Tim sukes menyiapkan strategi untuk menjual figur “yang terbesar.” Apakah para tim sukses itu juga mengadopsi politik etis Yesus? Tentu saja. Untuk meraih dukungan mayoritas tiba-tiba para jago atau figur “yang terbesar” dicitrakan sebagai sosok yang berpihak pada kaum lemah. Membangun citra itu tidak murah. Jika citra keberpihakan itu karakter asli, tentu murah. Tetapi jika mesti di-make over seolah-olah berpihak pada kaum lemah, itu yang mahal.

Di kalangan gereja juga mulai tergoda mengadopsi politik pencitraan. Figur rohaniawan, “orang-orang dekat Yesus” bagian dari tim sukses. Kental dengan aroma politik uang sebagai biaya membangun pencitraan. Di otak para calon pemimpin dan tim suksesnya, hanyalah kekuasaan, bukanlah karakter menyambut Yesus yang berpolitik etis berpihak pada kaum lemah, menjadi seperti anak kecil, menjadi yang terkecil.

Citra berpihak kepada orang kecil, lemah dan menderita, hanyalah sebuah musim. Pesta berakhir, musim pun skan berganti. Obyek membangun citra adalah mereja yang menderita stanting, tidak memiliki rumah, korban bencana alam, tidak mampu membiayai sekolah, dan sebagainya. Nilai etis berpihak pada orang kecil adalah jati diri mereka yang menyambut Yesus, bukan musim yang ada akhir berganti musim yang lain.

GMIT mengingatkan umatnya diawal perayaan minggu-minggu sengsara, bahwa moral pengikut Yesus adalah menjadi “yang terkecil.” Itulah ciri-ciri menjadi “yang terbesar.”

#Selamat_Merayakan_Minggu_Sengsara_I

Salam sehat dari Fatululi
Sumber : FB Paul Bolla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *