MENYEMBAH TUHAN (Edisi kedua)

MENYEMBAH TUHAN (Edisi kedua).

                  LUKAS 4:5-8

Pdt. Elisa Maplani

       Kuasa. Manusia sering tergoda oleh kuasa. Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke 16 pernah berujar:”KALAU MAU LIHAT TABIAT ASLI SESEORANG MAKA BERILAH DIA KEKUASAAN”.

Ungkapan Lincoln ini sarat makna:Terdapat hubungan erat antara kekuasaan dan jati diri asli (integritas) seseorang. Seseorang yang baik, tulus, benar dan berintegritas akan teruji manakala ia menerima amanah dalam bentuk kekuasaan. Apakah kekuasaan yang diterima itu dimanfaatkan secara baik dan bertanggungjawab untuk melayani banyak orang dan memuliakan Tuhan. Ataukah dengan kekuasaan itu orang cenderung untuk melayani keinginan diri, mencari popularitas dan kehormatan diri, semua itu teruji ketika orang menerima kekuasaan.

Iblis gagal dengan tipu dayanya menggoda Yesus untuk dengan kuasa Ilahi-Nya sebagai anak Allah merobah batu jadi roti. Rasa lapar yang dianggap iblis sebagai titik lemah Yesus dan jadi sasaran iblis menyerang, ternyata tidak berhasil menjatuhkan Yesus. Lalu, iblis beranggapan titik lemah Yesus yang lain adalah cinta atau haus akan kekuasaan. lblis berpikir Yesus adalah manusia yang gila dan haus kekuasaan.

Lalu si pencoba ini (Iblis) sekali lagi menyerang-Nya pada titik yang menurut anggapannya adalah titik paling lemah: Tawaran kekuasaan. Injil Lukas memberi kesaksian, Iblis membawa Yesus ke sebuah gunung yang paling tinggi dan memperlihatkan kepada Yesus hal-hal duniawi serta kemegahannya. Dengan licik iblis berkata:”segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang ku kehendaki. Jadi jika Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu (Luk 4:6-7).

Kata-kata sebagaimana tertulis memperlihatkan adanya sifat angkuh ( sombong, congkak, tinggi hati) iblis yang luar biasa. Keangkuhan iblis melahirkan klaim buta:

Pertama, Segala kekuasaan dan kemuliaan adalah milik iblis.

Iblis menganggap diri sebagai pemilik dan pewaris segala kemuliaan dan kekuasaan. Tidak jelas siapa yang memberi warisan itu padanya. Iblis ingin mengelabui Yesus bahwa segala kemuliaan dan kuasa itu diberikan Allah kepadanya.

Kedua, Iblis berhak memberi kemuliaan dan kuasa kepada siapa saja yang ia berkenan.

Iblis merasa lebih tinggi derajatnya dari pada Yesus sebagai Anak Allah. Iblis merasa pewaris kemuliaan dan kekuasaan dari pada Yesus sebagai Anak Allah yang akan berkuasa dan dimuliakan kelak. Dengan lihai iblis berusaha meyakinkan Yesus bahwa Yesus berkenan dalam pandangannya dan karena itu berhak menerima kemuliaan dan kekuasaan. Iblis merasa sebagai pewaris kemuliaan dan kekuasaan, berhak mewarisi kemuliaan dan kekuasaan itu pada Yesus.

Sifat sombong iblis sebagai pemilik dan pewaris kemuliaan dan kekuasaan ini sebenarnya adalah cerminan karakter iblis sejak semula. Teks Alkitab kurang memberi cacatan yang jelas disekitar asal usul iblis. Namun sejumlah catatan Alkitab, memberi kesaksian bahwa selain Allah menciptakan segala mahkluk, Allah juga menciptakan para Malaikat.

Malaikat adalah pribadi yang baik, taat dan sempurna. Hidup cemerlang, tanpa cacat dan cela secara fisik dan perilaku. Namun Malaikat merasa ingin untuk disembah, hasratnya tinggi untuk mendapatkan kemuliaan lebih besar dari pada Allah. Menyombongkan diri dan ingin menyamai Allah. Allah memandang hal tersebut sebagai pemberontakan kepada-Nya sehingga melemparkannya ke bumi bersama dengan malaikat-malaikat lain (sepertiga malaikat).

Malaikat yang diusir dari hadirat Allah dan jatuh dari langit jadi setan (Yesaya 14:12-15; Wahyu 12:3-9). Kata Yunani yang dipakai adalah: Satanas yang diterjemahkan dengan kata: iblis.

Iblis sering digambarkan sebagai ular atau naga besar, si ular tua (Kej 3:1; Wahyu 12:9) Kemunculan iblis pertama kali adalah di taman Eden dalam bentuk ular yang menggoda Adam dan Hawa (Kej 3:1-8). Nama setan adalah iblis, lucifer (latin), naga tua atau ular tua, bintang timur (Yes 14:12; Wah 12:9;20:2). Memang catatan ayat-ayat tadi lebih menggambarkan tentang kekuasaan Raja yang lalim masa itu tapi ada kekuatan yang menggerakkan mereka yakni iblis.

Yesus menyebut mereka (iblis) sebagai pembunuh manusia, hidup tanpa kebenaran dan bapa dari segala pendusta (Yoh 8:44). Tempatnya adalah bersama malaikat -malaikatnya di api neraka (Mat 25:41). Para setan dan malaikat-malaikatnya ini akan berusaha menjerat orang jatuh dalam dosa untuk membawa sebanyak mungkin orang ada bersama mereka sebagai orang-orang terkutuk dalam api yang kekal.

Dengan karakter asli iblis yang angkuh, ingin dimuliakan dan berkuasa, ia seolah-oleh sebagai pemilik kemuliaan dan kekuasaan yang ditawarkan kepada Yesus disertai sarat. Sarat itu adalah: tunduk dan menyembah kepada iblis. Iming-iming kekuasaan dunia dan kemegahannya dianggap iblis sebagai titik lemah yang dapat menjatuhkan-Nya.

Rupanya bagi iblis, jika tujuan Yesus adalah menjadi penguasa kerajaan dunia, menjadi jaya dan kaya raya, dipuja-puji oleh banyak orang yang terbungkuk-bungkuk datang menyembah, maka kemungkinan Yesus akan menerima tawarannya untuk sujud menyembahnya.

Tapi tujuan mulia Yesus datang ke dunia ini adalah tujuan yang suci yaitu menyembah Allah dan melayani-Nya dalam ketaatan dan ketulusan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Yesus ingin memuliakan Allah Bapa di Sorga dalam pelayanan-Nya sebagai Mesias yang rela menderita, mati dan bangkit guna menebusmanusia dari kebinasaan karena dosa.

Yang tidak diketahui Iblis adalah Yesus penuh dengan Roh Kudus. Penuh dengan Roh Kudus sama artinya dengan sempurna dan tidak bercacat cela. Jadi Yesus adalah Kuasa Allah. Yesus adalah Firman Allah yang berkuasa. Tidak seorang manusia pun akan hidup, jika ia tidak menerima kuasa dari Allah; Jika ia tidak menerima firman Allah, jika ia tidak memiliki hubungan khusus (lbr. nisbah) dengan Allah melalui Kristus.

Melalui pencobaan iblis pada Yesus di sekitar kekuasaan, orang Kristen dihadapkan pada contoh dari realitas nyata hidup manusia: Manusia selalu haus kekuasaan. Manusia itu makhluk yang gila dan haus kekuasaan. Ingatlah pemberontakan di Eden (Kej. 3). Bukankah hal itu berkaitan dengan kekuasaan? Kata Yesus: Engkau harus menyembah Tuhan! (ay.8).

Ucapan Yesus memberikan pelajaran yang benar dan baik, bahwa sumber kuasa itu asalnya dari Allah. Dan Yesus adalah Allah itu sendiri. Pemilik mutlak kuasa yang berkuasa penuh atas segenap ciptaan. Ia berkuasa mutlak atas segala kuasa di bumi maupun di sorga. Iblis pun ada dalam kuasa Allah. Bahkan kuasa maut atau kematian yang menjadi sengat iblis tidak sanggup menghentikan kuasa Yesus.

Allah dalam Kristus Yesus sebagai sumber segala kuasa dapat memberikan kuasa itu kepada setiap orang sesuai kehendak dan perkenanan-Nya. Kuasa itu diberikan, agar orang Kristen berbakti dan menyembah Tuhan. Kuasa itu menguatkan orang Kristen untuk sanggup melayani Tuhan dan sesama, bukan melayani kebutuhan dan kepentingan diri, kelompok dan golongan.

Orang Kristen tidak perlu mencari kuasa, sebab jika ia hidup dalam hubungan baik dan benar dengan Allah, jika ia menyembah dan melayani, maka Allah pasti memberi kuasa itu kepadanya. Orang Kristen pun tidak perlu mencari kemuliaan duniawi, sebab jika pelayanan dan pengabdiannya dimuliakan Allah, maka manusia pun pasti memujinya (Ams. 3:3-4).

Orang Kristen tidak perlu mencari popularitas atau kehormatan diri, sebab menjadi anak-anak Allah di dalam Yesus Kristus itu sendiri dan hidup dalam kebenaran-Nya adalah sebuah kehormatan. Orang Kristen juga tidak perlu memiliki mental “penjilat” dan “pengkhianat Iman” yang seringkali ada di sekitar kita dan jadi tawaran menggiurkan.

Orang kristen juga tidak perlu haus akan pujian atau kehormatan atau kekuasaan yang pada gilirannya meracuni diri dengan label “Penguasa”,” Yang terhormat dan termulia” lalu menempatkan orang lain sebagai kelas bawahan (subordinat) dan menindas mereka.

Memang godaan untuk jadi orang yang berkuasa dan menyalah-gunaan kuasa bisa datang kepada kita dalam rumah tangga, perkumpulan masyarakat, urusan-urusan politik, hubungan bisnis, dalam usaha berdagang, dalam menjalankan pemerintahan, dalam menata pelayanan bergereja dan dalam urusan-urusan yang berhubungan dengan semua masalah kehidupan.

Iblis selalu berusaha menyerang pada titik paling lemah dalam hidup kita tetapi kita memperoleh kekuatan manakala kita berkeputusan untuk menolaknya. Dan kekuatan yang menyanggupkan kita menolak segala godaan iblis terletak pada ketaatan mutlak Firman Allah dan ketetapan/keteguhan hati untuk menyembah hanya kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dalam hidup.

(Sumber : FB Elisa Maplani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *