MERAWAT ALAM SEBAGAI KETAATAN KEPADA ALLAH – 2 Raja-Raja 2:19-22

MERAWAT ALAM SEBAGAI KETAATAN KEPADA ALLAH

2 Raja-Raja 2:19-22

Bulan November ditetapkan oleh Sinode GMT sebagai Bulan Lingkungan.

Masalah air merupakan persoalan yang sudah lama digumuli. Ketika menjadi pendeta di Jemaat Besnam, Klasis Amanuban Timur, salah satu pergumulan yang sangat serius adalah kebutuhan air. Musim panas masyarakat sulit mendapat air bersih untuk konsumsi sehari-hari. Air minum harus dibeli 60 liter Rp. 10,000. Ada beberapa embung namun airnya tidak bisa dikonsumsi karena tidak sehat, sebab digunakan oleh semua makhluk hidup. Embung itu kering pada musim kemarau.

Mengapa terjadi krisis air? Ada beberapa alasan yang perlu diatasi (alasan yang lain bisa ditambahkan). Pertama, karena masyarakat tidak diajar untuk menampung, menyimpan air saat musim hujan. Kedua, peladang berpindah. Sistem bercocok tanam yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain secara bergiliran mengakibatkan mata-mata air mengering. Sanchez mendefinisikan peladang berpindah sebagai sistem pertanian dengan lahan bukaan sementara yang ditanami selama beberapa tahun kemudian dibiarkan untuk waktu yang lebih lama dari pada waktu ditanami. Peladangan berpindah dipraktikkan oleh berbagai kelompok masyarakat tradisional di seluruh daerah tropis seperti di Timor Barat, Amanuban.

Perladangan berpindah merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan yang mengakibatkan kekeringan. Pohon-pohon rimbun yang menyerap air menyimpannya dalam tanah di celah-celah perakaran, kemudian melepaskannya secara perlahan melalui daerah aliran sungai telah dibabat. Ketiga, masyarakat tidak merawat dengan baik embung-embung yang ada.

Untuk mengatasi krisis air tersebut, maka masyarakat perlu diajar untuk menanam air, menampung, menyimpan air hujan, merawat embung-embung yang ada, hentikan cara berkebun berpindah-pindah. Bagaimana mengelola satu kebun saja kebun produktif untuk ditanam dan menghidupkan kembali hutang lindung.

Cerita kita berbeda dengan cerita Elisa dalam bacaan ini, di mana air melimpah namun airnya tidak sehat.

Masing-masing jemaat bergumul dalam konteksnya. Ada jemaat yang air melimpah namun airnya tidak sehat karena limbah, penumpukan sampah plastik, penggunaan pestisida, bahkan air dari cucian piring dan pakaian yang ada di atas permukaan tanah, seperti air sungai, bisa berinteraksi air tanah lama kelamaan. Interaksi ini bisa merubah kondisi kedua air tersebut, dst.

Ada daerah yang dahulunya air melimpah namun kini kesulitan karena mata air yang ada sudah kering.

Krisis air bersih di kota karena over populatian. Tingginya laju pertumbuhan penduduk dunia yang berakibat pada makin bertambahnya kebutuhan akan ruang pemukiman, pertanian, industri perdagangan sehingga ruang untuk, limbah, sanitasi, pohon, hutan, dan tumbuhan makin menyusut sempit.

Dalam bacaan ini kita tidak diberi informasi tentang penyebab air Yerikho yang mematikan tersebut. Jika dalam konteks kekinian, dianalisis dari segi kesehatan air, maka air itu mengandung zat-zat berbahaya.

Kita akan belajar dari cerita singkat ini, di mana air yang mematikan diubah menjadi air yang menghidupkan yang dilakukan oleh nabi Elisa. Elisa melakukan hal itu untuk menegaskan kepada bangsa Israel bahwa ia adalah seorang nabi yang menggantikan Elia. Elia adalah nabi besar yang sangat disegani dan dihormati oleh orang Israel. Di zaman Perjanjian Lama seorang nabi Tuhan sering disertai dengan tanda-tanda mukjizat dari Tuhan untuk menunjukkan otoritas mereka dalam pelayanan yang dilakukan.

Ada dua hal yang kita belajar dari peristiwa ini:

Pertama, keadaan air di kota yang mematikan (Ay. 19). Letak kotanya dikatakan baik, dalam terjemahan Ibraninya artinya menyenangkan, menguntungkan dan bisa diterima. Kota Yerikho merupakan kota tertua dan juga kota terdingin di Palestina. Kota itu merupakan kota penghasil kurma.

Kota yang baik, namun airnya tidak baik karena dalam terjemahan Ibraninya, air yang jahat, buruk, sehingga sering ada keguguran bayi. Hal bisa berakibat pada keguguran bayi manusia maupun ternak ketika minum air tersebut. Itulah sebabnya dikatakan air yang mematikan. Dalam cerita ini air tersebut ada “kekuatan” yang membunuh kehidupan. Menurut E. G. Singgih, dunia diciptakan Allah berupa tatanan yang teratur menurut hukum alam. Dalam Alkitab Perjanjian Lama, menurut Singgih, entah bagaimana orang juga mengaku, dunia yang tidak teratur kacau balau ada juga dan berdiri mengancam kehidupan. Air dan kegelapan nampak akan menerobos keluar dari batas-batasnya.

Kedua, kehadiran Elisa mengubah air yang mematikan menjadi air yang menghidupkan (ay. 20-22). Elisa pergi ke mata air, ke sumbernya dan dilakukannya dengan kuasa Tuhan. Ia menyehatkan air dengan kuasa Tuhan, bukan dengan garam itu atau media tersebut. Setelah ia melemparkan garam di dalam air lalu berkata, “beginilah firman Tuhan” dst …… Artinya Tuhan berkehendak untuk memulihkan air itu, bukan garamnya. Tuhan memakai media yang sederhana yang ada di sekitarnya, yakni pinggan dan garam. Air itu kemudian menjadi air yang menyegarkan. Terjemahan Ibrani yaitu menyembuhkan, kini air itu menyembuhkan dan memberi kehidupan.

Dari cerita ini kita belajar bersama di bulan lingkungan dalam minggu ini:

Pertama, merubah kematian menjadi kehidupan adalah panggilan kita. Bekerja untuk menghadirkan kehidupan bukan hanya menegaskan status kehadiran sebagai pendeta, gereja, melainkan panggilan kita di tengah-tengah dunia ini. Hal itu yang dilakukan oleh Kristus. Rasul Paulus mengatakan bahwa status keilahian Kristus ditinggalkan untuk mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2). Ia rela mati untuk kita hidup karena itu kita jangan membuat orang mati karena Kristus. Elisa melakukan itu bukan hanya sekedar penegasan status, tetapi karena menyangkut kehidupan. Kita bisa memperhatikan nada Elisa dalam teks ini, ketika datang warga mengadu tentang air itu kepadanya, lalu ia mengatakan “ambillah,” adalah sebuah nada perintah untuk bertindak mencegah kematian.

Kedua, gereja hadir untuk merubah kematian menjadi kehidupan. Krisis lingkungan mengancam kehidupan manusia, ancaman nyata bagi generasi ke depan. Masifnya fenomena perubahan iklim membuat kondisi bumi rentan dari berbagai ancaman yang berisiko bagi jiwa manusia.

Dengan tercemarnya mata-mata air karena ulah manusia, maka mengancam kesehatan masa depan anak-anak kita. Gereja seperti Elisa yang hadir merubah ancaman kematian menjadi kehidupan. Tindakan nyata kita ialah menjaga lingkungan dari sampah plastik, para petani stop menggunakan pestisida dalam bertani, stop cara bertani yang berpindah-pindah, dst.

Ketiga, Tuhan menyediakan media yang sederhana untuk menolong manusia. Elisa menggunakan pinggan dan garam, tetapi bukan garamnya. Banyak orang salah mengimani, garam digunakan sebagai pengusir setan. Dianggap garam memiliki kuasa ilahi, padahal garam hanya sebagai perasa dan simbol. Dalam bacaan garam adalah simbol pentahiran, penetaral air tersebut. Elia pergi ke sumber air dan melemparkan garam dengan berkata: “beginilah firman Tuhan” artinya bahwa Tuhan yang mengubah air itu.

Kini kecanggihan teknologi membuat sesuatu yang dikonsumsi diuji, misalnya air yang dinyatakan sehat harus diuji di lab, dst. Hal itu tidak salah karena kini kita hidup dalam lingkungan yang tidak lagi “steril” sehingga teknologi adalah alat yang dipakai Tuhan untuk menolong manusia. Namun cara sederhana untuk menjaga kebersihan air adalah menjaga kebersihan aliran air, menanam banyak pohon, tidak membuat air cucian piring atau pakaian di sebarang tempat, apalagi mencuci pakaian di hulu sungai dan membiarkan air cucian mengalir.

Keempat, gereja dipanggil untuk melawan kuasa-kuasa alam, kegelapan, yang mengancam kehidupan manusia. Amin. (FN).

Selamat merayakan Bulan Lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *