MEREKA YANG DISEBUT PELAYAN DI GEREJA

MEREKA YANG DISEBUT PELAYAN DI GEREJA

Pdt. Frans Nahak

Para pelayan di gereja adalah mereka yang memangku jabatan dalam gereja, yaitu pendeta, penatua dan diaken. Mereka yang biasa disebut sebagai pejabat gereja. Sebenarnya Allah sendiri yang melayani dalam gereja-Nya, dan menempati tempat yang pertama serta tertinggi di dalamnya. Namun, Dia tidak tinggal di tengah-tengah kita sedemikian rupa sehingga kehadiran-Nya tidak dapat dilihat oleh mata kita. Oleh karena itu, Ia memakai manusia untuk memilih. Dalam Tata Gereja Masehi Injili di Timor mengatakan bahwa pemimpin gereja diberbagai lingkup adalah hamba Allah yang dipilih oleh Allah sendri. Dalam pemilihan, Allah melibatkan umat-Nya. Allah mengijinkan umat-Nya untuk menggunakan budaya pemilihan dalam masyarakat kita.

Istilah yang digunakan dalam Perjanjian Baru (PB) untuk menyebut pelayan atau pejabat gereja adalah “diakonos”. Yang sangat ditonjolkan dalam PB untuk memahami hakikat dan sikap jabatan gerejawi dalam pengertian diakonos adalah sikap dan sifat kerendahannya.

Dalam pelayanan Yesus bersama murid-murid-Nya, ada kesan bahwa murid-murid pernah bertengkar mengenai siapa yang terbesar di antara mereka tetapi Yesus menjawab mereka bahwa yang terbesar adalah mereka yang mempunyai kerendahan hati untuk melayani (Mrk. 9:33-37; Mat. 18:1-5; Luk. 9:46-47). Jadi yang memangku jabatan dalam gereja disebut pelayan yang tugasnya untuk melayani, bukan untuk memperoleh kedudukan.

Pelayan dalam gereja dipilih oleh Allah melalui warga jemaat untuk melaksanakan tugas khusus, yakni pemberitaan firman dan pelaksanaan sakramen. Dalam hubungan dengan itu, Luther mengatakan dua hal yang berkaitan dengan jabatan gereja. Pertama, jemaat Yesus Kristus yang hidup dari Injil tidak hanya memiliki otoritas dan kuasa, tetapi kewajiban untuk mengangkat atau menghentikan uskup, pendeta dan penatua untuk mengajar dan memerintah dalam gereja. Kedua, karena jemaat tidak mungkin hidup tanpa firman Allah dan juga tidak mungkin hidup tanpa pengajaran dan pengkhotbah, jemaat haruslah memilih orang-orang tetentu dari tengah-tengah mereka untuk ditetapkan sebagai imam agar tugas-tugas Hal ini menunjukkan bahwa warga jemaat memiliki otoritas tertinggi dalam kehidupan bergereja.

Para pelayan gereja adalah pemimpin dalam jemaat berdasarkan mandat yang mereka terima dari warga jemaat. Jika mandat itu ditarik kembali oleh jemaat, maka pejabat yang bersangkutan kembali menjadi warga biasa sama seperti warga jemaat lainnya. Sekalipun jabatan sebagai majelis dilepaskan namun fungsi sebagai garam dan terang terus melekat pada mereka untuk menjadi saksi-saksi Kristus. Jadi tidak perlu kecewa jika tidak terpilih lagi menjadi penatua.

Semua orang Kristen dipanggil untuk melayani, baik yang dipilih dan tidak terpilih, ditahbiskan menjadi pejabat gereja maupun yang tidak ditahbis. Menjadi warga jemaat bukan berarti menjadi orang Kristen kelas dua yang hanya mempercayakan pekerjaan rohani kepada para pejabat gereja. Amanat kerasulan itu diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk memberitakan kerajaan Allah baik secara rohani maupun jasmaniah.

Dalam menjalankan tugas pelayanannya, seorang pelayan mengatur waktu dengan baik agar semua warga dikunjungi. Pelayanan yang dilakukan harus secara merata kepada setiap orang sesuai dengan kebutuhan mereka. Mereka yang sakit perlu dilayani sampai memperoleh kesembuhan. Dalam melayani, seorang pelayan memberlakukan kasih setia Allah, yaitu meruntuhkan dinding pemisah dan membangun suatu persekutuan. Seorang pelayan adalah seorang pemersatu yang mengakui adanya kepelbagaian umat sebagai banyak anggota dalam sebuah keluarga Allah.

Tuhan Allah mengasihi semua orang sehingga Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa supaya saling mengasihi Aku telah mengasihi kamu (Yoh. 15:12). Allah di dalam Yesus Kristus mengasihi tanpa memandang latar belakang baik itu yang miskin maupun yang kaya, sasama suku atau yang beda suku. Kasih Allah inilah yang menjadi dasar untuk para pelayan gereja melayani tanpa membeda-bedakan.

Seorang pelayan berbicara dan bertindak atas perintah Yesus Kristus. Melalui pelayanannya, Tuhan sendiri melayani jemaat-Nya. Pelayan melayani atas dasar kasih seperti Tuhan Yesus Kristus telah mengasihi umat-Nya. Kasih Yesus menembus tembok-tembok pemisah yang dibuat oleh manusia bahkan menghancurkannya lewat kematian dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Alkitab menyaksikan bahwa ketika Ia menghembuskan napas terakhir di kayu salib, tabir Bait Allah terbelah dua (Mar. 15:38; Luk. 23:45; Mat. 27:51). Hal ini sebenarnya mau menunjukkan bahwa sekat-sekat pemisah yang dibuat oleh manusia di dalam gereja terbelah sehingga tidak ada pemisah antara yang kaya dan yang miskin, perempuan dan laki-laki, kecil dan besar, tetapi semua orang boleh datang kepada Tuhan dan mendapatkan pelayanan.

(Bahan percakapan dengan Majelis Periode yang lalu dan periode baru di Jemaat Besnam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *