PACARAN: SAMPAI DI MANA BATASNYA?

PACARAN: SAMPAI DI MANA BATASNYA?
Pdt.  Fransiskus Seran Nahak

PENGANTAR
Tulisan ini lahir dari pengamatan saya sebagai seorang muda yang lama tinggal di Oesapa. Hidup bersama pemuda dan pemudi di tempat kos-kosan. Saya juga terinpirasi dengan penelitian yang dilakukan oleh ibu Pdt. Yuliana Banunu, S.Th., Ketua Majelis Jemaat Diaspora Danau Ina-Oesapa, tentang HIDUP BERSAMA DI LUAR NIKAH di Jemaat Diaspora Danau Ina-Oesapa. Untuk dijadikan karya ilmih agar memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teologi pada Fakultas Teologi UKAW Kupang. Dari hasil penelitian yang diperoleh, bahwa banyak mahasiswa dan mahasiswi yang tinggal di kos-kosan bersama dengan pacar, selayaknya seperti suami dan isteri. Akibatnya banyak yang hamil kemudian diaborsi, dan lain sebagainya.

Topik seperti yang saya bahas ini juga sudah biasa diseminarkan di mana-mana.

Saya mengamati bahwa salah satu faktor yang menyebabkan para pemuda dan pemudi berpacaran selayaknya seperti suami isteri, karena kurangnya pemahaman terhadap arti dan cara berpacaran. Atas dasar dan pertimbangan itulah, saya membuat tulisan ini dengan segala keterbatasan pemahaman. Semoga tulisan ini menjadi berkat.

PENDAHULUAN
Saat seseorang meninggalkan masa kanak-kanak menuju ke masa remaja kemudia ke masa dewasa, ia akan melewati masa transisi yang disebut masa pubertas. Pada masa pubertas ini, ia mengalami perubahan secara biologis dan psikologis. Secara biologis, ditandai dengan perkembangan organ-organ tubuh, misalanya, pada wanita akan mengalami menstruasi sedangkan pada pria akan mengalami mimpi basah (wet dream). Perkembangan jasmani ini juga mempengaruhi perkembangan psikologis. Gejolak emosi seperti rasa senang, tidak senang, suka tidak suka, rasa benci tidak benci, relatif cepat berubah. Seiring dengan perkembangan biologis dan psikologis ini, kehidupan sosial remaja pun ikut berkembang, kerena timbulnya suatu kebutuhan berinteraksi dengan sesamanya. Dengan matangnya fungsi-fungsi seksuil, maka timbul pula dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan untuk pemuasan seksuil. Budaya kita tidak mengijinkan hubungan seksual di luar pernikahan. Karena itu, para remaja mencari pemuasan kepada khayalan, menonton film porno, dan lain sebagainya. Saat ini kemajuan teknologi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Kemajuan teknologi menyebabkan terjadinya perubahan pada kehidupan manusia dengan segala peradaban dan kebudayaan. Kemajuan tersebut memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, khususnya masyarakat dengan budaya ketimuran. Kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi seperti telivisi, telepon genggam (Handphone) dan internet memberikan kemudahan dalam mengakses informasi yang bernilai positif untuk menambah pengetahuan. Akan tetapi kemajuan teknologi juga membawa nilai negatif. Dengan mengakses media teknologi (internet), dapat menyaksikan berbagai tayangan yang berbau porno, dalam hal ini film dan foto-foto porno yang mengakibatkan terjadinya rangsangan seksuil.
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran orang lain untuk berinteraksi dan melengkapi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjuk kepada hakekat manusia, yaitu selalu hidup bersama dengan orang lain. Dalam kehidupan bersama itu, maka akan timbul rasa saling membutuhkan, saling menghormati, saling menghargai dan saling mencintai. Pemuda dan pemudi sebagai bagian integral dalam masyarakat tidak terlepas dari kebutuhan-kebutuhan tersebut. Pemuda dan pemudi juga sangat aktif dan interaktif dalam pergaulan, baik dengan sesama maupun lingkungannya. Dalam lingkungan pergaulannya, pemuda dan pemudi merupakan kelompok yang berani mengambil resiko, dan juga berani mencoba hal-hal yang baru yang bersifat menantang. Keadaan ini akan menimbulkan dampak yang positif. Namun ada juga dampak yang negatifnya ketika mereka kehilangan kendali.
Ada beberapa hal yang perlu dicatat sebagai masalah yang dihadapi oleh pemuda dan pemudi dalam berpacaran. Misalnya, pemuda akan masuk dalam tahap di mana mereka akan mempunyai rasa simpati pada lawan jenisnya, sehingga menemukan lawan jenis yang dianggap sebagai tempat “curhat” lalu berpacaran. Tahap ini merupakan tahap yang normal bagi pemuda dan pemudi. Namun pada tahap ini, pemuda dan pemudi yang berpacaran sering kali terjerumus dalam berbagai bentuk pergaulan bebas seperti: kumpul kebo, seks di luar nikah lalu hamil malu dengan orang-orang di lingkungan sekitar, takut dengan orang tua, atau laki-laki tidak bertanggungjawab dan akhirnya aborsi.

KONSEP PACARAN
Jika ditinjau dari segi sosial budaya, pacaran adalah sebuah fenomena kehidupan manusia yang sangat menarik dan menyenangkan. Pacaran itu adalah dorongan atau hasrat hati dari dalam diri yang sulit dibendung, yaitu dorongan untuk saling mencintai dan dicintai oleh orang yang berbeda jenis kelamin. Ada beberapa definisi tentang pacaran.
Pertama,    pacaran adalah proses pengenalan diri untuk memasuki jenjang perkawinan. Dalam proses tersebut, ada upaya untuk saling melengkapi, menghargai dan menghormati agar ketika melangkah memasuki rumah tangga, dapat melangkah dengan pasti.
Kedua,    pacaran adalah proses mempelajari, memahami dan menghayati kebiasaan masing-masing, kemudiaan berusaha untuk menyesuaikan diri. Di sini ada proses menghormati perbedaan masing-masing.
Ketiga,    pacaran adalah suatu proses membangun komitmen bersama mengenai masa depan. Dalam proses ini ada saling mengenal dan mengetahui cita-cita dari pasanganya. Lalu membangun komitmen untuk menggapainya, saling mendukung dan memberi motifasi.
Keempat, pacaran adalah proses membangun cinta kasih yang sejati. Di sini membutuhkan komitmen untuk saling setia antara laki-laki dan perempuan.
Maka dapat disimpulkan bahwa pacaran itu merupakan suatu proses menuju ke jenjang pernikahan. Masa pacaran inilah masa di mana pemuda dan pemudi saling mempelajari, agar ketika memasuki rumah tangga, dan jika terjadi benturan-benturan maka bisa diatasi bersama, agar cinta yang dibangun saat berpacaran terus mekar. Adahkah seorang laki-laki atau perempuan yang pernah berkhayal, bahwa masa depan perkawinannya hendak di bangun dengan tidak bahagia? Pernahkah terbayang di pikiran dari pasangan laki-laki maupun perempuan, ketika hendak mengambil keputusan untuk membangun sebuah rumah tangga bersama dengan lelaki atau perempuan idamannya, bahwa kelak hidup perkawinannya bagaikan di neraka? Mungkin tak terlintas sedikit pun di mimpi mereka, sebab sang calon isteri atau suami begitu diidolakan, simpatik, penuh kelembutan dan cinta, sejak awal mereka berkenalan, berpacaran, sampai berumah tangga yang ada hanya bunga-bunga asmara. Namun lama kelamaan bunga-bunga asmara itu berubah nenjadi bunga-bunga yang berduri. Tidak!! Di sinilah pentingnya pacaran sebelum menikah.
Orang berpacaran karena saling mencintai atau jatuh cinta. “Jatuh cinta berjuta indahnya”, begitulah kata orang. Ada baiknya kita memehami jenis-jenis cinta.
Pertama, Cinta Stergo, yaitu cinta secara spontan. Secara spontan merasa tertarik, ingin melindungi, merasa bertanggungjawab terhadap kesejahteraan seseorang. Misalnya kasih sayang antara keluarga.
Kedua,     Cinta Eros, yaitu daya tarik jasmaniah atau seksual yang timbul dari emosional. Cinta ini mudah berubah menjadi egois (mementingkan diri sendiri) kecuali berkaitan dengan cinta jenis lain, misalnya Philia.
Ketiga,     Cinta Philia, yaitu menyayangi secara tulus berdasarkan suatu hubungan yang saling melengkapi dan saling mengasihi antara dua orang sahabat.
Keempat,    Cinta Agape, yaitu cinta yang tanpa syarat, cinta yang berani berkorban dan mengorbankan diri, seluruh hati dan jiwanya dicurahkan kepada orang dikasihinya.
Cinta macam apa yang yang sementara kita jalani bersama pacar kita? Banyak pemuda dan pemudi salah mengartikan cinta. Banyak yang mengartikan cinta hanya sebatas seks. Akibatnya arti cinta itu dipersempit. Cinta hanya dipahami sebagai akumulasi dari hawa nafsu antara lawan jenis. Dengan alasan adanya dorongan biologis yang begitu kuat, banyak pemuda dan pemudi “kebabalasan”  dalam bepacaran. Di sisi lain sebagai orang-orang dewasa, dorongan seksual dari dalam diri laki-laki dan perempuan terus menerus tumbuh dan butuh penyaluran secara teratur. Kondisi seperti inilah yang mendorong pasangan pemuda dan pemudi yang berpacaran berpikir pendek dalam menjawab kebutuhan biologis, walaupun harus mengabaikan nilai-nilai agama, norma sosial dan nilai-nilai etika yang berlaku.

BAGAIMANA SEHARUSNYA BERPACARAN?
Apabila mengamati cara berpacaran pemuda dan pemudi masa sekarang, maka secara sosial budaya sangat memprihatinkan. Mengapa? Karena cara dan gaya berpacaran yang ditampilkan kian menjauh dari nilai-nilai sosial budaya dan keagamaan yang dijunjung tinggi seperti: rasa malu, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa segan dan sebagainya. Oleh karena itu, agar nilai-nilai budaya dan nilai-nilai agama tetap dijunjung tinggi dalam berpacaran, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi para pemuda dan pemudi yang sementara berpacaran atau yang mu berpacaran.
Pertama, Pahami dengan baik arti dan tujuan berpacaran sebelum memutuskan untuk berpacaran.
Kedua,     Tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa pacaran yang baik adalah kesempatan untuk saling mengasihi pribadi masing-masing.
Ketiga,     Carilah pacar yang menghargai, dan membantu untuk berkembang. Pasangan yang memiliki tujuan hidup yang jelas dan berusaha untuk mencapainya. Selain itu, ada hal prinsip yang perlu menjadi pedoman: mencari pacar yang seimbang, seiman, memiliki akhlak yang mulia, berwawasan dan peka.
Keempat,  Kalau berpacaran berusaha menghindari berduaan di tempat yang sepi, gelap, atau pacaran dalam kamar kos lalu pintu ditutup.
Kelima,   Pacaran harus terbuka atau dipublikasikan, maksudnya, harus diketahui oleh semua orang terlebih kedua orang tua dari pemuda dan pemudi.
Keenam,    Hindari pikiran dan keinginan mencoba-coba untuk melakukan hal yang tidak terpuji.
Ketujuh,     Buatlah komitmen yang tegas dengan pacar mengenai hal-hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Apabila dilanggar, ada sangsinya. Misalnya, ketika bepacaran, tangan pria meraba-raba bahu, leher lalu turun ke bagian bawah. Sering sang pacar melontarkan kata-kata yang mematikan seperti: kamu tidak akan hamil! Aku ingin membuktikan cintaku dan cintamu. Dalam hal ini seorang pacar harus berani berkata dengan tegas TIDAK!!
Kedelapan, Bila berpacaran gunakan kecerdasan yang berpusat di kepala,  yaitu akal sehat bukan nafsu.

PENUTUP
Pemuda dan pemudi adalah tulang punggung keluarga, gereja, bangsa dan negara. Berbagai kasus yang akhir-akhir ini terjadi, misalnya aborsi, bunuh diri karena hamil di luar nikah, HIV/AIDS, dan lain sebagainya, yang sangat memprihatinkan. Salah satu penyebabnya adalah karena pemuda dan pemudi tidak mampu menahan diri dari dorongan seksual dalam masa pacaran. Seks bukan satu-satunya cara untuk mengungkapkan cinta. Kalau seorang pemuda dan pemudi memahami cinta hanya sebatas seks maka akan mempersempit arti cinta yang sesuguhnya. Pengungkapan cinta melalui seks itu memang merupakan salah tujuan namun itu pada tempatnya dan ada waktunya. Segala sesuatu indah pada tempat dan waktunya. Jangan merusak masa depan karena kenikmatan sesaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *