PANDANGAN EMA TETUN TENTANG YANG TERTINGGI SANG PEMBERI BERKAT

PANDANGAN EMA TETUN  TENTANG YANG TERTINGGI SANG PEMBERI BERKAT

Pdt. Frans Nahak

Ada seorang teman saya, beberapa hari yang lalu menginbox saya meminta untuk menjelaskan tentang pandangan orang Belu (ema tetun), khususnya Belu Selatan (Kab. Malaka) mengenai yang ‘Tertinggi’.

Saya lahir dari keluarga pemegang rumah adat, tetapi ketika bergabung dengan satu kelompok doa membuat saya “bertobat”, dan melupakan cerita-cerita nenek moyang.

 Dengan segala keterbatasan saya menjelaskan baginya. Ada sepenggal doa yang diajarkan almarhum kakek saya, Martinus Bria, salah satu tokoh pemegang rumah adat dan penenun kain adat. Saya masih kecil biasanya menemani beliau menenun kain, supaya tidak mengantuk, almarhum menceritakan mitos orang Belu, dan pandangan orang Belu mengenai yang tertinggi kepada saya
Sepenggal doa yang saya tidak lupa.
Ama iha as ba, iha leten ba, iha dok ba, lolo liman la to’o hi’it ain la to’o.” (Bapa di atas sana, di tempat tinggi di tempat yang jauh, mengangkat tangan tidak sampai menjinjit kaki juga tidak sampai).

Orang Belu, mengenal Allahnya sebagai yang tertinggi, tidak bisa dijangkau. Ia berada di tempat yang tertinggi sebagai Sang Penerang dan Sang Pemberi berkat dalam hidup ini (mak fo matak malirin = yang memberi berkat, matak = mentah, malirin = dingin, sejuk, segar. Mak fo = yang kasih). Matak malirin itu seperti di pagi hari daun-daun yang masih hijau, segar dan dihiasi embun-embun yang dingin.

Jika sub etnis lain memandang Allah sebagai penerang identik dengan unsur panas, maka orang Belu memandang Allah sebagai Sang Pemberi penerang, dan berkat identik dengan unsur dingin. Unsur dingin itu seperti embun yang memberi kesejukan, kesuburan dan kesegaran dalam hidup. Artinya, berkat yang diberikan memberi kesegaran dan semangat, membuat orang berseri-seri.

 Dengan pandangan itu maka menuntut manusia untuk menghormati yang Tertinggi (Nai Maromak), baik terhadap Tuhan di langit (Ama Lalean), maupun Tuhan di bumi (Ina Rai) sehingga setiap kali panen jagung, manusia wajib memberikan persembahan (sesajen) di atas rumah (loteng), di mana ada dua tiang di situ. Tiang pertama disebut “Kakuluk Lor” (Tiang Agung depan) yang menunjukkan penghormatan kepada yang Tertinggi di langit dan tiang kedua “Kakuluk Rai” (Tiang Agung belakang) yang menunjukkan penghormatan pada Tuhan di bumi yang selalu menyediakan pertumbuhan atau berkat (Rai no isin=tanah ada berkat). Sampai saat ini, tiba musim panen jagung masih dilaksanakan upacara persembahan jagung (hamis batar)
Walaupun Allah di tempat yang tertinggi tetapi Ia juga ada di bumi “Ina Rai” dilambangkan dengan tiang agung belakang yang menunjukkan kepada Tuhan yang ada di bumi yang menyediakan pertumbuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *