PEMANDIRIAN JEMAAT NUNUHKNITI & SERAH TERIMA JEMAAT OELEON

HATI DAN PELAYANAN SEORANG ABDI ALLAH

IMG_727628 Juni 2016 lalu, ada hati yang tidak mau berpisah karena telah menyatu dengan pelayanan yang telah dirangkai selama empat tahun terakhir ini. 16 April 2012, Pendeta Aplonia Adolfina Kou, S.Th diutus Tuhan untuk memulai pelayanan di jemaat wilayah Oeleon, Klasis Amanuban Timur. Kini mereka boleh menikmati buah-buah pelayanan yang telah digumulkan selama periode pelayanan tersebut yang akan segera berlalu. Tangan Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja dan Pemilik Pelayanan yang tak terlihat itu ternyata terus berkarya melalui tangan para abdi-Nya dan gereja-Nya. Buah pelayanan itu segera nyata, jemaat-jemaat Oeleon yang terdiri dari lima mata jemaat itu (Betesda Oeleon, Betel Nunuhkniti, Tanuan Sena Upunkoi, Ebenhaeser Fatunapi dan Ebenhaiser Fatubuan) dalam sukacita boleh menyatakan kedewasaan mereka, mata jemaat Betel Nunuhkniti dinyatakan mandiri melalui SK Majelis Sinode GMIT Nomor: 417/GMIT/G/2016, sementara empat mata jemaat lainnya tetap menjadi jemaat bermata jemaat dengan tetap menggunakan nama ‘Oeleon’.

CIMG2391Tidak hanya itu, merekapun kini harus menerima kehadiran dua orang abdi Allah (Pdt. Aris Hendrikus Hormu, S.Th dan Pdt. Yanse Benu, S.Th), sebab melalui pengakuan kedewasaan tersebut, mereka juga rela menyerahkan kembali Pdt. Aplonia Adolfina Kou, S.Th kembali kepada MS GMIT untuk seterusnya ditempatkan di jemaat Haunomaten.

CIMG2376Buah-buah sukacita pelayanan ini disyukuri melalui kebaktian pemandirian dan serah terima yang dipimpin oleh Pdt. Wiliradith Maniley, S.Th, yang mendasarkan khotbahnya pada kitab Ulangan 4:1-14. Beliau dalam khotbahnya menekankan tentang bagaimana membangun pemahaman gereja, memperbaharui komitmen pelayanan dan persekutuan yang seturut dengan kehendak Allah sebagaimana reformasi yang dilakukan oleh Yosia (2 Raja-raja 22) dengan menggunakan kitab Ulangan ini. Karena itu Musa dipakai sebagai pembicara, seolah-olah bangsa Israel berada di perbatasan tanah Kanaan, sebelum mereka masuk dan menikmati rumah peristirahatan di bawah pohon ara, susu dan madu, mereka dingatkan kembali akan kemahakuasaan dan kepemimpinan Tuhan Allah. Hari ini kita (jemaat Oeleon, bahkan di klasis Amanuban Timur) berada di perbatasan, kini kita akan memulai satu sejarah pelayanan yang baru, pokok penting untuk diingat supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan kepadamu hanyalah jangan menambahi atau mengurangi apa yang Tuhan katakan, juga perintah itu harus diajarkan kepada anak cucumu. Nabi seperti Musa memang sudah tidak ada lagi dalam gereja, tetapi fungsi kenabian ini tetap menjadi tugas gereja. Karena itu juga gereja jangan sampai terjatuh menjadi nabi palsu yang memalsukan firman Tuhan dengan menambahi atau menguranginya sebab jika itu yang terjadi sama dengan kita membangun menara babel yang pada akhirnya menuju kepada kehancuran.

Fungsi kenabian gereja itu harus tetap melekat yaitu menegur/mengkritisi yang salah, tetapi serentak dengan itu gereja juga harus menjalankan fungsi membangun, tidak saja secara iman tetapi juga secara fisik sehingga kehidupan baik secara social masyarakat, adat dan budaya, pemerintah maupun gereja betul-betul terpelihara dan memuliakan Tuhan. Bukan sibuk baku uji, baku gigit dan baku cakar. Pesan beliau mengakhiri khotbahnya.

Kebaktian dilanjutkan dengan natoni/tuturan adat untuk melepaskan dan menyambut para abdi Allah dan keluarganya, sesi ini berlangsung dalam tangisan keharuan seluruh jemaat, peserta dan undangan. Selanjutnya diberi kesempatan kepada tiga orang abdi Allah yang datang dan pergi itu untuk membuka isi hati mereka bagi jemaat Tuhan dan pelayanan-Nya.

“Ini semua hanya karena Tuhan Yesus”, ungkapnya di tengah tangis keharuan mengawali sepatah dua kata dalam kegiatan perpisahan. Lanjutnya, ketika datang pertama, saya datang dalam banyak perasaan, senang karena Tuhan ijinkan melayani, juga perasaan cemas dan bimbang, karena segala sesuatu baru bagi saya, apalagi dengan medan pelayanan yang cukup menantang bagi seorang perempuan seperti saya, tapi dalam kenyataannya, semua orang, semua medan telah menjadi sahabat bagi saya.

Sepanjang kebersamaan tersebut mungkin ada dinamika yang terjadi, dengan menyimpan banyak rasa, pada kesempatan ini saya memohon maaf dan biarlah di pelayanan yang baru selanjutnya tidak menjadi penghalang, semua yang baik yang pernah terjadi biarlah terus berlanjut. Saya percaya jemaat ini sudah benar-benar dewasa dalam banyak segi, ini membanggakan dan ini perkara yang indah dengan Tuhan, karena itu mari terus bersama bersekutu dalam pelayanan yang Tuhan telah karuniakan bagi kita, bagi rekan sekerja yang baru di tempat ini, Pdt. Hendrikus Aris Hormu dan Pdt. Yanse Benu, supaya kedewasaan itu itu menjadi nyata.

Terima kasih banyak untuk keluarga, basodara jemaat Tuhan yang mendukung saya sepanjang pelayanan saya di sini, terlebih yang selalu bersama saya di pastori, bapa Marten, mama Rido, bapa Yusuf dan mama, ucap beliau mengungkapkan terima kasihnya. Selanjutnya di tempat yang baru (Haunomaten) pasti saya akan memulai segala sesuatu baru seperti empat tahun lalu saat pertama datang ke sini. Mohon dukungan doa bapa mama jemaat Tuhan di sini, harap beliau mengakhiri sepatah dua kata dalam perpisahan tersebut.

IMG_7286Sementara Pdt. Aris, sambil menyampaikan terimakasih kepada KMK Amanuban Timur dan Jemaat Oeleon yang dengan tangan terbuka menerima kehadirannya untuk melanjutkan tongkat estafet pelayanan tetap berharap semangat pelayanan yang sama biarlah terus ada dalam periode pelayanan selanjutnya melalui kerjasama dari berbagai pihak untuk pembangunan gereja Tuhan dan kemuliaan nama-Nya.

IMG_7287Selanjutnya pdt. Yanse, memulai sambutannya dengan meminta ‘sedikit ruang di hati para umat Tuhan di Nunuhkniti’ ungkapnya meragu. Saya mungkin baru datang, saya tidak bisa seperti pdt. Ina, saya adalah saya yang juga datang dengan tugas yang sama seperti pdt. Ina. Mungkin saya tidak bisa menggantikan tempat pdt. Ina di hati umat Tuhan sekalian, tapi harapan saya: ‘mari jalan bersama-sama, jalan berdekat-dekatan, sebab jalan sendiri akan gampang jatuh, ungkapnya mengutip sebuah syair lagu sekolah minggu…, beliau mengakhiri sambutannya dengan memohon ijin untuk beberapa waktu ini masih akan menyelesaikan urusan pernikahannya di Soe.

IMG_7291Camat Fautmolo, Bpk. Welem Toto, ketika diberi kesempatan menyampaikan sambutannya, beliau menegaskan bahwa kehadiran pendeta adalah untuk menata pelayanan, persekutuan dan membangun iman, pemekaran ini akan membantu pemerintah yang adalah mitra kerja gereja untuk bagaimana mengurangi persoalan-persoalan pemerintah dan gereja seperti pendidikan, kesehatan, dan masalah social lainnya seperti human trafficking, KDRT, dll. Kami tetap meminta dukungan dan kerjasama gereja untuk mendoakan, mengawasi dan menegur kami apalagi sekarang ini di desa pengelolaan dananya sudah mencapai milyaran rupiah.

Saya atas nama masyarakat dan pemerintah menyampaikan terimakasih atas dukungan dan koordinasi selama empat tahun lebih, maaf jika selama ini ada kesalahan tetapi yang lebih penting dari itu adalah mari kita saling mendoakan untuk melayanan di Nunuhkniti dan Oeleon lebih baik dan memuliakan Tuhan, pungkas beliau mengakhiri sambutannya.

IMG_7292Mengakhiri sesi sambutan ini, Ketua Majelis Klasis Harian, Pdt. Saneb Y. E. Blegur, S.Th, memulai dengan menyatakan sukacita karena kedewasaan iman yang telah nyata di jemaat Oeleon ini, terbukti dengan pemandirian, bahkan berani melepas ibu pdt. Ina yang telah banyak memberi kontribusi pembangunan iman dan fisik bagi mereka. Kata kuncinya adalah: kepiting Timor yang tidak bisa diikat itu ternyata bisa diikat kalau sudah tahu mau-maunya, ungkap beliau mengutip ilustrasi khotbah sebelumnya.

Ibu pdt. Yanse dan bapak pdt. Aris, kalian ketika diutus lalu, itu dengan tarian Trinitas, tentu saja dalam tarian itu pasti ada perbedaan, tetapi jangan keluar dari barisan tarian itu, sebab jika itu terjadi, akan hilang maknanya. Sebagaimana Kristus menari bersama umat-Nya di tengah-tengah bumi ini, mari nyatakan itu…,

Ibu mantan KMJ yang kini akan melanjutkan pelayanan sebagai KMJ di Haunomaten juga Ketua FKUB di Fautmolo, jangan lepaskan tangan dari proses menari bersama pemerintah, jemaat dan teman-teman sepelayanan, buka hatimu, pahami mereka, jangan paksa mereka secara manusiawi, arahkanlah mereka sesuai dengan Firman Tuhan.

Selamat datang, selamat melayani, mari kita menari bersama-sama dalam suka dan duka. Oeleon dan Nunuhkniti, namamu kini akan di sebut di seantero Amanuban Timur, sebab sejak saya hadir dan melayani di Amanuban Timur ini, semua orang berkata bahwa tidak aka nada lagi jemaat mandiri selain Nazareth Oeekam, kini sambil memandang kepada Tuhan Yesus Kristus saya menyatakan kita patut berbangga dan bersukacita, karena pernyataan ini sudah tidak benar lagi. Tegas beliau mengakhiri sambutannya.

IMG_7273Kegiatan pemandirian dan serah terima ditutup dengan acara makan bersama dan berjabatan tangan antara para abdi Allah, jemaat Tuhan, pemerintah dan keluarga pendeta yang hadir saat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *