PENGAJARAN KETELADANAN – TITUS 2:1-10

PENGAJARAN KETELADANAN

TITUS 2:1-10

PENGANTAR

Ada sebuah adagium yang mengatakan bahwa “cara terbaik untuk mengubah orang lain adalah mengubah diri kita sendiri”. Artinya bahwa “keteladanan” dari diri kita merubah orang lain. Adagium ini disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, tokoh pahlawan pendidikan Indonesia. Untuk mendukung adagium itu Dewantara, menggunakan ungkapan dalam bahasa Jawa dengan tiga istilah. Pertama, Ing Ngarso Sun Tulodo, yang artinya menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi bawahan atau anak buahnya. Kedua, Ing Madyo Mbangun Karso, yang artinya seorang pemimpin di tengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat kerja anggota bawahannya. Ketiga, Tut Wuri yang artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Tut wuri handayani ialah seorang komandan atau pimpinan harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Yang pada intinya bahwa seorang pemimpin harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi panutan bagi bawahan atau anak buahnya.

Namun dalam kenyataannya menurut Laurentius Tarpin, bahwa bangsa ini mengalami degradasi moral karena sedikit banyak dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang selama ini kita terapkan. Sistem pendidikan yang kita anut terlalu menekankan aspek intelektualitas, tetapi kurang memperhatikan pendidikan budi pekerti, pendidikan nilai, dan pembentukan karakter serta tanggung jawab sosial. Akibatnya para lulusan hanya memiliki keunggulan akademik, tetapi miskin budi pekerti, buta nurani, miskin karakter, dan tidak memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Kurikulum yang kita pakai itu cukup berat dan hanya berorientasi pada pengembangan ranah kognitif belaka. Sedangkan ranah afeksi dan psikomotorik hampir tidak mendapat perhatian yang sewajarnya. Oleh karena itu, banyak orang pintar secara akademik, namun sedikit orang menjadi teladan moral dan teladan sosial. Kita bisa melihat contoh di sekitar kita, bagaimana penyelenggara negara, politikus, akademisi bahkan para pemimpin agama. Setiap hari kita mendengar berita tentang korupsi, perselingkuhan, KDRT, kekerasan terhadap anak, saling membunuh, dst.

PEMAHAMAN TEKS

Surat Titus ditulis oleh rasul Paulus sekitar tahun 61 dan 63 M. Surat ini ditulis selama masa perjalanan pemberitaan Injil di Roma dan pada saat ia dalam penjara. Surat ini adalah salah satu surat penggembalaan atau surat pastoral Paulus. Disebut surat pastoral karena membahas tentang masalah yang berkaitan dengan peraturan gereja dan pelayanan di dalamnya. Titus adalah anak rohani Paulus. Titus berasal dari Antiokhia yang melayani di Korintus dan Kreta.

Kreta pada umumnya terkenal sebagai orang-orang yang suka bergolak dan sulit dikendalikan, seperti yang dikatakan Paulus. Banyak orang yang hidup tidak tertib (1:10). Kemudian ia mengatakan bahwa “Dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas” (1:12). Latar belakang ini berdampak dalam pelayanan jemaat dan akan membuat perkembangan Injil di Kreta terancam.

Oleh karena itu bagi Paulus, pertama, tanggung jawab utamanya seorang Titus adalah memberitakan dan mengajarkan ajaran yang sehat (1:9, 13, 2:1). Pemakaian kata biasanya di dalam surat-surat penggembalaan, yang senantiasa dikaitkan dengan pengajaran, menunjukkan penekanan Paulus pada pentingnya doktrin yang benar.

Kedua, walaupun Titus seorang yang masih muda namun dia sebagai seorang gembala yang harus memberikan teladan. Permintaan ini juga terdapat di dalam surat pastoral yang lain (bdk. 1 Timotius 4:12). Di mana rasul Paulus meminta kepada Timotius yang muda untuk menjadi teladan. Kepada Titus, Paulus meminta agar jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaran, sehat dan tidak bercela. (ay. 7 – 8). Mengapa? Kepada Timotius, Paulus mengingatkan agar orang tidak menganggap dia masih muda, kemajuan secara rohani, menyelamatkan dirinya dan juga menyelamatkan orang lain (1 Tim. 4:15-16). Sedangkan kepada Titus, Paulus mengingatkan supaya orang tidak menganggap rendah sebagai orang muda (ay. 15).

Ketiga, menolong jemaat untuk mengerti tanggung jawabnya. Baik sebagai orang tua, pemuda dan hamba yang melayani tuan. Paulus seperti biasanya memberikan petunjuk-petunjuk praktis. Petunjuk bagi jemaat untuk menjadi teladan di dalam masyarakat. Baik kepada pemerintah, maupun dalam hubungan sosial antara satu dengan yang lain. Petunjuk – petunjuk praktis sebagai berikut:

Pertama, orang laki-laki yang tua, umumnya menunjuk pada usia yang lanjut atau tidak muda lagi, berpengalaman dan disegani. Laki-laki tua haruslah hidup sederhana artinya bersahaja, sopan, tidak menonjolkan diri, rendah hati. Dari bahasa Yunani “Nefalios” diartikan “mampu menahan diri”. Terhormat: mulia, tulus hati. Bijaksana: arif, cerdas, budiman. Sehat dalam Iman, kasih dan ketekunan: menunjuk pada kondisi yang stabil kehidupan rohaninya, hidup dalam keteguhan hati yang sungguh.

Kedua, perempuan-perempuan yang tua, menunjuk pada perempuan-perempuan yang lanjut umur dan memiliki banyak pengalaman hidup. Mereka harus hidup sebagai orang-orang beribadah: hidup yang pantas dan layak seperti orang-orang kudus atau saleh, menjaga kelakuan yang baik. Jangan memfitnah: jangan menjelek-jelekkan sesama, mencemarkan nama baik seseorang, penabur perselisihan, penghasut. Jangan jadi hamba anggur: tidak minum anggur, diperbudak oleh anggur. Cakap mengajar hal baik: dapat memberi bekal, teladan pengajaran iman yang baik dan benar terutama kepada perempuan-perempuan yang muda.

Kedua, perempuan yang muda menunjukkan pada perempuan yang sudah menikah, tinggal bersama suami dan anak-anak. Mengasihi suami dan anak-anak artinya memberi perhatian penuh pada suami dan anak-anak, memberi cinta kasih yang tulus apa pun keadaannya. Hidup bijaksana: dapat membedakan mana yang baik atau tidak baik untuk dilakukan, arif dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi dalam keluarga. Suci artinya tetap menjaga kekudusan diri sendiri dan keluarga. Rajin mengatur rumah tangga yakni menata secara rutin apa yang harus dikerjakan di rumah. Baik hati: murah hati, manis dan sopan. Taat pada suami: menghormati suami sebagai kepala keluarga, tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan (bdk. Efesus 5:22).

Ketiga, orang muda, yaitu orang yang belum menikah, usia remaja dan pemuda. Mereka harus menguasai diri dalam segala hal yaitu mampu menolak tawaran dan godaan duniawi, identitas diri sebagai orang percaya dipertahankan apa pun situasi yang dihadapi. Titus sebagai orang muda dinasihati Paulus untuk jadi teladan, sebab pengajarannya akan tidak berhasil apabila dia sendiri tidak memiliki sikap yang baik dalam perilaku maupun pengajarannya. Dia harus Jujur yaitu murni menyampaikan setiap pengajaran yang datang dari Allah. Bersungguh-sungguh dalam pengajaran: tidak setengah-setengah ataupun lalai mengerjakan tugas mengajar firman untuk jemaat, bertanggung jawab penuh. Sehat dan tidak bercela dalam pemberitaan: pengajaran yang benar, tidak menyimpang dari kebenaran Allah.

Keempat hamba-hamba, yaitu “seseorang yang dimiliki atau dikuasai oleh orang lain, tidak mendapat upah, melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga”. Majikan dapat melakukan sekehendak hatinya pada budaknya, termasuk dapat menjualnya pada orang lain. Mereka dinasihati agar taat kepada tuannya dalam segala hal, jangan membantah, jangan curang, selalu tulus dan setia maksudnya harus memiliki sikap hidup yang benar-benar mengabdi dan melayani serta, menyenangkan hati tuannya, serta tidak berpura-pura.

PENUTUP

Renungan:

Pengajaran yang sehat tidak hanya pengajaran membuat orang pintar seacara akademik, tetapi pendidikan yang membentuk karakter serta tanggung jawab sosial. Tahun 1990-an, di bangku pendidikan formal kami masih dapat Pendidikan Budi Pekerti, Pendidikan Moral Pancasila, namun apakah kurikulum di kurikulum “merdeka belajar” masih adakah pelajaran budi pekerti? Tanggal 10 Juni 2023, Majelis Guru Besar Perguruan Tinggi Badan Hukum mengusulkan agar pendidikan karakter, budi pekerti, dan Pancasila masuk dalam kurikulum di jenjang sekolah SD hingga perguruan tinggi. Dengan mengembalikan pendidikan karakter, budi pekerti dan Pancasila sejalan dengan revolusi mental Presiden Jokowi. Program ini menjadi kesadaran bagi para pendidik untuk menjadi teladan bagi anak didik.

Dalam bacaan ini Paulus mengingatkan Titus tentang mengajarkan ajaran yang sehat, doktrin yang benar. Ajaran yang sehat adalah ajaran yang membentuk karakter seseorang dalam berprilaku baik dalam masyarakat.   Keteladanan itu melalui kejujuran dan bersungguh-sungguh dalam pengajaran, sehat dan tidak bercela (ay. 7 – 8). Seorang pelayan menjadi contoh bagi jemaat yang dipimpin, baik melalui tutur kata dan perbuatan.

Ada sebuah cerita yang diceritakan oleh guru sekolah minggu saya. Ceritanya demikian:

Ada seorang anak sekolah minggu yang membawa seekor kucing kesayangan yang sakit ke pendeta untuk mendoakannya. Ketikan anak ini sampai di rumah si pendeta, si pendeta sibuk sehingga tidak bisa melayani anak ini. Namun, si anak tetap duduk di ruang tamu sambil menggendong kucing kesayangannya. Pendeta marah melihat anak ini karena lama tidak mau pulang. Lalu pendeta ini memanggil anak ini datang membawa kucingnya. Si pendeta mengajak anak  ini berdoa untuk kucing. “Tuhan, kami serahkan kucing ini ke dalam tangan-Mu, mau hidup atau mati ada dalam tangan-Mu, amin,” demikian bunyi doa si pendeta. Setelah itu si anak pulang dengan membawa kucingnya. Hari minggu, si pendeta tidak bisa memimpin kebangkitan karena sakit. Sehabis kebaktian, si anak, pemilik kucing itu, ke pastori untuk mendoakan si pendeta. Ia langsung menuju ke tempat tidur si pendeta yang sementara berbaring. Si pendeta sadar anak ini telah meletakan tangannya di atas kepala pendeta. Lalu dia berkata kepada pendeta bahwa ia hendak mendoakan pendeta.

“Tuhan, kami serahkan pendeta ke dalam tangan-Mu, dia mau mati atau hidup ada dalam tangan-Mu, amin.” Demikian bunyi doa si anak, sesuai dengan doa pendeta kepada kucing yang sakit beberapa hari yang lalu. Dari cerita ini memberi pesan kepada kita bahwa seorang pelayan menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya. Dari pelayan mereka belajar.

Pengajaran yang menyentuh hati adalah teladan hidup yang baik. Khotbah yang hidup adalah hidup menjadi teladan, baik sebagai orang tua, ibu-ibu, orang muda, tuan dan hamba. Sebagai pimpinan gereja, guru di sekolah, politikus, tokoh adat dan tokoh masyarakat. Sebagai pengikut Kristus, walaupun lingkungan di mana kita berada kita sulit menemukan figur yang menjadi teladan, maka gereja yang adalah saya, dia dan kamu harus memberikan teladan, Keteladanan adalah kewajiban para pengikut Kristus, amin. FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *