PENGAJARAN MENUNTUN KEPADA KEBIJAKSANAAN – Mazmur 119 : 97 – 112

PENGAJARAN MENUNTUN KEPADA KEBIJAKSANAAN

Mazmur 119 : 97 – 112

PENGANTAR

Salah suku di Selandia Baru yakni suku Maori adalah suku yang sangat ditakuti, sebab jika mereka menemukan orang maka akan dimakan (kanibal). Suku ini berdiam di pedalaman hutan. Suatu kali kepala suku bersama beberapa anak buahnya berburu binatang liar di hutan. Di tengah hutan kepala suku ditinggalkan sendirian dalam hutan. Ia tersesat berhari-hari. Rasa lapar dan berdahaga membuatnya tak berdaya. Ia pingsan di tengah hutan. Sekelompok penginjil menemukan si kepala suku ini. Ia dibawa ke satu desa yang orang-orangnya telah mengenal injil. Orang-orang dalam kampung ini memperlakukan dia dengan sangat ramah. Ia dilayani dan akhirnya ia menerima Injil. Ia dilatih untuk menjadi penginjil. Setelah dilatih berbulan-bulan, kemudian ia diutus ke kembali kampungnya. Ia pulang dengan membawa sebuah Alkitab di sakunya. Ketika tiba di kampungnya orang-orang sesukunya menyambutnya dengan sebuah perayaan. Dalam perayaan tersebut ia bersaksi tentang keselamatan ia peroleh melalui isi dalam Injil, yaitu Kristus. Semua orang dalam kampung itu menjadi percaya kepada Kristus. Kini ia menjadi pemimpin yang bijak dan sangat dihormati. Suatu kali sekelompok penjelajah alam tersesat di dalam hutan. Kelompok ini tidak percaya akan adanya Tuhan. Mereka berhari-hari dalam hutan dan sampailah di kampung dari kepala suku ini. Mereka dihantar ke kediaman si kepala suku. Di ruangan tamu ada beberapa buah Kitab Suci. Salah seorang dari penjelajah melihat Kitab-kitab Suci ini lalu ia tertawa dengan sinis dan kawan-kawannya yang lain ikut tertawa. Si kepala suku diam. Setelah mereka duduk, si kepala suku yang telah bertobat mengambil salah satu Kitab lalu berkata kepada mereka, “jika bukan karena isi dari buku ini, kamu semua telah menjadi daging.” Para penjelajah ini dilayani dengan ramah dan diberi tumpangan.

Dari cerita ini kita dapat menyimpulkan bagaimana firman Tuhan merubah si kepala suku dan merubah orang-orang dalam kampungnya. Injil merubahnya, dahulu menjadi “pemangsa” manusia kini menjadi orang yang berguna bagi sesama.

Dari cerita ini menghantar kita pada pembahasan teks.

PEMBAHASAN TEKS

Mazmur 119 merupakan kumpulan hikmat karena memberikan nasihat hidup yang membimbing manusia berjalan dalam kebenaran Allah. Mazmur ini berisi tentang renungan Taurat yang dipuji sebagai anugerah Tuhan yang paling berharga. Nada pengajaran terdengar dalam mazmur ini. Pemazmur bermaksud mengajak orang lain untuk mengikuti jalan yang serupa dan menyadarkan bahwa Taurat Tuhan memberi kebijaksanaan yang merupakan pelita menuntun hidup (ay. 105).

Jika kita membaca ayat 97-112 mengandung otoritas Ilahi yang memberikan pemahaman dan memberikan didikan kepada manusia untuk menjadi manusia yang benar dan bijaksana.

Ada tiga pokok penting dalam bacaan ini: Pertama, menjadi lebih bijaksana (ayat 98), Kedua, lebih berakal budi (ayat 99), Ketiga, lebih berpengertian (ayat 100).

Pertama, lebih menjadi bijaksana. Ayat 97 memulai dengan ungkapan cinta, hasrat, kekaguman terhadap Taurat Tuhan, yang dialami pemazmur. Cinta kepada Taurat Tuhan adalah dasar yang membuat seseorang untuk terus berkomunikasi dengan Allah melalui firman-Nya. Kata “kucintai” dalam terjemahan bahasa Ibrani “ahab” yang artinya asmara, kasih kepada Allah, kasih sayang. Love, lovely, lovers, love gifts. Istilah “ahab” memberikan pengertian sebagai yang mencintai, di dalamnya seseorang menyukai, atau yang sangat ia inginkan. Ini menyiratkan kecenderungan atau semangat yang berkobar-kobar untuk berjumpa, merenungkan Taurat Tuhan. Obat dari kerinduan akan Taurat Tuhan hanya dengan membaca Taurat Tuhan dan merenungkan.

Hubungan yang akrab antara pemazmur dan Allah tampak pada aktivitas yang senantiasa merenungkan Taurat Tuhan. Pemazmur menggunakan kata “merenungkan”. Kata ini dalam bahasa Ibrani siyhati dari kata dasar siychah yang artinya bisa merencanakan sesuatu, bersemedi atau meditasi. Menenangkan pikiran dan bertemu dengan Tuhan dalam perenungan Taurat Tuhan. Di dalam perenungan dan meditasi menemukan hikmat dan kebijaksanaan.

Karakter hidup orang yang bijaksana adalah orang yang mampu mengelola keadaan. Kata “bijaksana” dalam terjemahan Ibrani memakai kata techakameni, yang artinya adalah suatu pengertian, pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi. Kemudian memiliki kemampuan untuk menerapkan, penilaian dan perbuatan sesuai pengertian tersebut. Hal ini sama dengan hikmat karena sinonim hikmat ialah kebijaksanaan, kecerdasan, akal budi, akal sehat, kecerdikan. Orang yang berhikmat adalah kemampuan membuat akhir yang sempurna dan mencapai akhir itu melalui cara yang sempurna. Dapat disimpulkan bahwa hikmat artinya memberikan tuntunan. Sedangkan “kebijaksanaan” artinya dapat melakukan yang baik, adil dan yang benar. Pemazmur meyakini bahwa ia menjadi lebih bijaksana, oleh karena cinta akan Taurat Tuhan dan setiap hari hatinya condong kepada Taurat-Nya. Hidupnya di terangi oleh kebijaksanaan karena Taurat Tuhan.

Dengan demikian, setiap orang yang sedia dipimpin, dikuasai, dikomandoi oleh perintah-Nya akan memperoleh kebijaksanaan. Bijaksana dalam segala hal, sebab roh yang di dalam manusia dan nafas yang Mahakuasa itulah yang memberikan manusia kebijaksanaan. Sikap bijaksana yang diperoleh oleh karena perintah Tuhan membuat manusia takut dan menghormati Tuhan sebagai pencipta langit dan bumi. Pemazmur dengan penuh kekaguman mengatakan bahwa hanya perintah Tuhan yang mampu membuat manusia menjadi lebih bijaksana bahkan melebihi segala musuh. Bijaksana mampu bertindak berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh di masa lalu secara khusus pengalaman dalam firman Tuhan. Kebijaksanaan menolong manusia mampu menempatkan diri di dalam segala keadaan. Dengan mempelajari dan mempraktikkan perintah-perintah Allah, dan menjadikannya sebagai pemandu (ay. 105). Pemazmur belajar untuk bersikap baik secara bijaksana dalam semua caranya. Jadi, kebijaksanaan yang dimiliki oleh pemazmur karena bergaul dengan firman Tuhan. Kebijaksanaan yang bersumber dari Allah membuat pemazmur lebih cerdas daripada musuh-musuhnya (ay. 88) atau mungkin mereka yang menjadi pengajarnya.

Kedua, lebih berakal budi. Pemazmur dalam hidupnya mengalami banyak pergumulan dari orang-orang fasik yang senantiasa mencela hidupnya. Ia diperhadapkan dengan orang-orang yang menghina Taurat Tuhan. Namun prinsip pemazmur untuk senantiasa mencintai taurat-Nya memberikan pengertian dan kedewasaan. Istilah pengertian dalam teks ini menggunakan kata berakal budi (ay. 99).

Kata “berakal budi” dalam bahasa Ibrani tisecalty kata kerja yang menyatakan sebuah sebab akibat. Frasa “berakal budi” berasal dari dua kata “akal” dan ”budi”. Kata “akal budi memberikan peneguhan yang jelas kepada sesorang untuk memiliki sikap dan tindakan yang sehat dan menentukan. Bagi pemazmur, Taurat Tuhan itulah yang membuat seseorang menjadi pribadi yang berakal budi, memiliki watak yang baik, pikiran yang sehat dan kemampuan memahami keadaan. Akal budi menolong umat Tuhan berjalan dalam kehendak Tuhan. Dalam ayat 99 ini tampak sebuah fakta bahwa akibat merenungkan peringatan Tuhan membuat pemazmur lebih berakal budi dari semua pengajar.

Ketiga, lebih berpengertian. Hidup sebagai umat Allah memiliki tantangan, hal itulah yang dialami pemazmur. Kata “mengerti” dalam bahasa Ibraninya “etbonan” yang artinya saya memiliki, memegang pengertian. John M. Echols memberikan pengertian kata “understanding”. Pemazmur menyadari bahwa hanya titah Tuhan yang mampu membuatnya lebih mengerti dari semua pengajarnya. Lebih mengerti artinya lebih dewasa, lebih memiliki pengalaman. Istilah “Titah-Mu” dalam terjemahan bahasa Ibrani menggunakan istilah “piqquwd” yaitu ajaran, petunjuk, pedoman, statua undang-undang, hukum. Merupakan kata benda dalam bentuk jamak yang tertuju pada titah Allah. Dengan demikian, Taurat Tuhan memberikan keunggulan yang lebih dari semua pengajar. Ungkapan semua pengajar mengacu kepada dosen, guru, instruktur, mentor, pelatih, pembimbing, pendidik, pengasuh, penyuluh. Teks ini sangat jelas memberikan pemahaman baru bagi semua orang bahwa Taurat Tuhan yang membuat manusia menjadi lebih dewasa. Penekanan utama ialah mengutamakan Taurat Tuhan sebagai sumber pengetahuan dan pikiran yang baik. Mungkin secara intelektual guru lebih berilmu, tetapi belum tentu lebih dewasa, berpengertian dari seorang yang hidup bergantung berdasarkan peringatan-peringatan Allah.

Kemampuan untuk memahami kehendak Allah ialah melalui pengertian yang terdapat di dalam Taurat Tuhan. Sebab Taurat Tuhan membuat umat Allah memiliki pemahaman, dan kemampuan untuk mempertimbangkan segala hal dengan baik. Taurat Tuhan memberikan penerangan hidup kepada umat agar senantiasa memandang kepada firman-Nya.

Istilah “aku beroleh pengertian” dalam terjemahannya artinya memahami, melihat dengan jelas, screening, consider mempertimbangkan, memperhitungkan, memikirkan perasaan orang lain, menganggap, memandang. Pengertian itulah yang membuat seseorang lebih mempertimbangkan, memikirkan perasaan Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Dengan demikian, Titah Tuhan adalah dasar utama pemazmur membenci segala jalan dusta. Maka dalam ayat ini tampak sebuah akibat seorang yang hidup berdasarkan titah Tuhan akan melahirkan sebuah komitmen untuk membenci semua hal yang tidak disukai oleh Allah.

PENUTUP

Renungan:

Dalam memperoleh kebijaksanaan maka seseorang harus bergaul karib dengan Tuhan sebab Tuhan adalah Kebijaksanaan itu sendiri. Bergaul karib dengan Tuhan dalam doa dan merenungkan firman Tuhan. Orang yang beriman adalah orang meluangkan waktu untuk bermeditasi, berdoa, merenungkan firman Tuhan. Kita sibuk melayani, sibuk memimpin ibadah, sibuk mendoakan orang, namun kita tidak ada waktu untuk mendoakan diri dan keluarga. Bergaul karib dengan Tuhan dalam meditasi, doa, membaca firman Tuhan membuat kita bijak dalam mengatasi berbagai persoalan. Kebijaksanaan diperoleh dari pengalaman kita bergaul karib dengan Tuhan.

Orang yang pintar secara ilmu belum tentu bijak, sebab orang yang bijak memiliki kemampuan untuk menerapkan apa yang dia tahu. Bijak sinonim dengan hikmat yang artinya memberikan tuntunan sedangkan kebijaksanaan artinya dapat melakukan yang baik, adil dan yang benar. Dapat memilih mana yang baik, bermanfaat untuk masa depan dan yang benar. Jadi kita berbicara tentang bijak dan hikmat pertama-tama tidak menekankan pengetahuan teoritis, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa orang memiliki gelar sarjana bijak dan berhikmat. Banyak orang pintar secara ilmu di repulik ini, namun sedikit orang bijak dan berhikmat. Banyak orang pintar yang ada di dalam penjara karena korupsi. Mereka pintar korupsi dan pintar membohongi rakyat dengan janji yang manis. Pintar menjadikan rakyat atau jemaat untuk memperoleh jabatan. Orang bijak dan berhikmat karena bergaul dengan Tuhan, bijak menolong orang kecil, menepati janji (ay. 106) dan tidak memanfaatkan orang kecil untuk kepentingannya. Orang bijak berjalan dan bertindak dalam terang firman Allah. Kata ayat 105 “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Pendidikan formal mengisi otak. Memiliki pengetahuan lebih merujuk kepada kemampuan intelektual, namun orang yang bergaul karib dengan Tuhan membuatnya dewasa dan berpengertian. Di sini kita membutuhkan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan juga dewasa serta berpengertian. Dewasa bersikap dan berpengertian dalam pengambil keputusan. Namun dalam bacaan ini, yang dimaksud dengan dewasa dan pengertian memiliki moral dan watak yang baik.

Tantangan bagi pendidikan formal dan pendidikan dalam gereja (sekolah minggu, katekasasi, dll.) juga pendidikan dalam keluarga. Bagaimana pendidikan yang membentuk moral dan watak generasi milineal dalam menghadapi perkembangan tekonologi pasar moderen, kebutuhan hidup? Sebab teknologi dan pasar moderen yang melahirkan kebutuhan-kebutuhan baru, mengikis moral dan bisa merubah watak pengikut-pengikut Kristus. Oleh karena itu, pendidikan yang berlandaskan Kitab Suci adalah hal penting bagi generasi masa kini. Jika mereka mengakar kuat dalam pengajaran firman Allah yang sehat, maka mereka tidak gampang dirubah melainkan mereka yang merubah dunia sesuai dengan kehendak Tuhan.   (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *