PENGAKUAN AKAN TUHAN YANG MAHA ESA

PENGAKUAN AKAN TUHAN YANG MAHA ESA

Pdt. Frans Nahak

Setiap tanggal 1 Oktober segenap anak bangsa merayakan sebagai hari Kesaktian Pancasila.

Secara sepintas kita dapat mengatakan bahwa gambaran manusia menurut Pancasila merupakan suatu mahkluk yang mono-pluralis, maksudnya makluk serba dimensi tetapi merupakan satu kesatuan yang utuh. Manusia serba dimensi itu sebagai mahkluk Tuhan, sebagai pribadi sekaligus sebagai mahkluk sosial. Tertuang dalam lima sila mulai dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa kita sebagai dasar dari segala sila.

Tuhan adalah realitas yang pertama, akan tetapi dalam kesadaran yang eksplisit yang kita tidak mengerti-Nya. Dalam kesadaran dan pengertian kita, yang kita sentuh pertama adalah alam jasmani yang ada di sekitar kita. Bahkan, manusia pertama kali menyadari diri dalam kesatuannya dengan dunia ini atau kita memakai istilah filsuf Martin Heidegger bahwa manusia hidup dan bertindak selalu dalam hubungannya dengan dunia. Manusia tak dapat dipikirkan tanpa dunia. Dunia di sini bukan dalam arti lokal, melaikan merupakan dimensi dalam diri manusia. Manusia dengan dunia merupaka kesatuan struktural, merupakan socius (sahabat) satu sama lain. Akan tetapi hidup manusia itu tidak hanya berupa “In-der-Welt-Sein”, melaikna juga “Liebendes Mit-Sein” atau berada “bersama sesama manusia” sebagai  “aku” bersama “aku yang lain” atau sebagai “pribadi” yang otonom bersama “pribadi yang lain” atau sebagai “pribadi” dengan “pribadi” itu merupakan pengalaman pertama dan paling utama dalam hidup manusia di dunia ini. Barulah setelah itu kita kenal dunia non-manusia, entah alam sekitar atau bukan Tuhan pencipta kita. Sebab baru setelah manusia sadar bahwa dirinya serba terkait, serba tergantung pada dunia ini dia sadar akan adanya yang mutlak, yang disebut Tuhan. Kesadaran manusia sebagai mahkluk Tuhan atau sebagai ciptaan mendasari kodrat manusia menurut Pancasila.

MANUSIA SEBAGAI SUBYEK OTONOM

Manusia saling meng “aku”i sebagai pribadi/persona, dan persona tak bisa dijadikan obyek, tidak boleh disamakan dengan barang, tidak boleh disamakan dengan binatang melainkan di “aku”i sebagai subyek otonom. Di samping itu berdasarkan kesadaran bahwa manusia merupakan satu kesatuan jiwa-badan, maka hanya manusia yang merupakan totalitas. Di sini manusia menyadari bahwa dua momen dalam dirinya sebagai jiwa dan badan, yang kedua-duanya harus selalu menjadi kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Dalam kesadaran inilah manusia dapat melakukan refleksi bahwa berkat badan manusia adalah bagian dari alam semesta tetapi berkat jiwa rohaninya ia melampauinya. Jiwa rohaninya yang membedakan manusia sebagai suatu totalitas dengan segala sesuatu lainnya dalam alam semesta. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jiwa rohani itu merupakan kekhususan dan menempatkan manusia sebagai pribadi. Dan sebagai pribadi manusia menyadari dirinya sebagai subyek yang dihadapkan dengan dunia luar sebagai obyek.

Sebagai obyek ia memiliki kepribadian yang mengatasi men-‘transendir” dunia luar, alam sekitar. Seekor hewan ditentukan oleh nalurinya dan tidak dapat berbuat lain dari pada yang telah ditentukan oleh nalurinya. Akan tetapi seorang  manusia yang nerupakan subyek  bermartabat pribadi/persona, ia dapat mengatasi alam sekitar dan tidak dideterminasikan oleh nalurinya. Manusia sebagai pribadi menurut Max Scheler tidak mungkin dijadikan obyek.  Manusia begitu otonom dan individual sehingga tidak dapat diulangi dan tidak ada duanya di dunia ini. Manusia adalah individual yang bersifat rasional yang karena ia mempu menyadari bahwa dunia merupakan salah satu alat untuk menyempurnakan pengetahuan dan mengembangkan dirinya menuju kesempurnaan.

Manusia sebagai pribadi atau subyek ia menyadari akan adanya dunia luar maka ciri khas manusia adalah eksistensi artinya: keluar dari diri sendiri terbuka terhadap dunia luar. Terbuka tidak hanya mengenal dan mengetahui dunia tetapi mengelolahya, mengaturnya dengan baik, kreatif, agar di satu pihak manusia makin berkembang dunia semakin memiliki derajat.

Manusia merupakan salah satu mahkluk yang sanggup mempribadi artinya menjadi mansuia yang paripurna. Manusia yang mampu mempertanggungjawabkan segala tindakannya segala kebebasannya. Kemerdekaan bahkan keterbatasannya sendiri. Manusia yang pripurna adalah manusia yang memiliki dirinya sendiri dalam kemerdekaan, tetapi dalam waktu yang sama tunduk secara sukarela kepada Tuhan sebagai nilai yang tertinggi. Dengan semikian mansia sebagai subyek otonom berkepribadian moral, manusia yang hidupnya disatukan dengan tujuan moral, nilai tertinggi akan dilayaninya.

MANUSIA SEBAGAI PRIBADI SOSIAL

Refleksi kita belumlahlah lengkap kalau perenungan kita hanya sampai kepada manusia hanya merupak subyek yang otonom ; tetapi masih harus menyadari diri akan adanya sesuatu yang “bukan aku”, namun martabat derajat dengan “aku”, inilah disebut dengan sesama. Umumnya disebut “aku-engkau”.

Dalam hungan antar “aku” dengan “aku lain” atau antara “aku” dengan “engkau” maka manusia satu sama lain bertemu dalam taraf yang sama, dalam taraf sebagai saudara. Pertemuan sesama yang sama derajat dan sama taraf terjadi dalam ruang dan waktu dalam kesatuan sosial. Kalau pria dan wanita menikah membentuk satu keluarga itu merupakan satuan sosial yang terkecil, maka kesatuan organisasi masyarakat yang terbesar adalah negara. Dalam negara manusia sebagai sesama dalam menangani urusan bersama untuk menjamin kesejateraan umum atas dasar persamaan hak dan kewajiban.

Manusia dan masyarakat bukan dua realita yang asing satu sama lain, yang saling mempengaruhi dari luar,  melainkan membentuk horizon, dinamis dalam hubungan yang dealektif. Saling memajukan memperkembangkan. Sebab itu kemajuan manusia bukan hasil seseorang melainkan hasil kerja sama manusia. Maka manusia dan masyarakat merupakan dua momen dari satu realita hidup manusia, sebab kedua momen tersebut saling melengkapi atau komplementer. Inilah salah satu dimensi fundamental dari kehidupan manusia, yaitu bahwa manusia adalah mahkluk sosial. Struktur manusia itu dalam tindakannya selalu membutuhkan sesama. Manusia itu pada dasarnya tak hanya “koeksistens” melaikna juga “kooperans”. Koeksistens dan kooperasn adalah dua unsur esensial dalam hidup manusia.

MANUSIA SEBAGAI CIPTAAN TUHAN

Mansuia secara horizontal  dalam hubungannya dengan sesama manusia dan barang-barang lainnya. Akan tetapi dalam dimensi horizontal itu manusia memiliki dimensi vertikal. Manusia sebagai ontologis terbatas kemampuannya, cara manusia berdiri sendiri atau sebagai subyek tidak sempurna karena itu manusia tergantung kepada seuatu yang lain yang dapat menjaminnya yang di atas melebihi segalanya yaitu Tuhan Penciptanya.

Yang Mahaada atau Tuhan dalam istilah Karl Jaspers disebut “Transendensi”. Hubungan manusia dengan yang Transendensi itu akan membuat manusia menjadi eksistensi yang sungguh-sungguh. Manusia cukup tenang jika menjalin hubungan yang akrab dengan Yang Tertinggi. K. Jaspers mengatakan bahwa yang menjamin eksistensi manusia adalah Yang Transendensi. Max Sheler meyebut sebagai “yang ilahi”.

Sang penjamin eksistensi adalah Tuhan Yang Maha Esa. Pengakuan kita bahwa manusia Indonesia tergantung pada Tuhan Yang Maha Esa, ada kita ada karena diciptakan oleh Sang Maha Ada. Dan Dia itu adalah Tuhan kita. Dia yang memberi jaminan atas kehidupan kita dan masa depan bangsa ini. Tuhan Pribadi Yang Maha Sempurna. Manusia dalam ketidaksempurnaan menjalin hubungan dengan Sang Maha Sempurna, Ia akan menjamin dan memilihara ketidaksepurnaan manusia. Hubungan manusia akan sepurna memuncak ketika manusia menjalin hubungan dengan Yang Maha Sempurna.

Setelah pemilu tahun 2019 berbagai gejolak yang terjadi dibangsa ini. Namun Tuhan terus memilhara bangsa ini karena pengakuan kita bersama tentang Ketuhanan Yang Maha Esa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *