PENTINGNYA PENGAJARAN -PDT. FRANS NAHAK

PENTINGNYA PENGAJARAN

LUKAS 10:38-42

Bagi kita yang telah dinyatakan lulus sekolah minggu tentu kita menghafal nyanyian ini:

“Dua orang bersaudara

Maria dan Marta

Yesus datang menumpang Diri di rumah mereka

Maria duduk di kaki Yesus

Marta Sibuk melayani

O…. Marta e….2x

O Sio Marta e….”

Setelah kami menyanyikan lagu ini dua kali di bangku sekolah minggu, seorang anak tiba-tiba berkata, “kasian Marta e”. Anak tersebut sepertinya sangat prihatin dengan si Marta yang sibuk di dapur sedangkan Maria duduk manis menunggu kapan dipersilakan untuk makan.

Jika ada acara-acara di kampung mereka yang biasa kerja di dapur menamakan diri mereka Marta. Mereka adalah kaum ibu dan beberapa orang laki-laki muda yang bisa membantu ibu-ibu. Adat ema Tetun yang kerja di belakang adalah anak mantu entah dia laki-laki atau perempuan. Siapa-siapa yang duduk di depan bersama tamu? Tua adat, orang yang dituakan, mereka yang berpendidikan dan memiliki jabatan. Itu kebiasan turun temurun hingga saat ini.

Dalam cerita ini Yesus dan murid-murid singgah di rumah Marta dan Maria. Bagi Marta dan Maria, Yesus bukan orang baru dan juga bukan orang biasa-biasa. Yesus adalah Tuhan, Guru, dan sahabat mereka, kedekatan mereka dengan Yesus membuat Yesus sangat mengasihi mereka (baca: Yesus membangkitkan Lazarus Yohanes 11). Yesus singgah di rumah Marta tidak memberitahukan terlebih dahulu kepada Marta dan Maria.

Marta adalah tuan rumah karena dikatakan bahwa Marta menerima Dia di dalam rumahnya (ayat 38). Maria duduk di kaki Yesus, sedangkan Marta sibuk melayani. Mengapa demikian? Pertama, sesuai dengan kultur budaya kuno salah satu kebajikan yang sangat perlu adalah keramah-tamahan, kesopanan dalam melayani bahkan membasuh kaki para tamu yang hendak masuk di dalam rumah. Kedua, secara status sosial Marta itu adik, bdk: “ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus” (Yoh. 11: 1 & 5). Ketiga, hal yang lazim terjadi jika ada tamu keluarga maka ada anggota keluarga yang duduk menemani tamu dan ada yang kerja di dapur. Marta sebagai adik dan juga sebagai tuan rumah pasti sibuk di dapur menyiapkan makan atau minuman untuk menjamu tamu. Saat itu tentu bukan hanya Yesus dan 12 muridNya yang singgah di rumahnya Marta, tentu ada juga pengikut-pengikut Yesus yang turut serta sebab ketika Yesus pergi ke mana-mana banyak orang yang mengikuti Dia. Keadaan ini tentu akan menyebabkan siapa pun sebagai tuan rumah pasti sibuk menyiapkan konsumsi untuk melayani tamu-tamunya, bahkan bisa jadi ada rasa kuatir dari tuan rumah tentang segala sesuatu yang disiapkan. Jadi apa yang dilakukan oleh Marta adalah hal yang wajar.

Yang menjadi sorotan dalam cerita ini adalah sikap dari kedua perempuan ini, Maria duduk di kaki Yesus mendengarkan Yesus, sedangkan Marta sibuk melayani. Karena kesibukannya Marta membutuhkan bantuan, namun ia tidak langsung datang dan meminta bantuan kepada Maria. Ia datang menghadap Yesus, supaya Yesus memberhentikan pembicaaran-Nya agar Maria bisa mengalihkan perhatiannya kepada persiapan jamuan atau Yesus yang menyuruh Maria membantu adiknya. Nada Marta seperti mau mengalihkan perhatian Yesus dari pokok pembicaraan kepada jamuan “Tuhan, tidakkah Engkau Peduli,” dan perintah “suruhlah dia membantu aku.”

Yesus tidak mempersalahkan Marta, namun Ia mempersoalkan dua hal dalam diri Marta dalam persiapan pelayanannya, yakni kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara. Kuatir berarti cemas dengan keadaan, yakni ada persoalan yang dialami oleh seseorang yang kemungkinan sulit diatasi. Marta mengalami hal ini di dapur. Menyusahkan diri dengan banyak perkara bisa disebabkan karena dia memikirkan banyak hal, banyak menu, banyak orang, serta apa yang perlu disediakan bagi mereka. Soal ini tidak menjadi panjang jika Marta melayani dengan apa yang ada, karena secara tiba-tiba Yesus singgah tentu tidak ada persiapan untuk menjamu mereka.

Yesus berkata kepada Marta, Maria telah memilih bagian yang terbaik duduk di kaki Yesus mendengarkan-Nya. Dalam tradisi Yahudi sikap duduk di bawah kaki seorang guru adalah sikap penghargaan dan penghormatan. Kata mendengar ditulis ekouen artinya mendengar terus menerus. Kerinduan dan keseriusan Maria mendengar pengajaran Yesus adalah sebuah pilihan dari segala kesibukan dan rutinitas manusia. Sebuah pilihan dari pilihan-pilihan yang lain. Pilihan seseorang adalah privasi yang tidak bisa diganggu oleh orang lain apalgi dilarang.

Dari cerita Marta dan Maria kita bisa belajar beberapa hal dalam bulan pendidikan minggu ini:

1. Kesibukan membuat kita lupa duduk sejenak belajar, baik itu belajar firman Tuhan, membaca buku dan belajar mendengar. Kita sibuk mengurus pelayanan di gereja, di kantor, melayani sesama, hal itu baik, namun yang terbaik adalah meluangkan waktu sejenak untuk mendengar apa kata Tuhan melalui doa dan pembacaan Alkitab. Bunda Teresa mengatakan bahwa manusia secara esensial membutuhkan dua sisi yang saling melengkapi dan menyempurnakan yakni sisi fisik manusiawi dan sisi rohani spiritual.

2. Mengajar anak-anak untuk saling membantu tanpa memandang status sosial atau derajat dalam keluarga sejak dini, sehingga ketika mereka dewasa bisa mengubah kondisi dalam masyarakat di mana yang melayani adalah mereka yang statusnya lebih rendah.

3. Mengajarkan anak-anak agar melayani menggunakan apa yang ada bukan apa yang tidak ada. Makan apa yang ada, bukan apa yang tidak ada.

4. Mengajarkan anak-anak untuk membagi waktu  belajar bersama.

5. Bisakah kita sama-sama melayani di dapur dan sama-sama duduk mendengar pengajaran? Selamat mendengar pengajaran dan selamat melayani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *