PERSEMBAHAN YANG HARUM – Kejadian 8:15-22

PERSEMBAHAN YANG HARUM

Kejadian 8:15-22

Pengantar

Sebuah tradisi yang biasa dilakukan oleh para petani di Timor (Amanuban Timur) yaitu sebelum makan jagung muda mereka terlebih dahulu membawa jagung ke gereja, satu ikat  untuk setiap kebun. Selain itu, mereka juga membawa sayur-sayuran yang ditanam saat musim hujan. Walaupun sudah dibawa ke gereja, namun anggota keluarga yang ikut mengerjakan kebun belum bisa makan jagung muda dan sayur-sayuran tersebut sebelum mereka mengadakan ibadah syukur “makanan baru”. Tradisi ini biasa dikenal dengan istilah onen penmate (doa jagung muda).

Mengapa demikian? karena ada kepercayaan dibalik ini. Menurut cerita, jika mereka melanggar tradisi ini mereka akan mengalami musibah atau yang dikenal dengan su’at. Misalnya, binatang yang masuk merusak tanaman di kebun, tantangan yang dialami oleh keluarga atau sakit penyakit. Setelah onen penmate keluarga bebas mengambil jagung dan sayur-sayuran untuk diolah sebagai makanan sampai kepada panen. Setelah panen, kepala keluarga memisahkan hulu hasil untuk dibawa ke gereja saat syukur Pentakosta. Kemudian jagung yang lain disimpan di rumah bulat (ume kbubu). Dibeberapa keluarga, jagung sebelum disimpan di ume kbubu, mereka mengundang penatua untuk berdoa. Hal yang sama juga akan dilakukan ketika jagung diambil dari ume kbubu untuk diolah menjadi makanan.

Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan penghormatan orang timor terhadap jagung (mitos moen mese dan feot mese) dan juga merupakan ungkapan syukur mereka kepada Tuhan. Di  sini kita menemukan sebuah titik temu antara iman Kristen dan tradisi orang Timor yang perlu dirawat. Berkat adalah pemberian Tuhan yang harus dirawat dengan penuh ungkapan syukur kepada Tuhan. Namun ada titik pisah, sebab menurut teologi Kristen persembahan yang dibawa kepada Tuhan adalah bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan, bukan untuk “menyogok” Tuhan agar kita terhindar dari musibah. Sedangkan menurut tradisi onen penmate membawa persembahan jagung ke gereja  “supaya”  manusia terhindar dari musibah, tetapi menurut iman Kristen Tuhan “sudah” menolong sehingga persembahan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan.

Syukur panen yang biasa dilakukan oleh para petani di pedalaman Timor biasanya pada saat kebaktian syukur Pentakosta (Pentakosta kedua). Setiap kepala keluarga membawa hulu hasilnya ke gereja. Ada gereja-gereja tertentu dalam kebaktian syukur diadakan pesta syukur panen dengan jemaat. Hal ini dilatarbelakangi dari alkitab Perjanjian Lama (PL). Pentakosta dalam PL adalah festival panen di antara orang Yahudi, juga sering disebut Pesta Minggu (Kel 34:22) karena ada satu minggu di antara tujuh minggu dan Paskah. Dalam Perjanjian Baru umat Kristen merayakan sebagai hari raya pencurahan Roh Kudus dan syukur panen.

Pembahasan Teks

Setelah Nuh meninggalkan bahtera itu, ia mempersembahkan korban kepada Allah. lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan (ay. 20). Di sini pertama kalinya disebutkan mezbah. Perkataan mezbah diambil dari perkataan Arab medszba yang artinya suatu panggung tempat pemotongan. Nuh mempersembahkan korban bakaran, di mana korban terbakar semua di atas mezbah itu. Menurut F.L. Bakker, ini ibarat sebuah penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Sebuah bentuk ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas keselamatan mereka saat air bah. Rasa syukur inilah yang mendorong Nuh memberikan kurban bakaran yang harum di mata Allah (ay. 21). Allah menyatakan janji-Nya untuk tidak lagi mengutuk bumi dan menghancurkannya. Ia berjanji akan memelihara bumi dengan berbagai hal yang baik. Misalnya melalui berbagai musim yang akan dilalui manusia (ay. 22).

Tuhan mencium persembahan Nuh yang harum, di sini Tuhan digambarkan seakan-akan sebagai seorang manusia yang menerima persembahan. Persembahan Nuh menyenangkan hati Allah dan doanya didengar oleh Allah, karena itu Tuhan Allah berfirman kepada Nuh (ay. 21). Hal ini bukan menunjukan kehebatan Nuh, melainkan semata-mata karena rahmat-Nya. C. Barth mengatakan bahwa Nuh adalah salah satu tokoh yang mencerminkan pengasihan Allah dengan cara yang khusus. Ia adalah manusia yang bergaul dengan Allah dan mendapat kasih karunia Allah (6:8). Melalui Nuh kehidupan baru muncul dan rencana keselamatan Allah terlaksana (Barth, 2001: 84).

Pemulihan yang Allah lakukan mengingatkan kita pada cerita penciptaan. Angin yang dihembuskan Allah (ay. 1) senada dengan Roh Allah yang melayang-layang (Kej. 1:2). Perintah untuk berkembang biak dan bertambah banyak (ay.17) tampaknya mengulangi perintah Allah yang sama saat menciptakan manusia (Kej. 1:28). Pemulihan lewat Air Bah ini boleh dikatakan menjadi cerita penciptaan ulang. Peristiwa pemulihan ini juga mengingatkan kita akan peristiwa Pentakosta. Gerrit Riemer mengatakan bahwa gejala alam dalam peristiwa Pentakosta berupa angin menjelaskan arti Roh secara tetap. Angin itu sendiri tidak dapat dilihat, tetapi membuat pohon dan rumput bergerak. Ruah adalah energi, kekuatan, dan kekuasaan. “Nafas” yang membuat makhluk-makhluk (manusia dan binatang) hidup. Jadi, Roh adalah energi, kekuatan atau kekuasaan yang tidak dapat dilihat, tetapi yang efektif untuk melakukan atau menggerakkan sesuatu, baik di tingkat yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.

Janji Allah tidak akan menghukum manusia dengan air bah bahkan tidak akan mengutuk bumi lagi, jadi bumi yang sekarang bukan bumi yang terkutuk. Keputusan yang diambil Allah untuk tidak lagi mengutuk bumi selagi bumi masih ada. Tidak akan berhenti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, musim hujan dan musim kemarau, siang dan malam. Perputaran alam tidak akan lagi diganggu oleh sebuah malapetaka seperti air bah. Siang dan malam dan musim-musim akan berganti dengan teratur dan tidak terputus. Perjanjian Allah dengan Nuh sering disebut perjanjian alam, oleh karena yang dibicarakan di dalamnya ialah penjagaan keturunan manusia terhadap bahaya-bahaya dari alam dan kutukan (Kej. 3:17).

Penutup

Hari ini kita merayakan syukur Pentakosta sekaligus syukur panen. Ada beberapa hal yang menjadi perenungan kita.

Pertama, Roh Kudus telah dicurahkan sepenuhnya kepada umat-Nya. Janji penyertaan Allah digenapi melalui kehadiran Roh Kudus, di mana Yesus berjanji bahwa Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Oleh karena itu, dalam ibadah syukur Pentakosta ini kita bersyukur kepada Tuhan bahwa Allah yang kita percaya Allah selalu menempati janji-Nya. Manusia suka mengingkar janji; pacar suka ingkar janji, para politisi mengingkar janji namun Tuhan tidak mengingkar janji karena itu serahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Apa yang kita mau berikan kepada Tuhan yang tidak pernah mengingkar janji itu? Pasti persembahan yang terbaik, harum, yang hendak kita persembahkan kepada Dia.

Kedua, air bah telah menghapus segala kutuk dosa  (Kej. 3) dengan bencana alam yang menakutkan, namun di dalam Yesus Kristus Allah menebus semua ciptaan dengan kasih yang tak menuntut balas.

Kini kita hidup dalam janji Allah itu bahwa “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” Allah di dalam Yesus adalah Allah yang menurunkan hujan, menerbitkan matahari kepada semua orang dan semua ciptaan. Karena itu hari ini kita membawa hulu hasil jagung ke rumah Tuhan sebagai tanda syukur atas janji tersebut. Musim panas Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk membersihkan kebun dan menyiapkan bibit, musim hujan kita menanam dan Tuhan menyiram tanaman kita. Musim dingin kita melihat kacang-kacangan kita bertumbuh, berbunga dan berbuah. Musim panas kita menuai. Siang untuk kita bekerja dan malam kita beristirahat. Marilah kita bersyukur!

Ketiga, kita membawa persembahan ke rumah Tuhan bukan “supaya” Tuhan membebaskan kita dari su’at melainkan “karena” Tuhan telah membebaskan kita dari segala musibah. Roh Kudus akan menuntun kita di kebun, di jalan, di rumah, dan di mana saja kita berada.

Keempat, persembahan yang harum di hadapan Tuhan adalah bukan pemberian untuk “menyogok” Tuhan tetapi pemberian sebagai ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan. Persembahan yang harum adalah mempersembahkan totalitas hidup kita kepada pimpinan Roh Kudus untuk bersaksi tentang kebenaran. Selamat bersyukur! FN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *