RAWAT PERSATUAN DI TENGAH PERBEDAAN – EFESUS 4:1-16

 

RAWAT PERSATUAN DI TENGAH PERBEDAAN

Efesus 4 : 1 – 16

PENDAHULUAN

Presiden Sukarno pernah berucap: “biarlah berbagai bunga bertumbuh dan berkembang dalam taman sarinya Indonesia”. Keberagaman (diversity) tak dapat dipungkiri merupakan sebuah kondisi yang sudah terjadi (given) di bumi dan tanah air Indonesia. Keberagaman itu dapat terdeteksi dalam budaya, suku, ras bahasa, agama, geografis, vegetasi, orientasi politik dan hierarki sosial dalam masyarakat.

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kelompok suku dan bahasa, misalnya Ambon, Timor, Batak, Papua, Jawa, Dayak, Bugis, Makassar, China dan Arab serta ditambah dengan beribu suku bangsa yang kecil, yang bermukim di wilayah-wilayah terpencil. Agama dan kepercayaan pun juga beragam. Ada beberapa agama besar di Indonesia, yang mengikuti kriteria agama Samawi, negara hanya meresmikan lima agama, yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Buddha. Pada pemerintahan K. H. Abdurahman Wahid, Kong Hu Cu diakui pula sebagai agama. Masih ada lagi agama-agama suku yang sampai saat ini masih dianut oleh suku-suku tertentu. Setiap agama itu tidak tunggal tetapi ada banyak aliran atau denominasi di dalamnya. Di mata dunia, Indonesia berhasil merawat perbedaan ini. Khususnya NTT dijuluki sebagai Nusa Terindah Toleransi.

Namun perbedaan terkadang menimbulkan konflik antar sesama sebagai anak bangsa. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, kita bisa menyebut beberapa diantaranya: Pertama, tidak adanya sikap saling menghargai, toleransi. Kedua, sikap etnosentrisme yaitu menonjolkan kelebihan budayanya dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain. Ketiga, kesenjangan sosial. Kesenjangan pemerataan pendapatan, kesempatan kerja, pelayanan kesehatan, kesenjangan pembangunan antar daerah menyebabkan kecemburuan sosial. Keempat, perbedaan pilihan politik. Kelima, orang luar, bangsa lain yang hendak mengadu domba karena kepentingan tertentu.

Di minggu kedua bulan kebangsaan ini, tema perenungan kita adalah Rawat Persatuan di Tengah Perbedaan.

PENJELASAN TEKS

Sidang pembaca di Efesus bukan hanya orang beriman keturunan Yehudi (diaspora) (Ef.2:1-4.11-13;3:1-2;4;17) melainkan orang beriman non Yahudi. Sidang pembaca bergerak dalam alam pikir yang bercirikan singkritisme.

Pasal 1-3, Paulus menjelaskan apa yang telah Allah perbuat untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus. Paulus juga mengajarkan tentang doktrin kepada jemaat Efesus (1:3-12; 2:1-10; 3:1-13), dan juga mendoakan mereka (1:15-22; 3:14-21).

Pasal 4-6, Paulus memberitahukan apa yang Allah kehendaki agar dilakukan oleh umat-Nya. Ia beralih dari teologi kepada etika, dari doktrin kepada moralitas. Di mana ia mulai dengan frasa, “Sebab itu aku menasihatkan kamu” (4:1). Frase tersebut menunjukkan bahwa nasihat Paulus kepada Jemaat di Efesus (ay. 1-16) merupakan respons atas apa yang telah Allah perbuat dalam kehidupan jemaat.

Bagi Paulus panggilan orang Kristen yaitu panggilan untuk hidup dalam kesatuan (ay. 1). Sebab hal itulah berpadanan dengan Injil. Kesatuan jemaat tampak dari penekanan atau pengulangan angka “satu” sampai tujuh kali dalam perikop ini, yang menunjuk kepada tema utama perikop ini.

Paulus berbicara tentang tiga kebenaran kesatuan:

Pertama, rendah hati, lemah lembut, sabar, dan saling menolong dalam kasih (4:2). Paulus meminta agar jemaat menunjukkan pola hidup yang sesuai dengan ajaran iman Kristen, yaitu didasarkan pada KASIH. Kasih ditunjukkan dalam pola kehidupan bersama. Kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran menjadi pola kesaksian yang harus dinyatakan dalam kehidupan setiap hari (ay 2). Menolong sesama pun menjadi hal yang mutlak (ay 2b).

Kedua, kesatuan berlandaskan Allah Tritunggal yaitu Allah yang satu. Sebutan “satu Roh”, “satu Tuhan”, dan “satu Allah” (4:3-6). Oleh karena itu, jemaat harus memahami diri sebagai persekutuan tubuh Kristus yang tidak terpecah belah. Setiap orang sebagai bagian dari tubuh Kristus harus mencegah terjadinya perpecahan dan memelihara kesatuan roh oleh ikatan damai sejahtera (ay 3-6). Memang harus diakui bahwa ada perbedaan-perbedaan dalam jemaat (jenis kelamin, warna kulit, suku, status social, tingkat pendidikan dan juga karunia-karunia), tetapi perbedaan-perbedaan itu bukanlah alasan sehingga jemaat terpecah. Melainkan perbedaan-perbedaan itu disyukuri sebagai anugerah Tuhan dan kemudian dipakai untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.

Ketiga, kesatuan diperkaya oleh karunia rohani yang berbeda-beda yang diberikan Kristus kepada setiap orang percaya sebagai perlengkapan untuk melayani (ay. 7-12). Karunia yang berbeda ini diberikan Kristus untuk pertumbuhan gereja yang semakin serupa dengan Kristus dalam segala hal (ay. 13). Kemudian juga umat Tuhan tidak disesatkan oleh berbagai doktrin baru yang berbeda, (ay. 14-16) yang mengancam kesatuan iman dan kesatuan tubuh Kristus.

PENUTUP

Renungan:

Pertama, menjaga dan merawat perbedaan adalah tugas orang Kristen karena Allah telah melakukannya terlebih dahulu di dalam Kristus. Umat Kristen menjaga dan merawat perbedaan dengan sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan. Perbedaan itu merupakan sebuah kondisi yang sudah terjadi (given), yakni Allah sudah kerjakan di bumi dan tanah air Indonesia. Jika saya, dia dan anda merusak persatuan atas nama perbedaan, maka kita merusak karya Allah di dalam dunia, khususnya di Indonesia.

Kedua, panggilan kita sebagai orang Kristen adalah hidup dalam persatuan karena itulah yang berpadanan dengan Injil. Dengan kata lain, sikap dan tingkah laku orang Kristen di dunia ini merupakan Injil. Kita mengutip pernyataan dari seorang teolog Asia, Choan-seng Song. Ia mengatakan bahwa Kristus melintasi batas-batas perbedaan (khusus agama). Song, mengutip surat Paulus kepada jemaat di Korintus, “Kristus menjadi segala-galanya bagi semua orang” (I Kor. 9:22). Kalau Kristus saja membuat diri-Nya sama dengan orang yang Dia temui (transposisi), mengapa gereja tidak melakukan hal yang sama? Kalau Kristus isi dari Injil, tentu Injil tidak anti perubahan. Injil dengan kemampuan berubah yang dahsyat itu ditegaskan oleh Paulus (I Kor. 9:20-23. Baca…). Mengomentari nast tersebut, Song, mengatakan bahwa Injil mengubah hati manusia bukan berarti Injil anti perubahan. Memang, Tuhan Yesus tidak berubah, namun refleksi dan gambaran tentang Yesus akan terus berubah sesuai dengan konteks dan perkembangan zaman. Injil yang tidak tahan perubahan adalah Injil yang garis lurus, yang mengandaikan Injil menolak kerja sama, menghakimi, menghukum, menghapuskan dan tidak mengenal pengampunan. Injil yang garis lurus ini tidak membuka ruangan untuk memahami pekerjaan Allah di tengah-tengah perbedaan. Oleh karena itu, untuk merawat persatuan di tengah perbedaan maka sebagai orang yang dipanggil oleh Allah, bergaul, merangkul, berdialog dan bekekerjasama dengan semua orang tanpa memandang latar belakang. Dengan demikian orang melihat dan membaca Injil Kristus dalam hidup kita.

Ketiga, merawat persatuan di tengah perbedaan adalah hidup dalam kasih. Hakekat Allah adalah Kasih. Allah yang bekerja di tengah-tengah perbedaan adalah Allah yang bergerak ke segala arah: ke depan, ke belakang, ke atas, ke bawah, ke dalam dan juga ke luar dan juga secara menyilang. Allah tidak terikat hanya dalam satu garis gerakan. Karena itu, ada kutipan menarik dari pernyataan Song: kasih bukan sebuah konsep geometris. Ia tak dapat diukur dengan mistar. Ia tak dapat ditimbang pada timbangan. Ia tak dapat diluruskan dengan garis. Dan yang paling tidak mungkin ialah, kasih sebagai garis lurus. Ia tidak menembus angkasa seperti sebuah garis lurus, melainkan mengisinya dan menyapunya. Ia bukan suatu gerakan linear melainkan gerakan konsentris. Ia tidak analisis melainkan sintesis. Ia tidak menghakimi melainkan merangkul. Allah bukanlah garis lurus melainkan kasih. Pernyataan Song tentang hakikat Allah adalah kasih harus tercermin dalam tindakan orang Kristen dalam merawat persatuan di tengah perbedaan. Dan menunjukkan sikap rendah hati, kelemahlembutan dan kesabaran menjadi pola kesaksian yang harus dinyatakan dalam kehidupan setiap hari (ay 2). Menolong sesama pun menjadi hal yang mutlak (ay 2b).

Keempat, Perbedaan seperti tubuh yang terdiri dari anggota-anggotanya. Barang siapa yang menghilangkan salah satu anggota tubuh maka akan terasa sakit dan cacat. Salah satu ungkapan yang dipakai oleh Paulus untuk melukiskan gereja adalah “tubuh Kristus” ( bdk; Rm. 12:4, I Kor. 12:4). Tubuh menggambarkan suatu kesatuan dan keanekaragaman. Dalam tubuh itu banyak keanekaragaman (kaki, tangan, rambut, dll) namun segala pertentangan dan persaingan ditiadakan. Hal ini disebabkan karena menurut Kol.1:18 Kristuslah yang menjadi kepala, dan jemaat adalah tubuh-Nya, itu menjadi tanda dari keterikatan dan persekutuan yang mendalam sekali. Oleh karena itu kita mesti merawatnya. Kita hidup dalam realita kemajemukan, gereja harus menjadi mode untuk merawat kemajemukan dalam pengajaran, khotbah-khotbahnya dalam pelayanan kasih. Gereja menyebarkan kasih Allah yang mengasihi semua orang tanpa memandang latar belakang umat manusia.

Kelima, perbedaan adalah karunia Allah, bukan untuk menonjolkan diri, melayani diri sendiri, menganggap dirinya lebih hebat, lebih unggul, melainkan untuk saling melayani dan melengkapi. Setiap anak bangsa diberi karunia (ay. 7). Perbedaan adalah karunia Allah, oleh karena itu kita merawatnya, sehingga seperti apa yang dikatakan oleh Bung Karno, “biarlah berbagai bunga bertumbuh dan berkembang dalam taman sarinya Indonesia”. Amin. (FN).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *