REFLEKSI PROSESI PASKAH TAHUN 2015.

Salib Paskah bukan Salib Kosong

(Oleh: Pdt.Nicolas St.E. Lumba Kaana)

 pdt Niko

Terus terang, saya agak resah melihat fenomena salib kosong di mana-mana. Ketika merayakan paskah, kita tidak mengedepankan simbol kubur kosong, tetapi salib. Keresahan itu mendorong saya untuk berenung tentang simbol salib paskah.

Melalui refleksi ini saya mengajak kita untuk merenungkan tentang makna salib paskah yang relevan dengan pergumulan gereja masa kini. Kiranya kita terhindar dari perayaan paskah yang bersifat cuma hura-hura simbolik.

 

  • Salib Kristus

Tak diragukan, benda ini sangat populer di kalangan orang Kristen. Awalnya, salib dikenal sebagai tanda hukuman. Hukuman atas kejahatan. Begitulah orang Romawi mengerapkan hukuman salib, sebagai bentuk eksekusi mati bagi para pelaku kejahatan yang harus ditangani secara serius. Kita boleh membayangkan, dalam konteks penegakan hukum di Indoneisa sekarang, ada tiga bentuk kejahatan yang sangat luar biasa buruknya, yakni korupsi, narkoba dan teroris. Para pakar hukum serba sepakat, bahwa tiga kejahatan itu harus ditumpas hingga ke akar-akarnya. Perlu ada pencegahan yang arif, penyelesaian yang tuntas, dan efek jera yang tegas bagi pelaku dan masyarakat. Banyak pakar hukum Indonesia yang secara tegas mendukung diberlakukan hukuman mati bagi para pelakunya.

Salib, begitulah cara pemerintah Romawi, di zaman Yesus, menerapkan hukuman mati bagi kejahatan luar biasa di daerah kekuasaannya. Para pemimpin agama Yahudi menuntut hukuman mati bagi kejahatan yang dituduhkan kepada Tuhan Yesus. Mereka berteriak, “salibkan Dia, salibkan Dia!”. Yesus pun disalibkan. Sebuah pernyataan di Pengakuan Iman Rasuli mengatakan, pada pemerintahan Pontius Pilatus, Yesus, sang Putera Allah, disalibkan, mati,dan dikuburkan, turun kedalam kerajaan maut. Dengan penyaliban Yesus maka simbol salib tidak bermakna sebagai hukuman, melainkan sebagai tanda cinta.

  • Salib Paskah

Sejak tahun 2011, jemaat-jemaat GMIT di wilayah klasis Amanuban Timur merayakan paskah secara bersama-sama dalam bentuk prosesi jalan salib. Sebagaimana lazimnya, dalam suasana perayaan paskah, monumen salib didirikan di titik-titik strategis, seperti di lingkungan pasar, di dekat tempat pelayanan publik, di persimpangan jalan. Dalam berprosesi, peserta prosesi membawa salib, ada saat di mana salib diangkat tinggi agar dilihat sebagai simbol perayaan paskah. Salib paskah ini bukan tanda hukuman, melainkan tanda cinta. Harus diingat bahwa salib sebagai tanda cinta bukanlah salib yang kosong, di salib itu tergantung Kristus. Salib itu  memasung Kristus. Itulah salib yang membungkamkan, menyengsarakan dan membunuh Kristus secara mengenaskan. Salib kosong adalah tanda hukuman, tetapi salib Kristus adalah tanda pengampunan, penebusan dan penyelamatan Allah. Inti simbol paskah bukan salib melainkan Kristus tersalib. Salib tanpa Kristus adalah tanda hukuman. Salib Paskah adalah salib Kristus. Yang paling penting bukanlah salib, melainkan Kristus yang tersalib itulah tanda cinta yang menyelamatkan dunia.

 

  • Kristus yang tersalib

Muncul pertanyaan siapakah Kristus itu, dan mengapa Kristus disalibkan? Pertanyaan ini sangat penting bagi kita yang merayakan paskah dengan membawa simbol salib Kristus.  Kristus tersalib itu tidak lain dan tidak bukan adalah Yesus, pemuda desa Nazareth di Galilea, anak dari keluarga tukang kayu, Yusuf dan Maria. Sebenarnya, ada juga tradisi kekristenan yang mengatakan bahwa beberapa rasul dan tokoh gereja menjadi martir yang disalibkan, sebagai konsekwensi dari kemuridan mereka. Markus 8:34 mengatakan, “Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”  Salib Kristus rekasi konspirasi dunia terhadap gerakan Kristus.

Mengapa Kristus disalibkan? Pada Konteksnya, hukuman salib bagi Kristus muncul dari konspirasi agama mayoritas di Palestina dan rezim Romawi. Salib adalah meredam pergerakan Kristus. Salib dimaksudkan untuk membungkam seorang guru dari Nazareth, bernama Yesus, menciptakan ketakutan dan trauma untuk mencerai-beraikan para pengikutNya. Hukuman salib bagi Kristus dimaksudkan sebagai unjuk kekuatan dunia menentang pergerakan kasih dan keadilan yang memprioritaskan kaum lemah dalam masyarakat.  Alasan penyaliban Kristus adalah karena ia membela kaum yang diabaikan hak-haknya, yang ungkapan imannya diremehkan. Kaum yang ditindas harkat kemanusiaannya oleh penganut budaya dan agama mayoritas dan para penguasa formal, kaum yang oleh orang-orang yang tidak masuk hitungan para orang berpengaruh pada lembaga agama dan pemerintahan di zaman Yesus. Kristus tersalib itu adalah orang yang menerima anak-anak yang ditolak oleh para murid-Nya sendiri. Kristus tersalib itu pernah membela seorang perempuan berdosa yang hendak dilempari batu sampai mati karena dinilai melanggar Taurat (aturan agama). Kristus tersalib itu adalah dia yang menyembuhkan orang-orang sakit yang telah putus harapan, yang selalu terlambat dalam persaingan mendapatkan kesempatan pertama dalam ritual kesembuhan. Dia itu pernah menyembuhkan anak seorang janda yang dianggap kafir dan dianggap anjing oleh kaum fanatik. Ia pernah mengobrak-abrik bait Allah ketika bangunan simbol agama itu dipakai sebagai sarana bisnis yang mengeksploitasi peribadahan. Dia yang tersalib itu adalah dia yang tidak menghukum melainkan mengampuni, dan selalu membuka ruang bagi para pendosa untuk bertobat dan tidak berbuat dosa lagi. Kristus yang disalibkan itu pernah menegaskan bahwa kewajiban agama, seperti halnya hari sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk kewajiban agama. Tuhan Yesus adalah Kristus tersalib yang pada masa hidupnya mengaktifkan pergerakan sosial demi keadilan bagi kaum yang lemah dan tersingkir dalam masyarakat. Dia yang tersalib itu  juga mengajak kita untuk memikul salib dan mengikuti pergerakkan-Nya, bersaksi dan aktif berempati terhadap kaum lemah dalam masyarakat.

 

  • Salib Paskah bukan salib kosong

Hari ini kita membawa salib, mengangkatnya tinggi-tinggi, mendirikan ratusan dan ribuan monumen salib di halaman gereja, pekarangan rumah dan di pinggir jalanan yang ramai, panggilan dan ajakan-Nya Tuhan Yesus itu kembali menggugah kita untuk mempertanyakan sikap kita terhadap berbagai masalah sosial, ekonomi, politik dan lingkungan hidup yang mengabaikan kaum kecil dan lemah dalam masyarakat.

Di manakah kita ketika sesama diperjual belikan, ketika agama dieksploitasi untuk kepentingan bisnis yang serakah, ketika hak bersekolah bagi banyak anak-anak  dari keluarga miskin terhalang oleh tuntutan pendidikan yang rumit dan mahal, ketika ada orang-orang sulit diobati karena keterbatasan fasilitas kesehatan yang baik, ketika lahan pertanian makin tidak subur, dan banyak petani beralih profesi menjadi buruh migran, lingkungan makin terancam dan kritis, kekeringan yang menjadi-jadi di musim kemarau, banjir dan longsor di musim hujan. Apa yang kita lakukan ketika ketidak adilan terjadi di depan mata dan kemiskinan dieksploitasi. Kristus tersalib itu adalah rupa kaum kecil yang merana, ditindas oleh konspirasi kekuasaan serakah dan penguasa lalim. Kristus ada dan berjuang bagi keadilan kaum lemah. “Pikullah salib dan ikutlah aku!”, demikianlah kata-kata Kristus tersalib, mengajak kita untuk tidak mengelak apalagi menyangkali panggilan sebagai sahabat bagi kaum kecil dan lemah dalam masyarakat. Salib Kristus itu tidak boleh berdiri kaku diruang kosong, salib Kristus itu bukan salib kosong. Di salib itu terpasung Kristus. Salib itu yang dipikul oleh para pengikut Kristus.

Salib kosong adalah simbol pembungkaman, berujung kubur yang tertutup rapat, kegelapan yang pekat. Tetapi salib Kritus berujung kubur yang terbuka. Salib Paskah adalah perjuangan bersama kaum kecil terpencil, kaum lemah tak berdaya. Salib paskah bukan monumen mati di ruang kosong. Lebih dari sebuah simbol agama di ruang ibadah, salib Paskah adalah tanda iman yang tidak-tenang terhadap kemapanan para pemimpin yang mengeksploitasi potensi dan kebutuhan orang miskin. Salib kosong  adalah simbol konspirasi yang memasung perjuangan keadilan dan kesejahteraan sosial. Sebaliknya, salib paskah adalah simbol kepedulian dan empati kepada kaum lemah. Salib paskah adalah simbol salib Kristus, simbol perjuangan keadilan dan kesejahteraan bersama kaum miskin. Salib paskah bukan salib kosong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *