REFLEKSI SIDANG MAJELIS KLASIS DAN SIDANG KLASIS AMANUBAN TIMUR

REFLEKSI  SIDANG MAJELIS KLASIS DAN SIDANG KLASIS AMANUBAN TIMUR

Pdt. Frans Nahak

 

Sidang Majelis Klasis Amanuban Timur akan dilaksanakan pada tanggal 8 November 2019 dan Sidang Klasis tanggal 3-5 Desember 2019. Sidang Mejelis Klasis dan Sidang Klasis diatur oleh Tata Gereja (hlm. 191 dan 194). Salah satu item dari pada tujuan Sidang MaJelis Klasis dan Sidang Klasis adalah; pertama Sidang Majelis Klasis menetapkan program pelayanan kebersaman jemaat-jemaat dan APBMK tahun berikutnya; kedua Sidang Klasis merumuskan dan menetapkan pokok-pokok program pelayanan kebersamaan satu periode sesuai Haluan Kebijaksanaan Umum Pelayanan GMIT.

Merumuskan dan menetapkan program pelayanan merupakan hasil penglihatan, kajian dan refleksi di jemaat-jemaat kemuadian dibawah kepada sidang untuk digumuli dan bersama-sama mencari kehendak Tuhan.

Klasis Amanuban Timur memiliki pergumulan yang urgent dari segi pencarian identitas keberagamaan warga jemaatnya, dari segi pendidikan yang bertalian dengan ekonomi dan segi kesehatan. Konteks yang demikian Klasis Amanuban Timur kekurang pendeta. Ada 21 jemaat dilayani oleh 18 pendeta termasuk Ketua Majelis Klasis  dan  62 Mata Jemaat. Paling banyak satu pendeta melayani 7 Mata Jemaat.

Program-program yang dipersiapkan diharapkan berada dalam bingkai pembangunan jemaat-jemaat di Klasis Amanuban Timur.

Dalam teologi praktika biasa dikenal dengan Teologi atau Ilmu Pembangunan Jemaat. Ada dua tujuan dari pembangunan jemaat, yaitu pembangunan Internal dan pembangunan Eksternal. Pertama, yang dimaksud dengan pembangunan Internal adalah melalui program pelayanan yang disiapkan itu, membuat jemaat menjadi dinamis partisipatif. Dinamis artinya jemaat selalu bergerak maju, bukan bergerak ditempat atau jalan-jalan di tempat. Tidak suam-suam kuku. Sedangkan partisipatif artinya warga jemaat berpartisipasi aktif dalam dinamika bergereja. Kedua, pembangunan Eksternal, yaitu melalui pelayanan dan pemberitaan Firman Allah hadir tanda-tanda Kerajaan Allah bagi jemaat dan dunia ini. Dalam artian bahwa pertumbuhan iman jemaat ke dalam dan keluar.

Program-program yang disiapkan dipahami dalam dua pengertian yang saling berhubungan. Yang pertama adalah pelayanan yang membangun spiritualitas (dalam Roh) yang menghidupkan gereja secara rohani; dan yang kedua program yang ada berhubungan dengan komitmen untuk menjadi murid Kristus, yaitu menghandirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia ini dalam aktifitas sosial, khususnya konteks jemaat-jemaat di Amanuban Timur. Apa bila program-program pelayanan yang disiapkan hanya sebatas kebutuhan rohani dan kebutuhan keuangan, misalnya target ibadat dalam tahun ini sekian, target keuangan kita harus sekian, dll., maka kita terjebak pada target kuantitas. Dan komitmen pelayanan perlu dipertanyakan.

 Saya masih ingat saat berkala bulanan di Klasis, pertanyaaan dari Ketua Majelis Klasis; apa dampak dari program yang kita laksanakan di tingkat klasis bagi jemaat? Tujuannya harus kepada jemaat karena klasis ‘tidak ada’ jemaat. Tata Gereja kita mengatur bahwa Klasis adalah persekutuan jemaat-jemaat dalam satu keasatuan wilayah pelayanan. Dengan kata lain, klasis sebagai wadah kebersamaan jemaat-jemaat, wadah pelayanan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan khas dan wadah perantara jemaat dan sinode. Fungsinya menggoordinasikan segala kegitatan kebersamaan jemaat-jemaat dalam pelayanannya, menyelengarakan usaha-usaha pembinaan dan pengembangan jemaat dalam wilayah pelayanan, serta menggerakan jemaat-jemaat dalam usaha mewujudkan program pelayanan yang ditetapkan dalam lingkup sinodal

Gereja tidak hadir untuk membangun dirinya sendiri karena jika demukian gereja akan kehilangan maknanya. Namun di sisi lain, program pelayan seperti aktifitas sosial tanpa relasi spiritual dengan Kristus yang adalah sumber kehidupan gereja maka gereja tidak akan beda dengan lemabaga sekuler lainnya.

Identitas gereja terletak kepada program pelayanan yang menumbuhkan spiritualitas Kristen dan spirit itu yang mendorong gereja secara sosial historis bergumul dengan masalah-masalah yang disebutkan. Spiritualitasnya yang menjadi sumber bagi program pelayanan sosial.

Untuk itu saya mengajak kita untuk memikirkan dengan serius konteks kita.

Apa yang dihadapi gereja saat ini, baik secara spiritualitas maupun dalam kehidupan sosial? Dan program-program pelayanan model apa yang menjawab kebutuhan tersebut?

Perlu diingat bahwa identitas gereja terletak pada program-program pelayanan yang kita buat.

Saya akan membuat refleksi singkat dari Injil Matius 16:21-23, cerita ini merupakan lanjutan dari perikop Pengakuan Petrus. Setelah Petrus menjawab Yesus bahwa:”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. kemudiaan Yesus bilang: “berbahagialah engkau Simon Bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melaikan Bapa-Ku yang di sorga.” Petrus dituntun oleh suatu semangat spiritulitas ilahi yang luar biasa. Namun pada waktu yang bersamaan, ketika Yesus menyampaikan misi-Nya, program Allah melalui diri-Nya, yaitu harus menderita dan mati untuk keselamatan umat ciptaan Allah, Petrus menarik Yesus ke samping dan  Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpah Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus; “Enyalah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah, melainkan apa yang dipikirkan oleh manusia ” (ayt 23). Iblis memakai Petrus, mengapa? Karena Petrus tidak memikirkan program pelayanan Allah, yaitu berkorban untuk keselamatan, untuk kebaikan bersama, untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah, melainkan ia menghalangi program dari Allah. Ketika Petrus memikirkan dirinya sendiri dan menghambat misi Allah, Yesus bilang engkau iblis.

Selamat bersidang.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *