RENUNGAN SYUKUR PANEN-Pdt. Teddy Makonimau

TMEUPON ATE, TAH ON USI

 Kejadian 41: 46- 57

Ada 4 macam sifat bangsa di dunia ini:

1. Sedikit bicara sedikit kerja (Nigeria dan Angola)

2. Sedikit bicara banyak kerja (Jepang dan Korea)

3. Banyak bicara banyak kerja (Amerika dan Cina)

4. Banyak bicara sedikit kerja (India dan Pakistan)

Lalu seseorang bertanya kepada Gus Dur : “Indonesia termasuk dalam sifat yang mana?”

Kata Gus Dur : “Tidak bisa dimasukkan dalam 4 sifat itu karena di Indonesia yang dibicarakan berbeda dengan yang dikerjakan” (omong lain kerja lain).

Sumber cerita ini tidak diketahui dengan pasti tetapi ini bisa jadi perenungan bagi kita bahwa seringkali kita melakukan hal tersebut bahkan kita bisa berpikir lain bicara lain kerja lain. Yang diperlukan adalah konsisten dalam melakukan suatu pekerjaan atau dengan kata lain kesimbangan antara pikiran, perkataan dan perbuatan.

Sebagai petani kita perlu bersyukur karena setiap tahun kita konsisten memperoleh hasil panen tetapi yang jadi pertanyaannya kenapa tidak terjadi perubahan dalam kehidupan kita? Padahal kita sudah bekerja keras dalam mengolah kebun dan ladang. Bibit telah dipilih yang terbaik tetapi hasil panen kurang baik. Apakah perlu mengubah tujuan dalam bertani yang selama ini hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari padahal seharusnya berupaya untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan tujuan keuntungan? Ataukah karena pola kerja kerja yang perlu dirubah dari petani tradisional menuju petani modern/milenial?

Dalam Alkitab dapat ditemukan cerita sukses dalam bertani. Yusuf adalah petani dan pengusaha yang berhasil meraup keuntungan dikala musim kelaparan melanda seluruh daerah mesir bahkan seluruh bumi di masa itu. Menarik untuk disimak dan kita dapat temukan beberapa point untuk perenungan kita:

Pertama, Yusuf adalah orang yang takut Tuhan. Tinggal di negeri asing tetapi tidak membuat Yusuf melupakan Tuhan. Ia Tetap setia dan percaya pada janji dan rencana Tuhan dalam hidupnya. Sekalipun saudara-saudaranya menjualnya sebagai budak. Lalu ia difitnah oleh istri potifar hingga kehilangan pekerjaan dan menjadi tahanan dalam penjara mesir. Ketika dalam penjara orang yang pernah diselamatkan Yusuf yaitu juru minum raja juga melupakannya tetapi ia tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalakanNya sendiri. Ia tetap hidup benar di hadapan Tuhan, kejujuran Yusuf membuat ia tetap menjadi orang kepercayaan dari kepala penjara. Hingga pada akhirnya dalam usia ke tiga puluh tahun Ia dipercayai oleh firaun menjadi penguasa. Inilah titik balik dalam kehidupan Yusuf sebagai orang yang takut Tuhan. Ia sukses sebagai penguasa. Ia berhasil dalam pertanian dan membuat lumbung yang menyimpan hasil panen seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung

Kedua, Yusuf adalah orang yang konsisten dalam kata dan perbuatan. Yusuf tetap konsisiten dalam bersikap. Apa yang dipikirkan itulah yang dikatakan dan apa yang dikatakan itulah yang dikerjakan. Kejujuran Yusuf inilah yang membuatnya ia menjadi orang kepercayaan dimanapun ia berada. Entah di rumah potifar sebagai budak, entah di dalam penjara sebagai tahanan ataupun di dalam istana sebagai penguasa.

Ketiga, Yusuf adalah orang yang persisten berarti tidak mudah menyerah. Jika melihat nama kedua anaknya yaitu Manasye dan Efraim. Manasye berarti “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku” dan Efraim berarti “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku”. Yusuf hidup dalam kesukaran dan kesengsaraan tetapi tidak membuatnya menyerah dengan keadaan. Yusuf punya mimpi yang pada akhirnya Allah mewujudkan mimpi itu. Berbagai ancaman dan tantangan telah membuat Yusuf makin kuat dan bijak dalam menyikapinya. Pada usia ketiga puluh menunjukkan kematangan dalam berpikir dan bekerja dengan baik. Ia menjadi orang yang bijaksana dan berakal budi, karena pengalaman hidup yang sukar dan sengsara telah mendidik Yusuf menjadi kuat. Tidak ada keberhasilan dan kesusksesan yang instant atau cepat. Keberhasilan akan menghasilkan buahnya ketika kita sabar dalam berproses.

Keempat, Terbuka dan mengikuti perkembangan serta kebutuhan pasar. Orang Mesir dan bangsa lain disekitar tidak melihat peluang untuk mengumpulkan bahan makanan ketika musim kelimpahan berlangsung pada akhirnya ketika terjadi musim kelaparan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan makanan. Yusuf mengumpulkan hasil panen yang berkelimpahan hingga pada saat membuka lumbung makanan dan melihat kebutuhan orang mesir yang begitu banyak pada akhirnya Yusuf menjual gandum kepada orang Mesir. Juga semua orang dari seluruh bumi yang datang ke mesir untuk membeli gandum dari yusuf, sebab hebat kelaparan itu melanda seluruh bumi.

Ada pepatah dawan mengatakan “Tmeup on ate, tah on usi” yang berarti Kerja seperti seperti hamba, makan seperti raja. Tapi tidak cukup sampai disitu karena itu harus ditambah kaya seperti pengusaha. Ah sungguh nikmat bekerja sebagai petani. Kita bekerja menggunakan pakaian yang kotor, tubuh berkeringat, badan penuh lumpur tetapi hati tetap bersih ini lebih baik daripada orang yang bekerja menggunakan pakaian yang bersih, tubuh tidak berkeringat dan badan mereka tidak berlumpur tapi sayangnya hati mereka kotor karena merencanakan kejahatan dan melakukan korupsi. Tujuan utama dari bertani bukanlah untuk menumbuhkan tanaman tetapi menjaga kehidupan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *