ROH KUDUS MEMAMPUKAN UNTUK BERSAKSI DALAM BANYAK BAHASA- KISAH 2:1-13

ROH KUDUS MEMAMPUKAN UNTUK BERSAKSI DALAM BANYAK BAHASA

KISAH PARA RASUL 2:1-13

Pengantar

Menurut Sensus Badan Pusat Statistik tahun 2022, Indonesia memiliki 1.340 kelompok etnik, suku bangsa di tanah air. Jumlah bahasa daerah 841 dan 72 diantaranya berasal dari NTT. Terdapat 45 suku bangsa yang mendiami kawasan Propinsi NTT. Dari data tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Indonesia khusunya NTT sangat majemuk. Bagaimana bersaksi tentang perbuatan Allah di tengah-tengah kemajemukan? Ada seorang anak sekolah minggu yang bertanya kepada guru sekolah minggunya, “bu guru, Tuhan Allah tau berapa banyak bahasa?

Pembahasan Teks

Murid-murid berkumpul di Yerusalem sesudah Yesus terangkat ke sorga sangat penting. Ada kesan dalam bacaan ini, yaitu mereka semua hadir dan tidak ada yang tinggal di rumah. Mereka bertekun dengan sehati dan berdoa bersama-sama.

Tiba-tiba turun dari langit tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah. Menurut J.H. Banvinck, sebenarnya tidak ada angin ribut, hanyalah satu bunyi seperti tiupan angin keras. Walaupun bunyi besar tiupan angin tersebut bersifat lembut dan satu/tunggal bukan angin- angin. Jadi, angin dalam teks ini diindikasikan bahwa tanda atau lambang dari kuasa yang Ilahi, Roh Kudus. Istilah dalam bahasa Yunaninya pnoEs yang artinya angin, napas. Istilah ini disebutkan dua kali dalam kitab Kisah Para Rasul, yakni 2:2; 17:25. Namun, istilah ini mengalami dinamisasi dengan istilah πνεΰμα, yang berarti napas, angin, Roh, yang artinya Roh, sikap, dan semangat. Lebih lanjut, Gerrit Riemer mengemukakan bahwa gejala alam angin menjelaskan arti Roh secara tetap. Angin itu sendiri tidak dapat dilihat, tetapi membuat pohon dan rumput bergerak. Ruah adalah energi, kekuatan, dan kekuasaan. “Nafas” yang membuat makhluk-makhluk (manusia dan binatang) hidup. Jadi, Roh adalah energi, kekuatan atau kekuasaan yang tidak dapat dilihat, tetapi yang efektif untuk melakukan atau menggerakkan sesuatu, baik di tingkat yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.

Sekejap kemudian tampaklah api. Nampak di kepala mereka lidah-lidah seperti nyala api melayang-layang dan hinggap di atas kepala mereka masing-masing. Banvinck mengatakan orang-orang yang dihinggapi lidah-lidah api tak merasakan hanya api yang di atas kepala temanya yang tampak olehnya. Api di atas kepala mereka berupa lidah seolah-olah Allah mau memberi isyarat bahwa mereka harus berbicara seketika itu juga. Kemudian mulailah mereka berbicara dengan bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka. Di sini hukum-hukum bahasa tidak laku; kata-kata baru kedengaran dan bukan pidato yang panjang lebar tetapi seruan-seruan yang memuliakan Allah. Api adalah lambang Roh Kudus yang menyucikan dan memurnikan keyakinan, supaya semakin sungguh-sungguh percaya dan hidup di dalam Yesus Kristus. Roh Kudus juga sering digambarkan sebagai api karena Ia berfungsi untuk menyucikan atau menguduskan dari belenggu dosa. Karena itu, tanda dari orang yang mempunyai Roh Kudus atau dipenuhi Roh Kudus adalah adanya perubahan hidup ke arah yang konstruktif dan positif supaya dipakai oleh Roh Kudus untuk membangun orang lain dan bukan kemampuan untuk berbahasa roh.

Yang membuat keheranan adalah oleh para hadirin, mereka mendengar orang berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Di antara mereka ada orang-orang proselit yang berasal dari Afrika Utara dan negeri-negeri Arab; ada yang dari Asia kecil dan sebelah Timur dan dari dataran tinggi Iran. Ungkapan “dari semua bangsa di bawah langit” berarti “dari banyak tempat,” atau dari semua bangsa di mana orang Yahudi diserakkan. Menanggapi istilah itu, Bock menyatakan bahwa penggunaan frasa ini tidak hanya melukiskan keragaman etnis orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, namun juga secara geografis di mana mereka secara kebetulan datang dari luar daerah ke Yerusalem. Di satu sisi, Yerusalem adalah pusat kosmopolitan di mana banyak orang Yahudi yang sudah tersebar ke segala daerah di luar Palestina datang kembali dan menetap di sana. Kata “tinggal/katoikountes biasanya berarti sesuatu yang lebih dari sekedar tinggal atau berkunjung sementara. Bagaimanapun, karena itu adalah Hari Raya Pentakosta salah satu dari tiga pesta yang diharuskan oleh tradisi untuk hadir di Yerusalem (Ulangan 16:16) dapat diyakini bahwa mungkin sebanyak satu juta orang Yahudi dari seluruh penjuru yang dikenal dunia berada di Yerusalem. Mereka adalah orang-orang yang taat dan takut akan Tuhan, tulus dalam menyembah Tuhan. Mereka akan berada di Yerusalem saat itu dari pada saat Paskah, karena perjalanan di Laut Mediterania lebih aman pada musim itu. Mereka semua mengerti bahasa Yunani tetapi yang anehnya adalah seakan-akan bahasa mereka sendirilah yang diucapkan oleh murid-murid itu. Ini sebuah keajaiban dan melalui keajaiban itu Allah telah menyatakan bahwa yang empunya segala bahasa ialah Allah melalui Roh Kudus. Dahulu kala di Babel (Kej. 11) ketika manusia dengan keinginannya yang penuh dosa bersatu Allah mengacaukan bahasa mere waktu mereka mendirikan menara Babel dan saat itu umat manusia terbagi-bagi dalam berbagai suku dan bangsa. Frasa, “bahasa-bahasa lain,” dari kata Yunani disebut έτέραις γλώσσαις. Frasa ini diartikan sebagai bahasa-bahasa lain/asing. Istilah γλώσσαις atau glOssais, berbentuk kata benda dative plural feminine, terkandung makna bahwa para murid Yesus Kristus mulai berkata-kata dalam bahasa lain/asing (ay. 4) atau bahasa orang lain/bangsa lain (ay. 11) yang bersifat lembut karena diberikan oleh Roh kepada mereka.

Beberapa teolog menyatakan bahwa Pentakosta adalah sebuah kejadian yang berulang dari kisah Babel, karena murid-murid pada saat itu berbicara dengan dialek lokal (bukan satu bahasa yang sama), dan mereka sekali lagi tersebar di seluruh bumi. Persoalannya terletak pada bagaimana seseorang menginterpretasikan peristiwa Pentakosta, sehingga dampaknya dapat mempengaruhi misi dan keragaman gereja saat ini. Namun Joas menjabarkan dalam bukunya mengenai teori diglossia, di mana teori ini menegaskan bahwa hampir setiap orang mempergunakan dua bahasa, yaitu bahasa yang tinggi dan rendah. Bahasa tinggi (bahasa Ilmiah) sering dipergunakan dalam peristiwa resmi, sedangkan yang rendah dipergunakan sehari-hari. Dalam konteks peristiwa Pentakosta, bahasa Ibrani adalah bahasa tinggi karena dipergunakan dalam ibadah, tetapi peristiwa itu terjadi bukan di rumah ibadah melainkan di rumah biasa, hal ini menunjukkan bahwa ketika Roh Kudus dicurahkan dan mulai menggerakkan para murid untuk berbicara dalam bahasa-bahasa lain, bahasa itu adalah bahasa sehari-hari atau bahasa rendah. Hal ini menguatkan pendapat Bock yang menyatakan bahwa frasa “egennēthēmen” (tempat kelahiran), berguna untuk menegaskan bahwa yang dimaksud adalah bahasa asal atau bahasa ibu orang-orang itu. Tuhan memakai alat bahasa yang paling akrab dengan setiap kelompok bangsa untuk memastikan bahwa pesan itu sampai kepada pendengarnya dalam bentuk yang mengena bagi mereka.

Mengenai bahasa lidah, Adiprasetya, mengarahkan perhatian pembacanya tertuju pada frasa “seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” Roh Kudus diberikan kepada murid agar mereka mengatakan kebenaran. Ketika Roh Kudus memberikan otoritas dan kuasa kepada seseorang untuk menyatakan kebenaran, maka apa yang diucapkan oleh orang itu tetap muncul “dengan akal yang sehat.” Dengan kata lain, terjadi sinergi antara karunia berkata-kata dari Roh Kudus dan pikiran yang jernih dari orang tersebut. Maka, ketika itu terjadi, apa pun yang keluar dari mulut orang itu akan sungguh- sungguh menjadi sebuah “bahasa lidah.” Apa yang supernatural adalah Roh Kudus itu sendiri, yang bekerja melalui cara-cara natural dan manusiawi, melalui bahasa sehari-hari.

Penutup

Saat menjalankan masa orientasi sebagai pendeta ada beberapa orang tua yang selalu hadir mengikuti ibadah-ibadah yang saya pimpin. Kesetiaan mereka membuat saya semangat berkhotbah. Khotbah yang saya sampaikan berapi-api dengan mengunakan bahasa Indonesia yang baku, terkadang menyebut beberapa istilah bahasa Yunani dan Ibrani. Sehabis ibadah saya bercerita dengan mereka namun mereka tidak memberi respon, hanya senyum, kemudian penatua mengatakan kepada saya bahwa orang-orang tua ini tidak bisa berbahasa Indonesia. Saya sangat terkejut dan merasa gagal menyampaikan firman Tuhan. Mulai saat itu saya menyiapkan khotbah dengan bahasa-bahasa yang sederhana kemudian memberikan contoh-contoh sederhana dan diterjemahkan dalam bahasa daerah setempat. Ilustrasi dalam khotbah menjadi sebuah cerita yang berlanjut di tengah-tengah jemaat. Kemudian saya menyimpulkan bahwa Tuhan bekerja menggunakan berbagai bahasa di dalam setiap suku dan budaya dan Dia tahu semua bahasa. Ada beberapa point yang menjadi bahan refleksi:

Pertama, berita injil harus disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana, bahasa ibu (bahasa daerah) dan dimengerti oleh pendengar. Seorang guru, dosen, ketika mengajar di kelas murid-murid mengerti apa yang diajarkan pertanda bahwa itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus bekerja melalui mulut si guru/dosen tersebut.

Kedua, Roh Kudus memberikan semangat untuk bersaksi kepada semua suku menggunakan berbagai bahasa. Berita kesaksian itu menyatukan, memberi kesejukan dan semangat. Jadi, jikalau kesaksian kita membuat jemaat terpecah, menakuti-nakuti, maka kesaksian itu bukanlah pekerjaan Roh Kudus. Jika bulan Budaya yang kita rayakan hanya memperkuat egoisme dari setiap suku, mengagung-agungkan budaya tertentu maka itu bukan pekerjaan Roh Kudus.

Ketiga, kawan saya bercerita bahwa dia ditugaskan di sebuah daerah yang agama dan suku berbeda dengannya. Suatu kali dia menumpang mobil bersama sekelompok orang. Dalam mobil orang-orang yang memandang dia seperti menaruh curiga karena cara berpakaiannya berbeda dengan rombongan tersebut. Dia melempar senyum kepada mereka tetapi tak ada yang respon. Ada tempat duduk kosong di samping sana namun dia tidak dipersilahkan duduk. Tiba-tiba seorang anak kecil menangis, kawan ini mengambil cemilan di dalam sakunya memberikan kepada anak tersebut lalu berbicara dengan anak itu dalam bahasa daerah setempat. Anak itu diam dan suasana dalam ruangan berbeda. Ada kelegaan dalam hatinya, mereka memberi senyum kepadanya, ada beberapa orang yang bercerita dengannya, kemudian dipersilakan duduk di kursi yang kosong tersebut. Dari cerita kawan ini kita dapat menyimpulkan bahwa jika kehadiran kita hendak diterima dalam sebuah komunitas yang multi etnis, suku, agama, budaya dan bahasa, maka kita harus belajar bahasa daerah dan budaya setempat. Keempat, melalui peristiwa Pentakosta Roh Kudus memberikan energi, kekuatan, dan kuasa yang membuat semua makhluk ciptaan hidup, jadi itulah misi kesaksian gereja. FN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *