RUAMAHKU TEMPAT PENDIDIKANKU

RUAMAHKU TEMPAT PENDIDIKANKU

Pdt. Fransiskus Nahak

Disadari atau tidak isu-isu global dan masalah sosial menyebabkan ketidak  pastian, maka struktur-struktur keluarga, nilai-nilai tradisional dan nilai-nilai agama akan hilang di dalam keluarga-keluarga Kristen. Waktu untuk berkumpul dengan keluarga menjadi minim, komunikasi berkurang, perhatian dan kasih tehadap anak terabaikan, akibatnya anak-anak mencari tempat curhat (curahan isi hati di tempat lain). Rumah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi anak. Rumah hanya sebatas menjadi rumah makan, bukan lagi menjadi wadah dasar pembentukan kepribadian seorang anak. Padahal kebutuhan akan perhatian, kasih sayang dari orang tua bagi anak sangat krusial. Sayangnya, orang tua hanya mengurus hal kebutuhan ekonomi. Sedangkan di luar pengaruh lingkungan begitu kuat. Arus informasi begitu cepat tanpa diimbangi dengan tingkat pendidikan, pengertian dan kesigapan orang tua akan membawa dampak bagi anak-anak. Anak-anak remaja memiliki keunikan secara psikis dan fisik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Jika remaja hidup akrab dengan situasi yang tidak harmonis maka perkembangan perilakunya akan sangat terganggu. Sebaliknya, jika remaja hidup dalam situasi lingkungan yan harmonis maka secara psikis dan fisik akan berkembang sehat.

Richard Berenden mengatakan, ruang kelas terbaik di negara ini atau negara mana pun bukanlah di sekolah atau universitas, tetapi berada di sekitar meja makan di rumah. Rumah mempengaruhi dua pertiga kehidupan aktif seorang anak yang berumur 6-12 tahun. Waktu aktif ini seluruhnya 17.500 jam bisa diisi dengan kegiatan yang bermanfat dan menyenangkan. Pada umur ini juga bagian otak yang bernama lobus prefrontal berkembang secara substansial. Bagian ini merupakan tempat perkembangan rasa kasih sayang, rasa kepedulian, empati dan simpati. Pada masa inilah struktur pendidikan yang berkaitan dengan EQ (Emotional Quotient) dikembangkan, suatu kesempatan untuk mengembangkan nilai-nilai hidupnya. Tetapi banyak orang tua merasa tanggungjawab mereka terhadap pendidikan anak mereka selesai, begitu anak mereka memasuki usia sekolah. Mereka menyerahkan pendidikan anak mereka pada pihak sekolah. Menyerahkan anak-anak mereka pada “pabrik” ilmu pengetahuan, yaitu pendidikan yang diseragamkan.

Selain penyeragaman, sistem pendidikan yang ada saat ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu:

pertama, mereka hanya “menanamkan” pengetahuan kognitif pada seorang anak. Itu berarti sekolah hanya tempat bagi anak-anak yang memiliki kecerdasan bahasa dan matematika. Padahal setiap anak dilahirkan cerdas dan memiliki kecerdasan yang berbeda. Pendidikan dilihat dari akar kata “educare” yang berarti “mengelurakan” seharusnya mampu mengeluarkan kejeniusan seorang anak, bukan hanya menanamkan.

Kedua, sistem sekolah mengedepankan individualisme, dan persaingan. Seorang anak dikatakan berhasil jika ia bisa meraih nilai yang tinggi dan menjadi juara kelas. Ini berarti untuk mendapatkan pujian dari orang tua maupun guru, ia harus dapat mengalahkan teman-temannya yang lain. Dan orang tua yang merasa bahwa belajar di sekolah belum cukup untuk menjadikan anak mereka juara akan memasukkan anak mereka dalam lembaga kursus atau les. Dan sekali lagi anak dipaksa untuk belajar “menanamkan” sesuatu pada kognitif anak. Proses belajar anak yang semula menyenangkan akhirnya menjadi beban.

Konsep belajar yang hanya “menanamkan” pengetahuan kognitif, mengabaikan pendidikan spiritual anak. Dan kalaupun mereka menganggap pendidikan spiritual itu penting, mereka seringkali menyerahkan pendidikan spiritual anak kepada pihak gereja. Dengan mengantar anak-anak mereka ke sekolah minggu dan tugas orang tua selesai. Padahal pendidikan spiritual bukan sekedar belajar agama, belajar apa isi Alkitab, tahu cerita-cerita dalam Alkitab. Pendidikan spiritual jauh lebih dalam dari sekedar “tahu”. Tetapi seringkali itulah yang “hanya” diajarkan di sekolah minggu.

RUMAH SEBAGAI PUSAT BELAJAR

Rumah sebagai pusat belajar mengindikasikan bahwa orang tua adalah guru terbaik bagi anak-anak, karena orang tualah yang paling tahu dan paling mengerti dengan kelebihan dan kekurangan anak. Ini mengisyaratkan orang tua untuk selalu memperhatikan anak. Sebanarnya tidak ada alasan bagi orang tua bahwa kesibukan mereka untuk mencukupi kebutuhan dan menjamin kebahagian anak-anak mereka sehingga mengabaikan waktu bersama anak-anak. Seperti apa yang dikatakan oleh Robert H. Sculler, “Penghargaan diri dan kebahagiaan adalah hal yang berbeda. Membahagiakan anak adalah hal yang mudah, seperti memberikan apa saja yang diingininya, ini tidak memerlukan banyak upaya, tenaga dan tentu tidak memerlukan keberanian sepreti membantu seorang anak menjadi dewasa”.  Membantu seorang anak menjadi dewasa itu sulit karena mengubah persepsi dirinya. Tom Andreson, seorang Pastor, mengatakan “kadang-kandang satu ons persepsi membutuhkan satu ton pendidikan untuk mengubahnya”. Untuk itu peran orang tua dalam rumah menjadi dasar bagi pendidikan anak. Ibu Teresa mengatakan, keluarga adalah wadah yang dibentuk oleh Tuhan, yaitu tempat untuk memulai dan tempat untuk saling bertumbuh bagi dua pribadi yang terlibat di dalamnya, agar kasih Tuhan itu nyata.

RUMAHKU ISTANAKU

Setiap anak merindukan keluarga yang menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh anggotanya. Keluarga yang bagaimanakah yang mampu menjadika rumah sebagai istana?

  1. Keluarga sebagai wadah untuk belajar. Orang tua menjadi pusat pembentukan kongnitif, perasaan dan spiritual.
  2. Keluarga yang mencerminkan kasih Allah dengan penerimaan bersama, saling menopang dan mendukung dengan memiliki sifat saling menerima perbedaan, penuh pengampunan dan perdamaian serta mendahulukan keramahtamahan.
  3. Keluarga sebagai pelayan. Kemampuan untuk mengasihi dan melayani hendaknya mulai dati keluarga, keluar kepada teman dekat, dan kemudian kepada komunitas yang lebih luas.

Selamat bagi sahabat-sahabat remaja yang mengikuti Jambore PAR

Pendeta GMIT melayani  di jemaat Besnam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *