SAHABAT: Kawan atau Lawan?

SAHABAT: Kawan atau Lawan?

Pdt. Fransiskus Seran Nahak

Salah satu Program Pelayanan Klasis Amanuban Timur untuk anak dan remaja setiap tahun Jambore PAR yang dilakukan oleh setiap teritori. Ada jemaat yang yang juga melakaukan terlepas dari teritorinya.

Perhatian saya terhadap Anak dan Remaja masa kini yang membuat saya duduk sejenak untuk menulis. Fokus tulisan ini kepada remaja yang akan beranjak dewasa.

Ada banyak hal yang mengkhawatirkan yang dilakukan remaja masa kini, dari membolos sekolah, kecanduan internet, tawuran, pornografi dan porno aksi, komsusi minuman keras, duduk-duduk di pinggir jalan sampai tengah malam, dll. Siapakah yang harus disalahkan? Saya menghindar untuk mempersalahkan berbagai pihak karena banyak orang tua dan guru yang telah berusaha untuk menanggulangi dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang keras. Misalnya, orang tua atau pihak sekolah memberikan sangsi yang menakutkan, yaitu bagi yang melakukan kejahatan dalam bentuk apapun akan mendapat hukuman sekaligus stigma negatif. Dari tulisan ini saya mau mengajak para remaja untuk memperhatikan atau perlu kritis untuk memilih persahabatan.

Menjalin persahabatan dengan sekelompok teman sebaya merupakan awal perkembangan sosial remaja untuk belajar hidup bersama orang dan berada di dalam lingkungan anggota keluarga, lingkungan teman merupakan kelompok baru, yang memiliki ciri, norma, kebiasaan yang berbeda dengan yang ada dalam lingkungan keluarga. Dalam pergaulan ini, pengaruh seorang sahabat sangat kuat dan dapat mengakibatkkan perubahan perilaku remaja yang berupaya untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan pergaulan. Mengapa? Karena keakraban dalam persahabatan dengan teman-teman di luar lingkungan keluarga sangat erat sehingaa mereka satu dalam banyak hal. Mereka lebih saling terbuka dari pada dengan orang dalam keluarga. Malahan ada hal-hal yang dirahasiakan dengan keluarga khususnya orang tua.

Sebagai contoh, Herman tidak pernah merokok di dalam rumah tetapi ketika ia di luar bersama dengan teman-temanya , atas nama persahabatan ia merokok. Di sinilah persahabatan mengubah perilaku. Untuk itu, perlu sikap kritis untuk memilih sahabat atau kelompok-kelompok remaja lainnya.

Menurut E. B. Hurlock dalam bukunya “Developmental Psychology” menuliskan bebera kelompok bentuk remaja sebagai berikut:

  1. Kelompok “Chums” (sahabat karib)

Chums yaitu kelmpok remaja yang bersahabat karib dengan satu ikatan persahabatan yang kuat. Anggota kelompok biasanya memiliki minat, kemampuan dan kemauan yang hampir sama. Kesepahaman dalam bebera hal mengikat mereka menjadi akrap. Walaupun kadang-kadang terjadi perselisihan tetapi mereka muda melupakan perselisihan itu.

 

  1. Kelompok “Cliques” (kelompok sahabat)

Cliques biasanya terdiri dari 4-5 remaja yang memiliki minat, kemampuan dan kemauan yang sama. Cliques biasanya lahir dari penyatuan dua sahabat karib. Dalam kelompok ini remaja sering melakukan kegiatan bersama. Mereka banyak menghabiskan waktu dalam bermacam-macam kegiatan sehingga sering menyebabkan pertentangan dari orang tua mereka.

 

  1. Kelompok “Crowds” (kelompo banyak remaja)

Crowds biasanya terdiri dari banyak remaja, jumlah lebih besar dari kelompok cliques. Karena besarnya kelompok ini, maka keakraban emosi antar sesama anggota lebih minim.

 

  1. Kelompok yang Diorganisir

Kelompok yang sengaja dibentuk dan diorganisir oleh orang dewasa. Biasanya kelompok ini dibentuk melalui lembaga-lembaga tertentu misalnya sekolah dan yayasan.

 

  1. Kelompok “Gangs”

Gangs umumnya merupakan kelompok yang terbentuk dengan sendirinya, sebagai pelarian atau pembrontakan dari empat jenis kelompok di atas. Remaja tidak puas karena ditolak teman-temannya atau tidak dapat menyesuaikan diri dalam suatu kelompok kan membentuk kelompok sendiri, yaitu Gangs. Anggota Gangs dapat lawan jenis atau sama jenis. Biasanya anggota gangs remaja menghabiskan waktu menganggur dan kadang-kadang mengganggu remaja lain karena inggin membalas dendam.

Bagi para remaja, anda di dalam kelompok yang mana?

 Kita tidak dilarang untuk untuk mencari kesenangan, membangun cita-cita dan mencari persahabatan, karena kita akan menjadi manusia seutuhnya jika kita terlibat bagi orang lain. Kemenjadian ini mengarah pada keterlibatan yang lebih luas, seperti mewarga, memasyarakat, dan menegara (Driyarkara, 1977). Proses menjadi manusia adalah “proyek” yang terus-menerus dan tidak pernah usai. Jadi seorang anak mencari persahabatan itu adalah hal positif. Alkitab tidak melarang tetapi megisyaratkan agar selalu hati-hati, tidak keluar dari garis-garis asas yang ditentukan bagi hidup oleh penciptanya. Kita Pengkhotbah memperingatkan tentang hal itu:

Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu. Tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jaukanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudahan dan fajar hidup adalah kesia-siaan (Pkh 11 : 9 – 10)

Jika tidak berhati-hati memilih sahabat bisa terjebak dalam perilaku yang merugikan diri-sendiri dan merusak masa depan. Oleh sebab itu perlu bersikap kritis menilai kualitas sahabat melalui persahabatan. Apakah persahabatan tersebut memberi manfaat positif bagi hidup kita? Apakah kita dapat belajar bekerja sama, merasa dibutuhkan, dan merasa dihargai. Dan yang paling hakiki adalah apakah memului persahabatan kita dapat mengembangkan skill (keterampilan), kognitf (intlektual) maupun afeksi (sikap hidup)? Bagaimana dengan sahabat kita? Apakah mereka berperan positif dalam mengembangkan hidupmu atau justru sebaliknya menjerumuskan kita dalam perilaku yang tidak baik?

Dalam Alkitab kita temukan dua tokoh yang memberikan contoh sahabat sejati dan berkualitas. Misalnya persahabatan antara Daud dengan Yonatan Putra Saul. Meskipun Yonatan sadar bahwa Daud mengancam kedudukannya sebagai putra mahkota, tetapi ia tidak menaruh benci atau dendam malah sebaliknya Yonatan rela berkorban untuk sahabatnya (I Samuel 20). Amsal 17 : 17 mengatakan, “seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara di dalam kesukaran”. Kita juga memiliki sahabat sejati, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kata Tuhan Yesus, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Ku dengar dari Bapa-Ku (Yoh. 15:15). Yesus mau mengangkat kita menjadi sahabat bahkan Dia telah menjadi sahabat untuk kita.  Selamat mengikuti Jambore anak.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *