SAPI UNTUK ANAK ATAU ANAK UNTUK SAPI?

SAPI UNTUK ANAK atau ANAK UNTUK SAPI?

PDT. FRANS NAHAK

Bagi orang timor, khususnya di pedalaman, memiliki sapi memiliki harga diri dalam masyarakat. Tapi tak punya sapi tak ada harga diri karena dianggap miskin.
Jadi setiap keluarga pasti memiliki sapi.

Lebih baik anak besar tak sekolah asal menjadi gembala sapi di kampung.
Kalau pun anak disekolahkan, ketika anak minta uang sekolah tak ada uang walaupun ada sapi di kandang yang bisa dijual.

Saya teringat khotbah dari Pdt. Saneb Yohanis Ena Blegur, Mantan Ketua Klasis Amanuban Timur, pada hari Minggu, 19 Juli 2020 di Jemaat Paulus saat kebaktian Minggu. Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik.
“Melahirkan anak untuk sapi atau sapi untuk anak?”
Lalu jemaat menjawab, “sapi untuk anak!”.
Kemudian beliau mengatakan, “kalau demikian, jual sapi untuk kasih sekolah anak.” Artinya, pelihara sapi untuk menyekolahkan anak bukan untuk mempertahankan harga di kampung. Anak tak sekolah tapi ada sapi banyak.

Zaman sekarang harga diri keluarga ada di pendidikan anak-anak.
Orang akan bertanya, “anak sekolah di mana?” Orang tua akan bangga dengan berkata, kuliah di ini dan itu. Anak sarjana.”
Foto wisuda dipajang di dinding rumah.

Orang tak akan bertanya sapi di kandang berapa ekor? Karena jika bertanya demikian, maka bertanya tentang harga diri dalam rumah dan mencari tahu harta keluarga.
Tak ada foto sapi yang dipajang di dinding rumah.

Mengapa saya menulis ini? Karena pertanyaan khotbah tersebut masih didiskusikan sampai saat ini di jemaat Paulus Taebone.

Anak untuk sapi atau sapi untuk anak?

 

GMIT MENETAPKAN BULAN JULI SEBAGAI BULAN PENDIDIKAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *