SEMAKIN KE TENGAH SEMAKIN TENANG, MEMBUAT SUNGGUH-SUNGGUH BERDOA

SEMAKIN KE TENGAH  SEMAKIN TENANG, MEMBUAT SUNGGUH-SUNGGUH BERDOA

Pada waktu itu bulan Februari, kami bertolak dengan perahu motor dari Kalabahi ke Pantar Barat. Hujan cukup deras. Menurut juru mudi, sulit untuk membaca kemauan laut, namun saat itu terpaksa berlayar karena penumpang padat. Ada pula desakan dari beberapa orang untuk harus berangkat.

Walaupun demikian, saya memperhatikan masih ada penumpang keasikan bercerita sambil tertawa, ada yang main Handphone, jalan kian kemari. Ketika anak buah kapal menarik jangkar agar  perahu segera bertolak kesibukan masing-masing penumpang masih terus berlanjut. Perahu menyisir pinggir pantai Kalabahi. Saat memasuki tengah “mulut kumbang” penumpang semakin tenang. Apalagi gelombang disertai arus yang menerpa perahu yang kami tumpangi.

Lalu saya belajar bahwa semakin ke tengah semakin tenang. Manusia yang kelihatan masih bermain-main pertanda bahwa ia masih di pinggir.

Kata orang bijak pengalaman seseorang membuat orang semakin tenang menghadapi persoalan hidup.

Saya teringat ketika masih kecil mandi bersama teman-teman di kali Benenai. Ketika mandi di pinggir kali biasa bakejar-kejar di dalam air. Sembunyi batu di dalam air, dst.,tetapi ketika masuk ke tengah, ke dalaman air tidak bisa membuat kami bermain.

Dalam perahu yang kami tumpangi itu ada beberapa saudara/i Muslim memakai jilbab. Ada juga beberapa orang yang beragama Katolik, dari tata cara mereka berinteraksi dan menikmati makanan yang mereka bawa saya tahu bahwa itu saudara saya yang agama Katolik, dan saya dengan beberapa orang beragama Protestan.

Saya tak bisa bergerak apa lagi diajak bercerita karena takut sebelum berlayar. Memasuki  mulut kumbang gelombang cukup keras. Menatap ke depan perahu, sepertinya kami hendak mendaki bukit yang tinggi. Terpaan gelombang membuat semua dalam perahu basah. Membuat kami semua sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan Allah.
Semua memanggil nama Tuhan, “Tuhan Yesus Tolong!” Seruan dari kami yang beragama Protestan. “Allahu Akbar!” kata saudara saya yang Muslim. “Maria Bunda Yesus,” sambil mengucapkan rosarionya. Doa tak pernah berhenti sampai kami berlabuh di tambatan perahu. Tak ada seorang yang menilai dan menghakimi doa yang dipanjatkan oleh setiap penganut agama dalam perahu. Kami seperti dalam satu rumah beda agama yang berdoa bersama untuk keselamat kami. FN.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *