SENI atau PENYEMBAHAN BERHALA?

SENI atau PENYEMBAHAN BERHALA?

Pdt. Frans Nahak

“Pak, mengapa gereja hanya memberi tempat kepada seni suara dan seni musik dalam gereja, namun seni rupa kita singkirkan dalam gereja, karena kita anggap penyembahan berhala?
Saat hari raya gerejawi, misalnya, Natal gereja terbuka untuk ada ornamen-ornamen Natal, demikian juga Paskah,” kata seorang kawan saya saat kami mengikuti ibadah Minggu di salah satu gereja.

Dalam ibadah itu ada beberapa paduan suara yang mengisi liturgi ibadah. Diberi kesempatan untuk padua suara menyanyi, namun tak ada yang bertepuk tangan walaupun nyanyian begitu terpukau. Rupanya ada anggapan bahwa sajian mereka adalah pujian, dan bukan tontonan. Dan pujian tak pantas diberi aplaus. Tapi kalau sebaliknya, sajian pujian ternyata buruk, kita boleh mencibirkan mulut atau mencemoohkannya, kita harus menerimanya dengan berlapang dada dan sikap penuh keprihatinan. Mengapa kita harus menilai hati mereka yang ingin memuji Tuhan?

Gejala-gejala seperti ini bukan sesuatu yang begitu aneh di kalangan gereja-gereja kita. Seni diterima tanpa apresiasi karena sikap seperti itu dianggap sikap duniawi, tidak layak untuk diperlihatkan di lingkungan gereja. Sikap seperti demikian memunculkan pendapat bahwa gereja tidak peduli, masa bodoh terhadap ekspresi-ekspresi kesenian atau bahkan seni itu sendiri. Gereja menjauh dari karya seni.
Padahal seni itu merupakan ungkapan iman bukan penyembah berhala. Kita tidak boleh semena menghakimi bahwa itu penyebab berhala.
Paul Tillich, pernah bercerita pengalamannya ketika melihat sebuah lukisan yang sangat menyentuh dirinya. Dia merasa dekat sekali dengan Tuhan, bukan lukisan itu. Dalam gereja banyak patung-patung Yesus, Maria, Yusuf, namun ketika memandang kepada patung-patung dia merasa sangat dekat dengan Tuhan Allah.

Gereja protestan menyingkirkan seni rupa, gambar, patung Yesus, dalam gereja karena menganggap berhala, tapi perlu kita berevaluasi diri bahwa gereja kita tidak “steril” terhadap seni. Contoh bangunan-bangunan gedung gereja arsitektur gaya barat yang merupakan ekspresi iman. Atau misalnya ornamen Natal dan Paskah yang disebutkan kawan di atas.

Gejala menjauh dan memusuhi seni rupa barang kali dapat dijelaskan, bahwa kekuatiran kita yang kuat terhadap ungkapan-ungkapan iman secara visual yang cenderung disamakan dengan penyembahan berhala. Yohanes Calvin adalah salah satu tokoh yang menyebabkan tersingkirnya karya dan apresiasi seni dalam gereja dalam usahanya memperbaiki gereja. Calvin dengan eksperimennya di jemaat Jenewa menghapuskan semua ekspresi seni, yang tertinggal hanyalah nyanyian-nyanyian mazmur.

Sikap Calvin dikaitkan dengan cerita bangsa Israel yang membuat dan menyembah patung lembu emas di Padang gurun. Kalau diingat-ingat cerita ini di sekolah Minggu, cerita ini dikaitkan dengan sikap anti kepada seni.
Mungkin benar juga seperti yang dikatakan oleh Samuel Lauechli, “visual art reminds us of the Christians extra-ordinary Times with precisely the forces they claimed to have overcome, the pagan religions.”
Ketakutan Kekristenan terhadap seni rupanya memang sangat kuat didorong oleh semangat ikonoklasme yang pernah melanda abad permulaan, sehingga tanpa peduli semua ungkapan visual tersebut dihapuskan yang tinggal dalam teologi Calvin, hanyalah firman dan apa yang ditampilkan oleh firman tersebut, yakni khotbah secara verbal dan Alkitab yang terbuka menjadi lambangnya.

Kemudian gereja terjebak dalam verbalisme, ungkapan retorik yang dianggap lebih ampuh dari pada visual. Kemungkinan ini juga yang menyebabkan banyak orang yang mencari gereja aliran yang bisa mengungkapkan iman secara visual lewat pengalaman-pegalaman trans ekstase, yang tampaknya lebih mampu membuktikan kehadiran Allah di tengah-tengah jemaat, ketimbang lewat firman yang sering kali abstrak.

Seni sesungguhnya menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa, apabila dimanfaatkan dengan baik. Tidak dapat disangkal bahwa seni mampu mempesona orang sehingga membuat orang mengira bahwa apa yang diwujudkan oleh seni itu realitas sesungguhnya. Itulah yang dihadapi oleh Musa dengan patung anak lembu emas yang didirikan oleh Harun dan umat Israel, ketika merasa bosan menanti-nanti kedatangan kembali Musa dari gunung Sinai. Umat Israel tidak lagi melihat patung lembu emas sebagai tanda, melainkan sebagai apa yang ditandakan itu sendiri.

Namun demikian pada saat yang sama, kita juga diingatkan bahwa seni pun dapat mempunyai kekuatan untuk mendongkrak tembok-tembok yang mengungkung kita dalam pemikiran yang stereotipikal.
Misalnya, gambar klasik tentang wajah Yesus seorang Eropa: berkulit putih, mata biru, rambut pirang, dst. yang sama sekali tidak mewakili wajah orang Asia lalu kita menyebutnya itu wajah Yesus. Tapi sebaliknya, jika wajah Yesus dikontekstualkan menjadi wajah seorang Timor, rambut keriting, hidung pesek, dst., kita bertanya-tanya, mungkin tertawa geli.

Kita mengutip pengalaman Sri Rahmakrishna, seperti yang dikisahkan oleh C.S. Song dalam bukunya Allah yang Turut Menderita. Sri Rahmakhirshna bermimpi bertemu dengan Yesus yang berhidung pesek. Perjumpaan dengan Yesus seperti ini menyentakkan kita bahwa itulah hakekat yang sesungguhnya dari Inkarnasi, suatu proses dinamis yang menyebabkan Yesus justru menjadi demikian transenden.

Kalau kita kembali berbicara tentang seni adalah penyembahan berhala, maka kita pun dapat mengatakan hal yang sama, bahwa fiksasi terhadap gambar Yesus berwajah barat sehingga menjadi terasing dari lingkungan kita, justru adalah salah satunya. Bagi sebagian orang itu wajah Yesus yang sesungguhnya, sehingga setiap penyimpangan sekecil apapun itu tentu itu sebagai sebuah penyimpangan.

Seni mempunyai fungsi dan kemampuan yang sama dengan teologi. Seni mampu mengungkapkan sisi yang lain dari suatu realitas, maka teologi pun mempunyai kemampuan yang sama tersebut. Teologi mempunyai fungsi dan kemampuan untuk mengungkapkan dimensi-dimensi yang terdalam dari kehidupan, maka seni pun demikian. Seni dapat menciptakan suatu fiksasi sehingga kita menjadi fanatik dan terkungkung dalam satu pandangan yang stereotip hingga menjadi berhala, demikian pula teologi sesungguhnya bisa menjebak kita dalam cara berpikir yang semacam itu, sehingga kita tidak mungkin lagi melihat kemungkinan dari kehidupan ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *