SOLIDARITAS YANG MELAMPAUI BATAS

SOLIDARITAS YANG MELAMPAUI BATAS

Markus 1:1-12

Kita hidup dalam dunia yang terus menerus berubah. Perubahan itu juga terjadi dalam relasi sosial. Dahulu kita makhluk sosial yang suka bersosialisasi, membutuhkan sesama tapi sekarang kita menjadi manusia yang individual.

Dari segi ekonomi kita banyak uang, banyak harta, tapi kita miskin kawan. Banyak kawan di media sosial tapi miskin kawan di dunia nyata. Dunia maya hanya terdengar kata dan suara dari seorang sahabat tapi tidak mendapatkan sentuhan tangan nyata yang menolong kita yang tak berdaya. Padahal yang dibutuhkan adalah sentuhan tangan yang bisa menolong.

Menurut KBBI solidaritas adalah rasa kebersamaan suatu kelompok yang melibatkan kesetiakawanan untuk mencapai tujuan sama. Emile Durkheim, mengatakan bahwa solidaritas adalah keadaan saling percaya antar anggota kelompok atau komunitas. Jika orang saling percaya mereka akan menjadi satu atau menjadi sahabat, menjadi saling menghormati, menjadi saling bertanggung jawab untuk saling membantu dalam memenuhi kebutuhan antar sesama.

Kita belajar dari cerita orang lumpuh disembuhkan.

PERTAMA, Solidaritas yang melampaui rintangan. Ayat 2:4.

Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.

Tidak ada jalan dan tempat tapi keempat orang tidak putus asa membantu si lumpuh. Perbuatan mereka tak lazim. Dengan tekad mereka naik ke atap rumah. Umumnya rumah di zaman itu beratap rata dan setiap rumah ada tangganya. Menurut Lukas rumah itu bergenteng. Sedangkan menurut Markus, menggunakan istilah “exerusxantes” artinya menggali untuk menembus , lapisan rumput, plester dan genteng lalu menurunkan. Dalam bahasa Yunani proses ini tampak dari kata-kata “apestegasan” (mereka membuka sebagian atap) “ten stegeen” (dari atap itu) “exoruxantes” (menggali sampai tembus) “khaloosi” (menurunkan). Jadi keempat orang naik ke atas rumah lalu membuka genteng-genteng itu dengan cara menggalinya melubangi ukuran sebesar manusia lalu menurunkannya. Ini pekerjaan tidak mudah tapi mereka melakukannya. Solidaritas yang melampaui halangan dan rintangan.

Mengapa keempat orang berani melakukan itu?

1. Keyakinan dari mereka kepada Yesus bahwa Ia bisa menyembuhkan orang lumpuh. Yesus melihat Iman mereka. Markus 2:5a “Ketika Yesus melihat iman mereka…dst ..”

Iman kelompok mendatang mukjizat. Solidaritas kelompok membuat kita bisa mengatasi segala rintangan dan mendatangkan mukjizat.

2. Rasa simpati dan empati kepada si lumpuh yang membuat mereka menolongnya melewati segala rintangan. Solidaritas karena simpati dan empati tergerak dari hati yang tulus.

3. Menolong si lumpuh atas dasar kemanusiaan sebagai sesama yang harus ditolong. Menolong karena kemanusiaan tanpa memandang suku, agama, golongan, gender, dll.

KEDUA, Yesus adalah Tuhan yang tidak hanya menyembuhkan secara fisik tapi batin sehingga Markus 2:5b mengatakan, ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”. Kesembuhan dan kelepasan secara total datangnya dari Tuhan. Kita saling menolong untuk datang kepadaNya, Ia sangat solider dengan manusia. Ia siap memulihkan mereka yang terbeban dan sakit. Ia sahabat dan kawan yang sejati. (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *