SPIRIT PELAYAN SEPERTI SEORANG PETANI YANG BEKERJA DENGAN CINTA KASIH

SPIRIT PELAYAN SEPERTI SEORANG PETANI YANG BEKERJA DENGAN CINTA KASIH

Seratus persen jemaat yang saya layani petani. Menanam menunggu musim hujan. Tahun ini ketika saya diundang untuk doa syukur hasil panen dari kebun, ada keluarga yang hasil panen cukup banyak, namun ada pula yang mengeluh tentang hasil kebun tahun ini yang mengecewakan.

Apakah kita mempersalahkan tanahnya? Jika demikian, kita berdosa kepada Tuhan yang menciptakan pulau ini. Tuhan menciptakan segala sesuatu sungguh amat baik termasuk pulau karang ini.

Tahun sembilan puluhan saya hidup bersama kedua orang di kampung. Bapak saya seorang petani. Bekerja siang dan malam di kebun untuk merawat hidup kami.
Pondok di kebun itu rumah kami. Kadang bapak tidak pulang, jadi saya bersama mama dan adik-adik yang ikut ke kebun.

Bapak tidak pulang sejak benih yang ditaburkan di kebun kami tumbuh. Semak dan rumput yang mengganggu pertumbuhan dicabut dan dibuang jauh-jauh. Batu yang banyak di kebun dikumpulkan dan dibuat menjadi pagar untuk melindungi tanaman dari binatang liar. Bapak mengenal setiap tanaman dalam kebun sesuai jenis dan namanya. (tanaman jagung, kacang nasi, ubi, dll.) Kadang bapak menyanyi, bersiul saat membersihkan rumput. Menurut bapak, menyanyi dan bersiul itu penting agar jagung dan tanaman lain tidak merasa kesepian.

Bapak begitu cinta kepada kebun dan tanaman dalam kebun. Ia tidak hanya menaruh perhatian kepada benih yang tumbuh tetapi juga kepada kebun (tanah) serta pertumbuhan tanamannya.
Cinta kepada kebun dan tanaman yang membuat setiap tahun loteng kami penuh dengan jagung. Pisang berbuah bertandang-tandang, apalagi ubi kayu dan kacang hijau.
Bapak belum mengenal teknologi pertanian.

Bapak tidak seperti petani yang setelah menabur benih pergi dan kembali saat benih tumbuh. Kemudian melihat benih tumbuh dengan subur pergi menceritakan kepada orang lain dan tidak kembali lagi ke kebun. Atau datang membersihkan rumput yang tumbuh bersama benih, setelah itu ia pulang berlama-lama lalu kembali benih yang tumbuh mati dihimpit oleh rumput.
Seorang petani bekerja dengan cinta kepada tanah, tanamannya. Cinta itu diwujudkan dengan tidak meninggalkan kebun saat benih itu tumbuh. Mengenali setiap jenis tanaman sesuai namanya.

 Mencabut rumput yang tumbuh menghimpit tanaman dan membuat pagar bagi tanamannya. Ia bernyanyi bersama tanamannya.

Bukan salah tanahnya, bukan tanamannya, bukan juga rumput, tapi petani harus terus mengoreksi diri.Tidak saling mempersalahkan.

Jika petani bekerja kebun dengan cinta maka pulau karang ini adalah pulang madu dan susu.

Orang tua sebagai seorang petani, membuat saya berefleksi ketika ditempatkan di jemaat yang seratus persen petani.

Bergumul bersama mereka merawat tanaman yang tumbuh di kebun, tanah, yang susah airnya tapi juga melayani mereka sebagai seorang pendeta.

Spirit seorang petani yang bekerja dengan penuh cinta kasih kepada tanah dan tanaman, menjadi spirit seorang pelayan yang melayani dengan penuh cinta kasih kepada jemaatnya. Jika melayani dengan cinta kasih di jemaat manapun dalam konteks apapun jemaat akan bertumbuh dalam iman kepada Yesus Kristus. FN

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *