SPIRITUALITAS DIAKEN

SPIRITUALITAS DIAKEN

PENGANTAR

Panitia penyelenggara acara lokarya ini meminta saya untuk mempersiapkan Pemahaman Alkitab sebagai cara memahami topik ini. Secara tradisional PA selalu berarti memilih sebuah teks atau perikop dari alkitab, ditafsir dan disertai beberapa pertanyaan sebagai pandu untuk berdiskusi. Pada akhir diskusi dirumuskan kesimpulan-kesimpulan demi mencapai tujuan tema yaitu spiritualitas diaken.
Tetapi untuk kali ini izinkan saya membahas topik ini dengan cara yang agak berbeda, walau tetap mengacu pada teks-teks alkitab. Saya membahas lebih dulu apa itu spiritualitas. Selanjutnya saya memilih beberapa teks dan perikop untuk mencari makna spiritualitas pelayanan sekaligus spiritualitas para pelayan gereja yang mencakup juga spiritualitas diaken.
Semoga dengan cara ini kita bisa memahami sedikit dari makna spiritualitas pelayanan dan spiritualitas para pelayan, termasuk para diaken.

Spiritualitas, apa artinya ?

Kata dasar spiritualitas adalah spirit yang berarti roh (r kecil) jika dihubungkan dengan manusia, jadi roh manusia atau roh zaman atau Roh (R besar) jika dihubungkan dengan Roh Allah atau Roh Kudus. Dalam diskusi ini saya memakai kedua makna tersebut secara simultan. Dalam alkitab kata yang diterjemahkan dengan roh atau Roh dapat juga diartikan sebagai angin, daya (=kuasa), tenaga, semangat (Kisah Para Rasul 1:8: “kamu akan menerima kuasa). Banyaknya pengertian ini menjelaskan bahwa spirit dan spiritualitas adalah kuasa yang membangkitkan daya, tenaga dan semangat sekaligus mengarahkan manusia untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dengan demikian spiritualitas itu ada di dalam hati dan pikiran orang dan bekerja dari dalam. Oleh karena itu spirit dan spiritualitas itu tidak kelihatan namun bisa disimpulkan dari cara bertutur, cara bertindak, cara bekerja (dhi: cara melayani) dan cara berelasi dengan sesama manusia. Dengan kata lain spirit dan spiritualitas itu membentuk motivasi. Jadi secara teknis motivasilah yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan. Pertanyaan-pertanyaan seperti: mengapa engkau melakukan hal itu; mengapa engkau tidak mengerjakan hal itu; engkau tahu bahwa jalan itu berbahaya tetapi mengapa engkau lewat jalan itu; orang itu adalah orang jahat, mengapa engkau berteman dengan dia; adalah pertanyaan-pertanyaan mengenai motivasi.
Jadi jika kita mau membahas Spiritualitas Diaken maka kita bertanya kekuatan, daya dan semangat apakah yang ada dalam roh manusia yang berjabatan diaken sekaligus kekuatan, daya dan semangat apakah yang Roh Kudus Allah ciptakan dalam roh manusia yang bernama diaken untuk menolong melaksanakan tugas diaken dengan sebaik-baiknya, yaitu tugas-tugas yang telah ditetapkan oleh gereja (dhi: GMIT). Dengan rumusan ini saya maksudkan bahwa Roh Kudus Allah yang masuk ke dalam hati manusia tidak membunuh atau meniadakan roh manusia, melainkan membaharuinya, melengkapinya dan mengarahkannya agar manusia bertutur kata, bertindak, bekerja (=melayani) menurut kehendak Roh Kudus.

Motivasi yang Roh Kudus hidupkan dari roh manusia (dhi: diaken)

Pertama, kita belajar dari Tuhan Yesus yaitu dari sikap-Nya dan dari ajaran-Nya.
Kita tahu bahwa Yesus dituntun oleh Roh Kudus, di Matius 3:16 tertulis: “Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya.” Juga di Matius 4:1 tertulis: “Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” Ada banyak nas seperti ini yang tertulis juga tentang Petrus, Filipus, Paulus dan banyak pelayan lainnya. Ada tiga point.

Satu, Ternyata dari alkitab bahwa Yesus melayani berdasarkan belas kasih. Kita baca Matius 9:36; 14:14; 15:32; 20:34; Markus 1:41; 6:34; 8:2; Lukas 7:13. Selain itu kita baca bahwa Yesus mengajarkan dan menghendaki bahwa manusia, khususnya murid-murid-Nya harus bertindak berdasarkan belas kasih: Matius 9:13; 12:7; Lukas 10:33, 37; Lukas 15:20 dll.
Semua teks yang kita baca menunjukkan bahwa Roh Kudus membangkitkan semangat belas kasih sebagai daya, kekuatan dan dorongan agar Tuhan Yesus menaruh perhatian untuk melayani dan menolong manusia. Juga Yesus mengajarkan bahwa para murid yang taat kepada-Nya adalah mereka yang membuka hatinya untuk dipenuhi (atau: didiami) oleh Roh Kudus agar Roh Kudus itu membangkitkan semangat dan motif belas kasih untuk dan dalam melayani. Spirit dan motif belas kasih mendorong murid-murid Yesus (baca: para diaken) untuk melayani dengan rela, tidak bersungut-sungut (sebelum, selama atau sesudah melayani), dengan semangat berkorban dan tidak mencari untung bagi diri sendiri.

Dua, Secara khusus kita periksa pengajaran Yesus dalam Matius 25:31-46. Di perikop ini Yesus menyamakan diri-Nya dengan orang sakit, orang lapar, orang haus, orang telanjang, orang terpenjara, orang asing dan semua orang lain yang membutuhkan pertolongan. Sikap menyamakan diri ini kita sebut juga sikap solider atau semangat solidaritas. Dengan mengajarkan hal ini maka Yesus mendorong para murid untuk berlaku, bertindak dan melayani dengan semangat kemanusiaan dan keyakinan iman. Keyakinan iman bahwa pelayanan diakonia dan pelayanan kemanusiaan lainnya yang para pelayan dan gereja lakukan kepada mereka yang memerlukan pertolongan adalah gambaran dari Yesus sendiri. Karena itu mereka yang dilayani diperlakukan dengan sopan dan dengan hormat seakan-akan pelayanan itu adalah pelayanan kepada Yesus sendiri. Saya yakin di sinilah kelebihan pelayanan diakonia dari pelayanan pemberitaan firman Tuhan. Seorang pemberita berbicara kepada manusia, tetapi seorang diaken melayani Tuhan Yesus.

Tiga, Yesus juga mengajarkan bahwa pelayanan diakonia kepada mereka yang lapar, sakit, terluka dll juga mencakup tugas kegembalaan. Kita baca ini secara khusus dalam Yohanes 10:2-4. Dari banyak teks dalam alkitab kita tahu bahwa gembala itu mengeluarkan domba-dombanya dari kandang karena dan untuk membawa mereka menemukan makanan dan minuman di tempat yang pantas. Dengan demikian Tuhan Yesus mengajarkan bahwa tugas memberi makan dan minum (tugas diaken) sekaligus adalah tugas gembala untuk terus menyertai dan memberi rasa aman, memberi perlindungan dan pembelaan dari ancaman bahaya. Di sini pelayanan diakonia adalah juga pelayanan kegembalaan. Maka diaken juga adalah gembala dan bukan sekedar pramu-saji yang merasa tugasnya selesai sesudah ia menyajikan makanan dan minuman.

Dengan belajar dari Yesus kita tahu bahwa spirit atau motif yang menjadi daya, kekuatan yang memberi semangat melaksanakan tugas diakonat adalah iman, belas kasih, kemanusiaan dan semangat gembala.
Kedua, kita belajar dari Paulus. Dalam kesempatan yang terbatas ini saya memilih satu teks dari surat 1 Korintus yaitu 1 Korintus 9 : 23 – 27. Dari teks ini kita menemukan tiga hal.

Satu, semangat menghamba (ayat 19). Menghamba bukan karena atau bukan untuk diperhamba oleh manusia, melainkan menghamba karena memberi diri melayani dengan semangat hamba. Seorang diaken adalah seorang yang bebas, yang merdeka karena Yesus Kristus telah membebaskan dan memerdekakannya dari rupa-rupa kuasa penjajah. Namun seorang diaken belajar mengikuti Yesus yang mengosongkan diri menjadi hamba (Filipi 2:5-11). Jadi pelayanan dengan semangat mengamba adalah pilihan sukarela karena Kristus.

Dua, tujuan utama dari memberi diri melayani sebagai hamba adalah untuk memenangkan sebanyak mungkin orang bagi Yesus Kristus (ayat 19) dan juga supaya pelayan yang memberi diri melayani mendapat selamat (ayat 23.25). Inilah yang Paulus sebut “kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar ….” (Filipi 2:12). Dengan kata lain seorang diaken yang memberi diri melayani dengan semangat hamba adalah pertanggungjawaban iman atas keselamatan yang telah ia terima dari Tuhan Yesus, agar ia tidak kehilangan keselamatan itu. Di sini kita harus berhati-hati agar tidak memanfaatkan orang-orang yang kita layani sebagai alat mendapat selamat atau sebagai karcis masuk sorga. Karena kita tahu bahwa kita selamat bukan karena kerja kita, bukan karena amal kita tetapi karena anugerah Allah (Efesus 2 : 8 – 10). Tetapi dengan melaksanakan pelayanan diakonia dengan iman, belas kasih, semangat menghamba, semangat gembala demi kemanusiaan maka kita merawat keselamatan yang sudah diperoleh dengan cuma-cuma itu.

Tiga, pelayanan itu membutuhkan disiplin diri dan penguasaan diri (ayat 25,27). Pelayanan diakonia adalah pekerjaan Tuhan dan Tuhan memanggil serta memilih warga gereja tertentu sebagai diaken untuk melaksanakan pelayanan Tuhan dengan memberi diri menjadi kawan sekerja Allah, yang bekerja bersama Allah atau sebaliknya yang memberi diri agar Allah melayani melalui pelayanan diaken. Diaken tidak bisa melayani suka-suka, pilih-pilih orang atau
melayani kapan-kapan ia suka. Tidak! Ia wajib mendisiplin diri dan menguasai dirinya begitu rupa sehingga pelayanan diakonia selalu bisa dikerjakan dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya sebagaimana Allah dalam Yesus Kristus mengerjakannya.
Selanjutnya dalam GMIT pelayanan diakonia itu adalah bagian dari pelayanan lainnya. Karena itu diaken adalah bagian dari pelayan lainnya seperti pendeta, penatua dan diaken. Sebab mereka semua adalah kawan sekerja Allah, yang bekerja bersama Allah, maka mereka adalah kawan seorang dengan lain.

Penutup.

Semoga bermanfaatkan dengan memberi keluasan pemahaman dan pencerahan.
Terima kasih. (SVN).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *