SYUKUR PANEN JEMAAT BET’EL NUNUKNITI-KLASIS AMANUBAN TIMUR

SYUKUR PANEN JEMAAT BET’EL NUNUKNITI-KLASIS AMANUBAN TIMUR

Setiap tahun jemaat-jemaat di Klasis Amanuban Timur melaksanakan syukur panen. Biasanya ibadah syukur panen dilaksanakan pada saat perayaan Pentakosta atau syukur Pentakosta.

Jemaat Bet’el Nunukniti melaksanakan ibadah syukur panen pada kebaktian syukur Pentakosta (6/6).

Menanggapi hasil panen tahun ini, Pdt. Ananda M-Faot, mengatakan bahwa hasil panen jagung tahun ini berkurang.

“Tahun lalu hulu hasil yang masuk ke gereja sembilan puluh kuda, sedangkan tahun ini hanya tujuh puluh tiga kuda, itu pertanda bahwa hasil jagung tahun ini kurang bagus,” kata Pdt. Ananda.

Satu kuda empat ikat jagung, maka tujuh puluh tiga kuda dua ratus sembilan puluh dua ikat. Satu ikat empat puluh bulir, maka dengan demikian dua ratus sembilan puluh dua ikat sebelas ribu enam ratus delapan puluh bulir.

Sebagai rasa ungkapan syukur jemaat, maka dalam kebaktian liturginya dikemas dalam nuansa budaya suku Dawan. Nyanyian syukur panen dalam bentuk bonet dan syair Natonis serta tarian, ketika masing-masing keluarga menghantar hulu hasil ke meja altar.

Dalam penyampaian khotbah yang terambil dari Kitab Yoel 2:18-29, Pdt. Ananda M-Faot memberikan beberapa pokok refleksi: Pertama, Tuhan adalah satu-satunya sumber berkat, carilah berkat itu di dalam sumber berkat itu. Kedua, jika kita hidup dalam pertobatan, berkat yang Tuhan beri tidak hanya kebutuhan hidup namun Tuhan hadir dalam kehidupan kita melalui Roh Kudus yang akan menjadi pemimpin dan mengarahkan hidup kita sesuai kehendak-Nya. Ketiga, kalau tahun ini tanah di Nunukniti masih memberi hasil maka ini merupakan pengenapan janji Tuhan.

Jemaat Bet’el Nunukniti 219 kepala keluarga dan 90% pekerjaan jemaat sebagai petani tradisional yang menanam tergantung pada musim. (FN)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *