TAK KALA PEMERINTAH TIDAK LAGI MENJADI HAMBA ALLAH

TAK KALA PEMERINTAH TIDAK LAGI MENJADI HAMBA ALLAH

ROMA 13:1-7

 Kita sering mendengar orang-orang tertentu mengutip ayat-ayat kitab suci untuk melegitimasi kebutuhannya, atau menggunakan ayat-ayat kitab suci untuk membela dirinya. Misalnya, dalam rumah tangga isteri terlalu cerewet kemudian suami mengutip ayat kitab suci yang berbunyi: “hai isteri-isteri tunduklah kepada suamimu……dst.,” untuk membungkam isterinya.

Pemerintah mengeluarkan program KB (Keluarga Berencana) dua anak lebih baik, tetapi kita bilang “Tuhan berfirman beranak cuculah dan penuhi bumi.” Kita juga pernah mendengar para politikus mengutip kata-kata dalam kitab suci untuk berkampanye, misalanya “tidak ada yang mustahil Bagi Allah, pemimpin yang takut Tuhan, barsama Allah pasti kita bisa membuat perubahan, dll”. Walaupun dalam kenyataanya berbanding terbalik, setelah ia terpilih menjadi anggota dewan atau kepala pemerintahan. Orang biasa bilang “para politikus menyampaikan kebenaran untuk menutupi kebohongannya”. Mustahil masyarakat kecil diperhatikan karena sibuk mengumpulkan kembali uang yang selama ini digunakan untuk kampanye.

Ayat dalam bacaan (Rom. 13:1-7) saat ini sering juga dikutip untuk menaklukkan hati rakyat. Mengapa demikian?

Karena ketika berbicara menggunakan ayat-ayat kitab suci memberi kesan bahwa dia adalah orang rohani. Ayat kitab suci adalah firman Allah tak bisa dilawan jika melawan berarti melawan Tuhan.

Saya pernah mengikuti satu kegitaan yakni sosialisa mengenai manfaat membayar pajak dan dampaknya kepada masyarakat. Dalam kata sambutan si anu berdiri memulai dengan mengatakan bahwa “pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan masyarakat maka kita wajib membayar pajak, dst.” Ia mengutip Roma 13:4.

Dalam bacaan Roma 13:1-7 jika kita membaca dan tidak mengerti konteksnya, maka kita diajar untuk harus takluk kepada pemerintah (Ay.1) secara mutlak. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh pemerintah kita harus mengikuti secara mutlak karena pemerintah adalah hamba Allah. Tetapi ketika pemerintah melakukan ketidakadilan, KKN, para elit hidup hedonis di atas penderitaan rakyat, hukum di negeri ini hanya memihak kepada para pejabat, kebijakn ekonomi yang hanya menguntungkan orang-orang tertentu, pembangunan yang tidak adil dst.. Apakah pemerintah masih hamba Allah? ataukah menjadi hamba setan?

Ada alasan mengapa Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Roma dengan menyebut pemerintah adalah hamba Allah. Kurang lebih ada dua alasan yang melatarbelakangnginya . Pertama, pada waktu itu Roma menjadi tempat pelarian dan perlindungan bagi orang Kristen yang dikejar oleh orang Yahudi. Berkali-kali Paulus meminta perlindungan dari pengadilan Romawi ketika ia mau dibunuh oleh orang-orang Yahudi karena memberitakan Injil. Pada zaman itu, seluruh dunia termasuk kekaisaran Romawi, dari Britania sebelah barat sampai ke Persia di timur, dari Jerman di utara sampai Afrika di selatan. Dunia adalah milik Romawi. Orang-orang bersyukur karena ada pemerintahan Romawi. Di bawah kekuasaan Roma orang mendapat kesempatan untuk melakukan usahanya, memenuhi kebutuhan keluarganya, mengirimkan surat-surat, berpergian ke mana saja dengan aman berkat tangan kuat Roma. Sampai sekarang orang masih berbicara tentang Pax Romana, yaitu perdamaian Romawi. Konteks seperti inilah yang membuat Paulus dalam suratnya ini mengatakan bahwa pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu, maka takluklah kepada pemerintah (ay. 4a).

Kedua, Pada waktu itu orang-orang Yahudi yang terkenal suka membrontak di Palestina terutama di Galilea. Selain dari itu, ada golongan Zelot; mereka yakin bahwa tidak ada raja bagi orang Yahudi kecuali Allah; dan tidak ada pajak yang harus dibayar kepada pemerintah, kecuali kepada Allah. Mereka tidak puas dengan perlawanan pasif. Mereka yakin bahwa Allah tidak akan menolong mereka kecuali mereka memulai tindakan kekerasan dengan melawan pemerintah. Mereka adalah nasionalis fanatik, yang bersumpah untuk menggunakan cara-cara teroris. Mereka tidak hanya melakukan teror kepada pemerintah Romawi tetapi juga kepada orang-orang Yahudi. Mereka menghancurkan rumah-rumah, membakar tanaman-tanaman dan membunuh sesama orang Yahudi yang membayar pajak kepada pemerintah Romawi.

Dari latar belakang inilah Paulus berbicara tentang orang Kristen harus takluk kepada pemerintah. Karena pemerintah menciptakan kedamaian, kesejahteraan, kebebasan, pelindung bagi mereka yang mencari keadilan, dst. Bahasa Alkitabnya adalah menghadirkan kerajaan Allah.

Bagi Paulus, perintah ini merupakan perintah Allah kepada gereja (orang Kristen) segala abad, yang memang dapat dibenarkan secara logis. Ada dua alasan . Pertama, bahwa Allah adalah mutlak pemegang pemerintahan atas bangsa-bangsa. Dialah yang menepatkan para pemegang pemerintahan, dan dibelakang segala pemerintahan di dunia yang ada adalah kedaulatan-Nya (2 Sam 12:8; Yer. 27:5; Dan 2:21 dst.). Kedua, bahwa setiap orang Kristen harus mengakui negara, menaati kekuasaan yang sah, selama ketaatan ini tidak bertentangan hukum Allah atau dengan kuasa Kristus.

Pemerintah hamba Allah (hamba: diakonos: pelayan meja), melayani masyarakat yang juga adalah warga gereja. Tugas hamba adalah melayani, menyedikan segala seusuatu bagi kebutuhan tuanya. Pemerintah ada untuk melayani masyarakat, menciptakan kedamaian, tidak mengumbar janji, hukum memihak kepada yang benar, menciptakan kesejahteraan, tidak pilih kasih, dll. Intinya bahwa pemerintah menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah. Sama juga dengan misi gereja, yaitu bekerja menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Tetapi jika pemerintah tidak lagi menciptakan keadilan, kedamaian, tidak lagi menempati janji untuk kebaikan bersama, pilih kasih, dll, maka kita perlu mengkritisi.

Menjadi hamba Allah berarti Allah-lah yang menetapkannya untuk melayani tujuan-Nya. Sebagai orang Kristen harus mentaati pemerintah sebab ia memelihara tata tertib untuk kebaikan dan menghukum yang jahat

Pemerintah adalah hamba Allah bukan raja, berarti tidak menuntut kemewahan fasilat yang moderent melaikan memprioritaskan pelayanan kepada masyarakat. Tahun depan kita akan mengikuti pesta demokrasi, yaitu pemilihan umum, baik pemelihan anggota DPRD, DPRI dan DPD kemudian pemilihan presiden dan wakil presiden. Banyak calon-calon yang mengkampanyekan dirinya dan mengaku sebagai hamba untuk melayani masyarakat dengan visi dan misi yang menakjubkan. Tawaran-tawaran yang menggiurkan. Mereka seperti malaikan siang bolong. Sebagai bentuk ketaatan kita kepada negara mari kita berprtisipasi dengan “kritis” dan berdoa agar Tuhan memberikan kita hikmat dan mengetahui siapa yang benar-benar hamba Allah dan mana yang akan menjadi bos.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *