TANAH PALESTINA MILIK SIAPA?

TANAH PALESTINA MILIK SIAPA?

Beberapa waktu lalu kami duduk  menyaksikan di tv tayangan konflik Israel dan Palestina. Mayoritas dari kawan-kawan saya memihak kepada Israel karena menurut ajaran kitab suci kami, Palestina adalah tanah perjanjian. Tanah itu dijanjikan kepada Abraham, Isak dan Yakob. Tetapi ada seorang kawan saya yang mengatakan bahwa memang Tanah Kanaan yang diyakini milik Abraham atau Ibrahim dalam sejarah, tetapi tanah itu sudah berpindah tangan ke setiap imperium.

Kemudian kawan ini bercerita panjang lebar tentang: Tanah Palestina Milik Siapa? Membingungkan saya, namun saya meminta agar ia perlahan cerita lalu saya menulis.

Tanah Kanaan merupakan tanah yang sangat strategis antara Mesir dan Mesopotamia, namun sesungguhnya bukanlah tanah yang kosong tanpa penghuni. Dari segi Alkitab memang merupakan sejarah yang sangat panjang, tetapi kita melihat bahwa sekitar tahun 9000 sM. sudah ada tanda-tanda kehidupan yang ada di Yerikho yang adalah salah satu kota dari Kanaan, yang kemudian diberi nama Palestina. Lalu abad ke 16 sM sampai abad 13 sM. daerah sekitar Mesir dan Mesopotamia yang sering disebut tanah Kanaan adalah daerah yang dikuasai oleh Mesir. Jadi sebelum Israel masuk ke tanah Kanaan, hak milik daerah itu pertama-tama dikuasai oleh Mesir di zaman kuno.

Masa bapak-bapak leluhur Israel seperti Abram kurang lebih hidup di era itu. Kita tahu bahwa Abram sendiri bukanlah penduduk asli Kanaan, tetapi ia berangkat dari satu tempat yang namanya Ur. Kota itu sampai sekarang letaknya tidak dapat ditentukan, tetapi diperkirakan salah satu kota di Irak. Jadi sebenarnya perjalanan Abram dari Irak ke Kanaan adalah sebuah proses mencari tempat yang baru. Tentu dalam narasi pemahaman iman umat Israel kemudian, kedatangan Abraham ke tanah itu dilihat sebagai sebuah peristiwa yang turut melibatkan hubungannya dengan Tuhan.

Dalam Kejadian 12:1-3 dikatakan bahwa ke negeri yang akan “Kutunjukkan kepadamu,” hal itu sudah bicara soal tanah dengan kata lain, motivasi Abram berangkat dari negeri asalnya menuju Kanaan karena akan diberikan kepadanya suatu tanah atau negeri yang baru dan itu berlaku dalam keturunannya. Ketika Abram tiba di tanah itu, dia berhadapan dengan banyak sekali suku bangsa yang berada di daerah itu. Siapa saja bangsa itu? Alkitab tidak memberi daftar yang lengkap. Sebagai contoh dalam Kej. 15:18-21; Ul. 7. Intinya mau dikatakan bahwa Tuhan menjanjikan kepada Abraham tentang satu tanah yang berbatasan dengan Mesir dan sungai Efrat, sekarang daerah Libanon, Yordan termasuk gurun Sinai dan kemudian menjadi tanah sengketa Israel dan Palestina.

Jika kita membaca narasi-narasi dalam kitab Kejadian, khususnya kita melihat bahwa Abram tidak menggunakan kekerasan untuk memperoleh tanah itu. Dia masuk dan bernegosiasi dan beberapa kali dia membeli tanah, ketika Sara, isterinya meninggal dia bernegosiasi untuk mendapatkan sebuah makam di Mahpela. Kita tidak mendapat kesan bahwa ada upaya dari kelompok Abram untuk menaklukan bangsa-bangsa sekitarnya. Ini catatan penting tentang kepemilikan tanah itu. Jadi sebenarnya Abram dan anak-anaknya mempunyai tanah di Kanaan masih dalam bentuk janji .

Dalam perkembangan kemudian kita melihat bahwa Israel harus berpindah ke Mesir, maka dengan demikian mereka pun tidak secara permanen tinggal di tanah itu. Mereka tinggal di Mesir, kemudian abad ke 12 sM, menurut kisah yang dituturkan dalam Taurat bahwa mereka kembali ke tanah Kanaan. Dalam Kitab Yosua kita membaca bahwa suku-suku bangsa Israel itu pindah dari Mesir lalu kembali ke Israel dan mengambil kembali tanah itu kemudian dibagi-bagi kepada suku-suku Israel.

Gambaran ini harus kita seimbangkan dari kitab Hakim-Hakim karena dalam kitab tersebut, kita memperoleh kesan bahwa tanah itu tidak dikuasai seluruhnya. Proses kepemilikan tanah tidak melibatkan seluruh suku bangsa di sekitarnya. Proses kepemilikan tanah Israel yang menyeluruh baru terjadi pada dinasti Daud dan Salomo. Batas wilayah yang ditaklukan zaman Daud sangat luas mencakup daerah Libanon, daerah seberang Yordan sampai dekat Mesir. Ini era yang disebut Israel bersatu, namun kemudian sejarah mencatat bahwa itu tidak berlangsung lama karena sesudah Salomo kerjaan itu terbelah dua, yakni 10 suku di sebelah Utara dan kemudian 2 suku menjadi kerajaan Yehuda. Hal ini menjadi soal yang sangat kongkrit ketika kita bicara tentang sejarah dan siapa yang menghuni tanah itu.

Fakta sejarah membuktikan bahwa Israel Utara yang berpusat di Samaria, kahirnya ditaklukan oleh imperium Asyur sekitar tahun 722 sM abad ke 8. Daerah sebelah Utara menjadi daerah kekuasaan Asyur dengan kata lain orang-orang di Israel Utara tidak lagi menjadi pemilik tanah itu. Kemudian pada tahun 586 sM ketika imperium Asyur digantikan oleh Babel, bagian Selatan juga kemudian lepas juga ke dalam tangan Babel, maka hak milik atas tanah pindah tangan kepada kerjaan Babel. Jadi kita pelajari bahwa sikap Israel kepada Tuhan membuat mereka tidak memiliki hak permanen atas tanah Kanaan.

Kemudian muncul kerjaan Persia sebagai kekuatan baru dan tanah itu pindah tangan ke imperium Persia. Abad ke 4 sM. sesudah Alexander Agung menaklukan daerah-daerah di laut Tengah, maka tanah itu pindah tangan kerajaan Yunani. Jadi boleh dikatakan sampai zaman PB yang menguasai daerah Palestina (nama Palestina baru digunakan kemudian hari) dan kepemilikan tanah berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Di masa imperium Roma, zaman Yesus, praktis daerah disebut sebagai daerah Palestina sebenarnya adalah daerah yang memiliki kedaulatan tersendiri karena menjadi daerah jajahan dari imperium Romawi. Ada satu periode pada masa sebelum Perjanjian Baru di mana mazhab Makabe berhasil melalukan perang kemerdekaan dan mereka memiliki keleluasaan mengatur negeri sendiri. Tapi tidak berlangsung lama karena Pompei datang dan Yudea jatuh ke dalam tangan mereka. Inilah yang membuat kita belajar bahwa hak milik atas tanah dalam sejarah menunjukan bahwa sampai di zaman Alkitab pun sebenarnya hak milik tanah berpindah-pindah, jadi sebenarnya orang Yahudi tidak bisa mengklaim bahwa ini tanah hak ekslusif mereka.

Di zaman Romawi ada perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan atas tanah itu. Terjadi pemberontakan-pemberontakan terhadap imperium Romawi tetapi dengan muda dihancurkan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa salah satu tragedi terbesar adalah ketika Yerusalem jatuh di tangan Romawi pada tahun 70 M di bawah kepemimpinan jendral Titus. Tragedi itu membuat orang Yahudi sadar bahwa mereka harus melihat ulang identitas diri mereka. Hal ini masih berlangsung terus sampai abad pertama dan awal abad kedua ketika terjadi pemberontakan yang sangat besar yang dipimpin oleh Barkhokbah. Pemberontakan itu terjadi karena imperium Romawi mau mendirikan kota baru yang disebut Kapotalina di Yerusalem. Pada waktu itu Yerusalem mau diubah menjadi tempat pemujaan dewa Romawi yakni Jupiter. Orang-orang Yahudi sendiri kemudian diusir dari Yerusalem dan mereka akhirnya tersebar ke mana-mana. Ini memang fakta yang menunjukan sulit menentukan tanah hanya berdasarkan catatan dalam Alkitab saja, sebab dalam sejarah tanah itu berpindah-pindah tangan dari satu kekuasaan ke kekuasaan yang lainnya.

Kita dapat menemukan bahwa sesudah Konstantinus menjadi kaisar Kristen pertama dan agama Kristen sebagai agama negara, Konstantinus tidak memberikan kepada umat Yahudi semacam otonomi hak atas tanah. Begitulah sampai kemudian dalam perkembangan Islam menaklukkan daerah sekitar Palestina secara berganti-ganti berpindah tangan lagi dari satu dinasti ke dinasti yang lainnya. Ini berlangsung sampai ke abad 16 M ketika tanah Palestina dikuasi oleh imperium Turki sampai abad ke 19 M.

Kita dapat mengatakan bahwa peralihan sejarah seperti ini, kemudian kita mendapat suatu kenyataan bahwa kepemilikan itu berganti terus sampai era perang dunia pertama. Di bawah daerah kekuasaan Otoman, maka daerah Yerusalem dan daerah-daerah lain di Palestina itu dihuni oleh berbagai bangsa. Ada orang-orang Arab dan orang Yahudi dalam jumlah yang sangat kecil. Baru kemudian hari orang Yahudi menyadari bahwa mereka ingin kembali ke tanah leluhur mereka. Terjadilah gelombang-gelombang imigrasi dari orang-orang Yahudi dari berbagai tempat di Eropa. Orang-orang Yahudi yang kaya raya mengongkosi perpindahan tersebut sehingga jumlah mereka di tanah itu semakin bertambah dan lama kelamaan semakin seimbang dengan orang-orang Arab yang tinggal di Tanah itu. Ini yang kemudian menimbulkan tragedi karena hak untuk mengakui kepemilikan atas tanah itu tidak cuma didasarkan atas jumlah populasi tetapi harus didasarkan pada pengakuan atas kedaulatan. Tragedi yang terjadi adalah bangsa yang tidak bertanah ingin mencari tanah yang tidak berbangsa.

Hal ini menjadi persoalan yang sangat besar di dunia ini, ada tanah yang tidak berbangsa. Dengan berbagai perjuangan maka mereka menemukan cela untuk menghadirkan semakin banyak orang-orang Yahudi di daerah Palestina. Kemudian sejarah menunjukan bahwa pada tanggal 1 Agustus 1948 ada semacam resolusi PBB tentang pembagian tanah. Namun kemudian diklaim oleh orang-orang Yahudi sebagai kesempatan untuk memproklamasikan kemerdekaan negara Israel.

Persoalannya adalah kita kembali ke Alkitab. Apakah Alkitab bisa digunakan untuk membenarkan itu? Orang-orang yang mendukung perpindahan orang Yahudi ke Palestina mempunyai visi zionis. Masalah ini bermunculan dari gerakan Zionisme yang dipelopori oleh Theodor Herzl tahun 1895. Ia merupakan ketua komunitas Yahudi yang berada di Inggris. Yang mana Zionisme sendiri adalah suatu paham dan gerakan yang bersifat politis, rasional, dan ekstrim, untuk menegakkan negara khusus bagi bangsa Yahudi. Adapun tujuan gerakan Zionisme, yaitu:

1. Mempersatukan orang Yahudi di seluruh dunia dalam satu bangsa.

2. Menjadikan wilayah Palestina sebagai tanah air bangsa Yahudi.

3. Mendirikan Negara Yahudi (Israel) di Palestina.

4. Melakukan eksodus (Pengungsian besar-besaran) orang Yahudi ke wilayah Palestina.

Mereka bukan orang-orang yang percaya kepada Alkitab, mereka tidak peduli pada apa yang dikatakan Alkitab tetapi mereka menggunakan Alkitab sebagai dokumen untuk mendukung kebijakan mereka. Cita-citanya adalah mengembalikan batas-batas yang ada pada waktu kerjaan Daud. Dan ini boleh dikatakan sebuah kebijakan yang menimbulkan konflik karena daerah-daerah di zaman Daud adalah daerah yang sudah dikuasai oleh negara-negara berdaulat.

Kita tidak bisa menyelesaikan sejarah hanya dengan apa yang tertulis dalam sebuah tradisi sakral, dengan kata lain agama. Agama tidak bisa menjadi alat untuk melegitimasi kepemilikan sebuah tempat yang sudah memiliki sebuah proses sejarah yang sangat panjang. Negara Israel tidak ada hubungan dengan agama karena konstitusi mereka tidak berdasarkan agama. Ada klaim dasar yang digunakan tetapi kita tidak bisa mengidentikan fenomena yang terjadi pada abad ke 20 yang langsung dikaitkan dengan apa yang dikatakan Alkitab. Israel yang di dalam Alkitab dan Israel dalam masa kini adalah Israel yang berbeda walaupun ada kontinyu sejarah dan itu kita tidak bisa menyangkali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *