TERUS MELAYANI DI TENGAH SITUASI KRISIS

TERUS MELAYANI DI TENGAH SITUASI KRISIS

     (Wahyu 2: 8-11)

Pdt. Elisa Maplani, M.Si

        Hidup menderita atau susah, miskin dan difitnah orang karena percaya kepada Yesus Kristus, merupakan tantangan yang berat bagi setiap orang Kristen. Tidak semua orang Kristen suka dengan keadaan hidup yang demikian. Hidup yang demikian dapat menggoda orang untuk meninggalkan Iman pada Yesus Kristus dan mencari rasa aman atau kebahagiaan di luar dari Kristus.

Kesetiaan dan Iman pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup dapat saja pudar karena orang tidak tahan hidup penuh kesusahan, kemiskinan dan fitnah.

Teks bacaan Wahyu 2:8-11 merupakan cerita tentang keadaan Jemaat Smirna yang hidup dalam kesusahan yang hebat, kemiskinan yang parah dan fitnah yang kejam.

Ayat 9-10 memberi gambaran, hebatnya tekanan yang dialami jemaat Smirna.

Ada tiga (3) tantangan besar yang jemaat Smirna hadapi:

Pertama, Mereka menderita (kesusahan) bahkan mati karena menolak menyembah kaisar.

Kesusahan di sini bukan terkait dengan soal materi seperti tidak punya uang, tidak punya harta kekayaan. Kata Yunani yang dipakai untuk “kesusahan” adalah: THLIPSIS. Kata ini dapat diterjemahkan dengan arti yang luas: Penekanan, pemerasan atau penjepitan; Kehancuran, Ambruk dibawah tekanan suatu beban.

Kesusahan yang dialami jemaat Smirna lebih kepada hal yang terkait dengan siksaan atau penganiayaan karena keyakinan Iman pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat hidup. Pada waktu itu, Kaisar Tiberius dianggap sebagai dewa agung dan tuhan (kurios) yang harus disembah. Rakyat diminta taat dan tunduk mutlak menyembah kaisar sebagai Tuhan.

Pemimpin dan jemaat Kristen di Smirna menolak untuk taat dan tunduk menyembah kaisar sebagai Tuhan. Bagi jemaat Smirna, Yesus Kristus adalah Tuhan dan juruselamat hidup. Tidak ada Tuhan yang lain yang kepadanya mereka taat dan tunduk menyembah selain Yesus Kristus sebagai Tuhan.

Akibatnya, Jemaat Kristen harus membayar harga yang mahal. Ada resiko yang ditanggung. Banyak orang Kristen ditangkap, dianiaya, dipenjara bahkan dibunuh baik dengan pedang, dibakar hidup-hidup atau dibuang dalam kandang untuk dimangsa binatang buas.

Salah satu pemimpin jemaat Smirna yang mati sahit karena menolak menyembah kaisar sebagai Tuhan adalah Uskup Polycarpus. Ia dihukum mati karena tidak mau menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan menyembah kaisar sebagai tuhan.

Di hadapan kaisar ia berkata: “Delapan puluh enam tahun aku melayani Kristus dan tidak pernah la menyakiti aku. Bagaimana aku dapat menyangkal Dia yang menyelamatkan aku?”. Engkau mengancam aku dengan api yang hanya membakar sesaat dan kemudian aku akan mati. Ketahuilah bahwa ada api penghukuman yang akan datang dan api penghukuman yang kekal bagi orang fasik.

Mengapa engkau menunda-nundanya ? Lakukanlah apa yang engkau kehendaki. Polycarpus akhirnya mati dalam kesetiaan percaya kepada Yesus Kristus.(Tetang Riwayat Hidup Polycarpus, dapat dibaca pada tulisan yang pernah diposting penulis tanggal 11 September 2921 dengan judul: Belajar dari Teladan Iman Polycarpus: Setia dan Mati dalam Kristus).

Sangat jelas bahwa di kota Smirna, keputusan untuk menjadi pengikut Kristus sungguh-sungguh merupakan pengorbanan yang nyata. Semua itu dihadapi jemaat di Smirna tanpa takut dan gentar.

Kedua, Mereka menderita kemiskinan dan dikucilkan dari kehidupan masyarakat pada umumnya.

Jemaat Smirna miskin karena dimiskinkan dengan cara-cara yang jahat. Kata Yunani yang dipakai adalah: PTOCHEIA (dari kata dasar PTOKOS) yang berarti: Kemiskinan yang parah; sangat melarat; tidak punya apa-apa. Jemaat Smirna miskin bukan karena malas. Mereka tekun bekerja untuk memenuhi hidup tapi bekerja dengan jujur tanpa kompromi dengan dosa. Tidak mau terlibat dengan bisnis yang kotor atau cara-cara yang curang. Tidak mau cari untung dengan cara yang mudah, kotor dan curang.

Banyak orang Yahudi tidak mau mengajak orang Kristen untuk bekerjasama dalam usaha atau berdagang mencari untung. Bukan itu saja, Karena Iman kepada Yesus Kristus, mereka dihambat dalam pekerjaan, mendapat perlakuan yang tidak adil bahkan dipecat. Anak-anak mereka kurang mendapatkan fasilitas yang memadai untuk bersekolah. Rumah dan harta benda mereka dibakar, pusat-pusat usaha mereka dihancurkan oleh prajurit Romawi dan orang-orang Yahudi.

Akibatnya, jemaat Smirna hidup dalam kemiskinan yang hebat di tengah-tengah mayoritas masyarakat kota Smirna yang kaya. Dengan membuat mereka miskin di tengah-tengah kota yang kaya, jemaat Kristen akan dipermalukan dan dianggap jijik. Kemiskinan dalam pandangan orang Yahudi bukan saja menjijikkan tapi juga dianggap buruk dan memalukan.

Ketiga, Mereka menjadi korban fitnah.

Jemaat Smirna difitnah sebagai kaum kanibal (pemakan manusia) karena dianggap meminum darah dan memakan tubuh Kristus saat perjamuan Kudus; difitnah sebagai orang ateis (kafir) karena menolak semua patung untuk disembah. Difitnah karena menolak menyembah kaisar sebagai Tuhan.

Banyak orang Yahudi berperilaku menjilat kepada pemerintahan Romawi lalu memfitnah orang Kristen sebagai pemberontak negara, pembangkang dan anti pemerintah dan penghasut rakyat. Mereka menjilat ke atas ( Pemerintah sebagai penguasa) dan menginjak ke bawah (jemaat Kristen) sebagai pengikut Kristus.

Yesus menyebut perilaku orang-orang Yahudi sebagai penjilat dan pemfitnah Itu sebagai “jemaat Iblis”. Disebut “jemaat iblis karena pekerjaan yang mereka lakukan adalah pekerjaan iblis yang mendakwa dan menuduh orang Kristen yang percaya pada Yesus Kristus selaku Tuhan dan Juruselamat.

Meskipun jemaat Smirna alami penderitaan, kemiskinan dan fitnah yang hebat, Yesus Kristus tidak meninggalkan mereka. Dia selalu ada, tahu apa yang terjadi, menyertai, menguatkan dan menghibur mereka.

Hal itu nampak dalam perkataan Yesus: “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu… dan Fitnah mereka (ay 9). Yesus tahu karena Dia Maha Tahu. Dia memperhatikan keadaan jemaat-Nya. Itulah penghiburan dan kekuatan bagi jemaat Smirna dalam menjalani hidup dan menghadapi segala tantangan.

Tidak ada penderitaan yang dialami jemaat di luar pengetahuan Yesus. Bahkan Yesus menyatakan diri sebagai yang awal dan akhir, yang telah mati dan hidup kembali (ay 8). Bahwa Dia Tuhan yang telah mengalahkan segala penderitaan di dalam penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Dia Tuhan yang hidup, yang telah menang atas maut.

Meskipun derita itu hebat, Yesus tau dan kontrol sejarah. Semua yang terjadi dan dialami umat-Nya di dunia ini ada dalam pengetahuan dan kontrol-Nya. Karena itu, jemaat Smirna dinasehati untuk setia sampai mati (ay 10).

Jemaat harus belajar untuk setia sampai akhir. Kepada yang setia sampai akhir, akan dikaruniakan mahkota kehidupan. Hidup kekal di dalam dan bersama Yesus Kristus.

Melalui teks Wahyu 2:8-11, setiap orang Kristen masa kini dinasehati:

Pertama, Penderitaan adalah bagian yang tidak terpisahkaan dari Iman kepada Yesus Kristus.

Ber-Iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat hidup tidak berarti hanya mau menerima yang baik yang datang dari Tuhan. Kita juga harus siap untuk menerima keadaan yang buruk kalau hal itu datang dalam hidup karena Iman kepada Kristus.

Menjadi pengikut Kristus dapat saja kita alami kedaan buruk seperti dibenci, dimusuhi, sulit mendapatkan pekerjaan, terancam kehilangan jabatan dan kedudukan, harta-kekayaan bahkan hidup terancam bahaya dikejar-kejar untuk dibunuh. Banyak kesusahan akan akan kita tanggung.

Namun apapun derita yang kita alami, kita mesti percaya bahwa Tuhan tahu apa yang kita alami. Dalam kesukaran kita punya Tuhan yang tau dan mengerti keadaan hidup kita. Dia tahu dan kontrol hidup kita. Dia pengendali sejarah hidup kita dan dunia ini.

Kedua, Belajar untuk tetap setia kepada Tuhan.

Dalam segala keadaan hidup, Tuhan haruslah tetap menjadi Tuhan bagi kita. Setia untuk menjaga dan memelihara kemurnian percaya pada Yesus Kristus, setia untuk melayani pekerjaan-Nya. Segala krisis hidup yang kita alami hendaknya tidak membuat kesetiaan kita luntur, Iman kita goyah dan mundur dalam melayani pekerjaan Tuhan.

Apa sebab ? Sebab kita tahu, Upah dari mereka yang setia sampai akhir adalah anugerah hidup kekal. Siapa yang setia hingga akhir (sampai batas ajal menjemput), ia akan menikmati kemuliaan dan hidup kekal di dalam dan bersama Kristus (ay 10c, 11b). Itu janji Yesus dan janji Yesus itu ya dan amin.

SOLI DEO GLORIA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *