TIDAK CUKUP HANYA MEMAHAMI ALLAH DENGAN INTELEKTUALITAS

TIDAK CUKUP HANYA MEMAHAMI ALLAH DENGAN INTELEKTUALITAS

Pada suatu hari, ayah dan anak berjalan-jalan di tepi danau. Mereka berbicara tentang indahnya danau. Si ayah berulang kali menyatakan kekagumannya pada danau yang indah. Rasa kagum itu dinyatakan si ayah dengan nyanyian, “Sungguh besar Kau Allahku”. Mendengar nyanyian itu, si anak yang masih remaja itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, bila ayah menyanyikan sungguh besar Kau Allahku, dapatkah ayah menunjukkan bagaimana aku dapat mengetahui Allah yang disebut ayah besar itu?” Mendengar pertanyaan si anak, ayahnya tersenyum dan mengajak anaknya terjun ke danau. Di tengah-tengah air danau itu si ayah membenamkan kepala anaknya untuk waktu yang agak lama. Si anak berontak setengah mati. Setelah beberapa saat si anak dikeluarkan dari dalam air. Si ayah berkata, “Bagaimana rasanya?” Anak itu menjawab, “waduh, rasanya setengah mati. Saya pikir saya akan mati karena tidak bisa bernafas”. Kemudian ayah itu berkata, “keingintahuanmu tentang Allah yang besar itu seperti keingintahuanmu tentang udara. Engkau akan merasakan kehadiran-Nya seperti kamu merasakan hembusan nafas. Apabila kerinduanmu untuk melihat Allah sama seperti kamu menginginkan udara, maka engkau akan melihat dan mengetahui Allah.”

Dalam Yohanes 3:1-17, menceritakan bahwa pada suatu malam, Nikodemus seorang yang disebut sebagai ahli Taurat datang kepada Yesus. Ia benar-benar ingin tahu siapa Yesus itu. Meski ia menghormati Yesus dengan sebutan Rabbi dan seorang guru yang datang dari Allah tetapi ia belum mengerti siapa Yesus.

┬áTanda yang dikerjakan Yesus tidak cukup mendasari pengetahuannya akan Yesus. Tanda-tanda yang dibuat Yesus hanya mendorongnya untuk berjumpa dengan Yesus. Yesus menyambut keingintahuan Nikodemus dengan menyatakan bahwa barang siapa ingin melihat kerajaan Allah, Ia harus dilahirkan kembali. Yohanes memakai kelahiran kembali adalah kelahiran”dari atas”, yaitu rengkuhan Ilahi. Kelahiran kembali dimaknai dengan identitas baru.

 Nikodemus benar-benar tidak memahami pernyataan Yesus. Ia mengira kelahiran kembali itu dengan kelahiran manusiawi. Pada ayat 5 kita melihat penjelasan Yesus. Air dalam injil kerap digunakan sebagai lambang roh (7:37-39). Kelahiran kembali dimaknai dengan kehidupan yang baru, yang tidak berorientasi pada hal-hal yang material ayat 6. Kelahiran kembali itu dilaksanakan oleh karya Roh Allah ayat 8-9. Penjelasan Yesus pada Nikodemus rupanya belum bisa ditangkap dengan baik.

Kecerdasan dan banyaknya pengetahuan tentang hukum Taurat ternyata tidak dapat menjawab misteri Ilahi tentang karya Allah. Karena itu pada ayat 10, Yesus berkata, “engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengetahui hal-hal itu?”
Untuk memahami karya Allah, ternyata dengan Intelektualitas atau kecerdasan saja belum cukup. Keterbatasan manusia tidak mampu menampung, memahami siapa Allah. Hal itu kita rasakan ketika mencoba menyelami, memahami karya Allah Tritunggal.
Sebagai orang-orang yang percaya kepada karya Allah Tritunggal, kembali kita diingatkan bahwa karya Trinitaris ini adalah karya Ilahi. Karya itu tidak bisa dihayati dengan pikiran kita yang terbatas. Bagaimana kita dapat menemukan dan merasakan karya-Nya dengan keterbatasan kita?

┬áKita belajar dari Rasul Paulus. Hiduplah menurut Roh (baca Roma 8:12-16). Sebagai Anak-anak Allah, kita memperoleh daya yang selalu baru seperti mendapatkan hembusan udara segar. Hembusan udara yang segar itu tidak dapat kita lihat tetapi kita rasakan. Karya Allah dapat kita rasakan dan memampukan untuk kita hidup dan berkarya di bumi ini. Kita memperoleh daya untuk memberdayakan mereka yang tidak berdaya. Seperti nabi Yesaya yang berkata, “ini aku, utuslah aku”. Ia mengatakan seperti itu karena merasakan daya Ilahi yang memberdayakan dirinya. (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *