TRADISI MEMBERI NAMA SESUAI PETUNJUK

TRADISI MEMBERI NAMA SESUAI PETUNJUK

Pdt. Frans Nahak

Beberapa hari yang lalu satu keluarga yang datang bercerita tentang bayi mereka yang baru lahir dan hendak memberi nama. Nama tersebut diberikan oleh orang tua sesuai “petunjuk” mimpi atau anak menangis “mencari” nama. Namun karena sudah Kristen gereja juga harus memberi nama. Biar nama digabung, baik dari gereja maupun dari keluarga.

Mereka datang saya ajak mereka berdoa kemudian cari nama dalam Alkitab dengan maknanya atau nama-nama istilah teologis.

Saya sadar bahwa kehidupan di kampung, masyarakat, yang walaupun sudah beragama Kristen namun nilai-nilai agama suku masih melekat. Nilai yang dianggap mendatang kebaikan ketika melaksanakan, mereka akan melaksanakan. Tidak melaksanakan akan mendatangkan bencana.

Memberi nama kepada bayi tidak seperti orang-orang di kota sehingga anak masih di kandungan jika sudah diketahui bahwa anak itu laki-laki atau perempuan sudah siapkan namanya.

Bagi orang Atoni Meto, bagi bayi yang baru lahir tidak segera diberi nama. Mereka membutuhkan waktu untuk menunggu petunjuk. Selama belum mendapat petunjuk maka ada nama sementara yang biasa disebut “kan la’et”. Misalnya pada umumnya di Amanuban, bayi laki-laki diberi nama sementara “Nai Boti” bayi perempuan “Ni Boti” (Amanuban dan Amanatun sama).
Mollo bayi laki-laki “Nai Afu” bayi perempuan “Bi Afu”.

Menurut cerita, zaman dulu nama-nama sementara itu digunakan oleh sang bayi sampai tahun. Sampai bayi menangis bahkan sakit baru orang tua mencari petunjuk untuk mengganti nama.
Menurut F. H. Fobia, untuk memperoleh nama yang sebenarnya ada enam gejala yang lazim dipedomani:
Pertama, ada pesanan dari orang tua kepada ibu hamil agar bayi yang dikandung diberi nama sesuai pesanannya.
Kedua, ibu hamil sering bermimpi bertemu dengan orang yang sudah meninggal.
Ketiga, lagak bayi dilahirkan sifatnya sama dengan keluarga yang telah meninggal. Keempat, si bayi mengandung tanda atau penyakit yang sama dengan leluhur yang telah meninggal.
Kelima, ada rasa sayang dari orang tua si bayi terhadap seorang leluhur yang telah meninggal.
Keenam, pemberian nama atas petunjuk seorang petenung (biasa disebut mnane).

Dari cerita ini saya belajar bahwa ajaran agama Kristen tidak menghilangkan nilai-nilai agama suku yang sudah mengakar dalam jemaat. Butuh waktu. Nilai agama Kristen dengan pendidikan harus berjalan bersama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *