UMAT ALLAH YANG TAHAN UJI ATAU UMAT ALLAH YANG BERSUNGUT-SUNGUT?

UMAT ALLAH YANG TAHAN UJI ATAU UMAT ALLAH YANG BERSUNGUT-SUNGUT?

KELUARAN 17:1-7

Pendahuluan

Sementara saya duduk di teras Pastori, ada rombongan ibu-ibu yang berjalan menuju ke arah saya. Saya melihat sepintas dan saya yakin bahwa mereka baru pulang dari pasar, karena mereka semua memegang kresek berisi barang belanjaan. Samar-samar saya mendengar cerita mereka di sekitar kenaikan harga barang di pasar. Bahan pokok seperti beras yang biasa dibeli dengan harga per kilogram Rp. 10.000 kini menjadi Rp. 12.000 s/d 15.000 kg. Ada seorang ibu yang bercerita juga tentang hasil jagung di kebun tahun ini. Menurutnya, tahun ini kelaparan karena curah hujan yang tidak bisa diprediksi membuat mereka yang terlambat tanam atau menanam terlalu awal sehingga jagung tak berbulir dan dimakan hama belalang.

Selain kenaikan harga beras, masyarakat di wilayah ini masih bergumul dengan air bersih yang sulit untuk didapat. Biasanya air bersih dijual dengan harga Rp. 10.000 untuk empat jerigen, kini menjadi Rp. 10.000 untuk tiga jerigen. Sebelum kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), satu tangki 5000 liter dijual dengan harga Rp.400.000, namun setelah kenaikan harga BBM per tangki menjadi Rp.650.000.

Cerita ibu-ibu tersebut merupakan hal yang wajar karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan pokok. Kebutuhan yang pemenuhannya yang tidak bisa ditunda. Misalnya, kita lapar harus makan dan ketika haus harus minum.

Cerita dalam kitab Keluaran 17:1-7 tentang kebutuhan pokok bangsa Israel di padang gurun.

Pembahasan teks

Bersungut-sungut, mencomel, tidak percaya dan tidak setia merupakan tema yang menonjol dalam kitab Keluaran. Kitab ini yang menceritakan awal keluarnya bangsa Israel dari Mesir dan kehidupan mereka di padan gurun. Sebelum perikop bacaan ini, kita melihat sungut-sungut bangsa Israel tentang air (15:24) dan makanan (16:1-36). Namun, kasih Tuhan “mengalahkan” sungut-sungut bangsa itu.

Menurut C. Barth, umat Israel bersungut-sungut artinya mereka “mencomel” dan “menggerutu” menantang dan mempersalahkan pihak yang dianggap bertanggungjawab atas penderitaan mereka di padang gurun. Ada kalanya comelan itu ditujukan kepada Musa (17:3) atau kepada Musa dan Harun atau langsung kepada Allah sendiri (16:7-8).

Amat sulit bagi suatu bangsa yang mengembara di padang gurun belantara dan tidak mempunyai segala sumber pendukung, baik sumber roti maupun sumber air. Tak punya perteduhan dari panasnya matahari atau dinginnya malam, tak punya tembok untuk berlindung dari serangan binatang buas. Kekurangan air dan makanan membuat orang tak berdaya dan dapat menyebabkan kematian. Lapar dan haus juga membuat emosi seseorang tak bisa dikendalikan. Paul Curre menyebutkan bahwa rasa lapar dan haus mengubah seseorang menjadi sangat emosional. Rasa lapar dan haus dapat menimbulkan stres, kecemasan dan kegelisahan yang berujung pada amarah. Sinyal lapar dan haus yang dikirim otak akan merangsang pelepasan hormon adrenalin kortisol, yang membuat manusia sulit mengendalikan emosinya.

Dalam bacaan ini, bangsa Israel bertengkar dengan Musa karena mereka kehausan (17:2-3). Bahkan menurut seruan Musa, bangsa itu hendak melemparinya dengan batu (17:4). Mereka menuntut atau berbantah kepada Musa atau kepada Tuhan sendiri (17:2). Bahkan dalam cerita Israel di Meriba, Bil 20:3,13 bdk . dengan cerita ular tembaga Bil 21:4-9, seakan Allah hendak dituntut di muka pengadilan!

Menurut Barth, kata yang dikenakan orang Israel kepada Musa atau Tuhan Allah di padang gurun adalah membrontak. Mazmur 78:40-41 mengatakan bahwa “betapa sering mereka membrontak kepadaNya di padang gurun, dan menyusahkan hatiNya di padang belantara! Berulang-ulang mereka mencobai Allah, menyakiti hati Sang Kudus Israel”. Namun dalam konteks ini, C. Barth mengatakan bahwa kehidupan di padang gurun sebenarnya Allah mencobai hamba-hambaNya, sekedar untuk menguji mereka dan untuk mengajar mereka percaya dengan tekun. Namun mereka tidak bersabar dan tidak tekun percaya, padahal secara ajaib Tuhan telah menyelamatkan mereka dari perbudakan dengan berbagai tanda-tanda ajaib.

Ketika mereka di Mara, Tuhan menunjukkan mujizatNya, di padang gurun Zin Tuhan memberi mereka manna sebagai makanan. Tetapi ketika mereka menghadapi berbagai kesulitan mereka menuntut Musa atau Tuhan Allah. C. Wright mengatakan bahwa di padang gurun ketika bangsa Israel mengalami kesulitan mereka seperti orang yang tak beretika dan bermoral. Mereka menganggap tak ada Tuhan di tengah-tengah mereka. Mereka dengan tidak tenang datang kepada Musa untuk menyampaikan kesulitan yang dialami. Mereka tidak yakin kepada pemeliharaan Tuhan sebab perut mereka mengalahkan mata jasmani dan mata iman mereka.

Aplikasi

Dari bacaan ini ada beberapa point yang menjadi bahan renungan dalam minggu ini:

Pertama, Kita memperingati kesengsaraan Tuhan Yesus di tahun ini dalam berbagai kesulitan hidup. Hidup selayaknya di padang gurun. Setiap tahun kita bergumul dengan air bersih, dan di tahun ini harga bahan pokok mengalami kenaikan, namun firman Tuhan mengingatkan kita agar jangan bersungut-sungut, mencomel, melempar tanggungjawab kepada orang lain karena hal demikian tidak menyelesaikan masalah. Ketika orang Israel mengalami kesulitan mereka bersungut, mencomel, memberontak kepada Musa dan Tuhan, padahal ada cara yang beretika datang kepada Musa atau Tuhan untuk menyampaikan.

Kedua, sebagai orang beriman, kesulitan merupakan ujian iman. Makanan dan minuman tidak membuat iman kita goyah sebab dasar iman kita bukan makanan atau minuman tetapi Tuhan yang telah membebaskan kita. Orang Israel di padang gurun rasa haus “mengalahkan” iman mereka, padahal mereka telah melihat perbuatan ajaib Tuhan ketika Allah menuntun mereka keluar dari tanah Mesir. Tetap beriman dalam masa-masa yang sulit karena Tuhan akan terus memelihara hidup umatNya.

Ketiga, sebagai orang percaya ketika kita menghadapi berbagai kesulitan jangan bertindak seperti orang yang tak percaya, orang yang tak berkitab, tak beretika, yang menggunakan berbagai cara yang tidak beretika untuk menyelesaikannya. Orang Israel mau melempari Musa dengan batu karena mereka kehausan. Namun ada cara yang etis untuk bersama-sama mencari jalan keluar yang terbaik. Penderitaan dan kematian Yesus membuka jalan bagi kita merawat iman dan kehidupan kita. (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *