UMAT YANG MENYEBARKAN SUKACITA – Filipi 4:2-9

UMAT YANG MENYEBARKAN SUKACITA

FILIPI 4:2-9

PENGANTAR

Pasti tidak asing lagi di telinga kita dengan doa ini:

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai, bila terjadi kebencian. Jadikanlah aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan. Bila terjadi kebimbangan jadikan aku pembawa kepastian. Bila terjadi kesesatan jadikanlah aku pembawa kebenaran. Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan. Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang. Tuhan semoga aku ingin menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai, sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni, aku diampuni…..”

Doa ini adalah doa st. Frasiskus Asisi yang ada dalam tatanan doa harian Katolik. Biasanya dipanjatkan oleh umat Katolik untuk perdamaian bangsa dan juga ketika mengalami kesusahan. Doa ini merupakan penegasan dan permohonan agar umat dalam situasi apa pun tetap hadir membawa damai sejahtera.

Doa ini akan menghantar kita untuk masuk dalam perenungan di minggu terakhir bulan Kebangsaan sesuai bacaan Alkitab saat ini.

PEMBAHASAN TEKS

Surat Filipi adalah surat yang ditulis dengan penuh ucapan syukur. Gerral W. Peterman, dalam tulisannya mengatakan bahwa surat Filipi merupakan surat yang dituliskan sebagai tanggapan atas persahabatan dan rasa syukur. Filipi adalah jemaat yang dibangun sendiri oleh Paulus. Dia mempunyai hubungan yang baik dengan orang-orang yang dilayaninya. Ada sapaan-sapaan yang menunjukkan kedekatan yang begitu indah. “Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!” ( ay. 1). Bahkan ketika Paulus mengalami kekurangan, jemaat mengutus beberapa orang untuk melayani kebutuhan Paulus. Mereka memberikan pemberian-pemberian pada saat jemaat-jemaat lain tidak ada yang memedulikannya. Ada beberapa pokok dalam pembahasan perikop ini:

Pertama, bersukacitalah senantiasa (ay. 4-5)

Sukacita menjadi tema utama dalam surat Filipi, kata ini digunakan dalam sebelas ayat (Flp. 1:4; 1:18; 1:25; 2:2; 2:17-18; 2:28; 2:29; 3:1; 4:1; 4:4; 4:10). Sukacita dalam bahasa Yunani khara. Secara khusus dalam bagian ini sukacita menggunakan kata khairete yaitu “teruslah kalian bersukacita.” Adina Chapman, mengatakan bahwa: ini adalah suatu paradoks yang sukar dipikirkan, khususnya di mana orang percaya harus bersukacita sementara mengalami kesusahan dan kesulitan. Walaupun dalam diri manusia tidak ada kesanggupan untuk bersukacita saat mengalami penderitaan, namun ada sumber yang memberikan kesanggupan, dan itu hanya ada di dalam Tuhan Yesus.

Sukacita yang bersumber dari Allah tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Bahkan keadaan fisik atau finansial juga tidak mampu mempengaruhi sukacita ini. Kondisi ini hanya bisa diperoleh melalui hubungan yang berkualitas dengan Allah.

Paulus telah menjadi teladan tentang bersukacita. Kondisinya seharusnya tidak memungkinkan dia untuk bersukacita. Dia mengalami penganiayaan, pemenjaraan, bahkan ancaman kematian. Namun, dia memiliki kehidupan batin yang penuh sukacita. Paulus tidak meminta jemaat untuk berbahagia, tetapi bersukacita, terus bersukacita dalam Tuhan. Sukacita itu berada di dalam hati, tidak terlihat namun hasilnya (kebaikan hati) bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Rasul Paulus menggunakan kata to epieikhes untuk menerangkan kata kebaikan hati. Kata ini merupakan kata sifat, yang berarti “kelembutan”. W.E. Vine menerjemahkan kata ini dengan “lemah lembut” yang digunakan untuk menggambarkan tindakan seorang perawat merawat pasien, guru dengan murid dan orang tua kepada anak- anaknya. Paulus menggunakan kata ini untuk menjelaskan contoh tindakannya kepada orang-orang yang dilayaninya.

Sukacita adalah kualitas batin, terlihat ketika seseorang memberi respon terhadap orang lain dan diperhatikan oleh orang lain. Bagi Paulus, seseorang akan mampu terus bersukacita kalau dia bisa memberikan reaksi yang benar (kelembutan) terhadap keadaan yang dialaminya.

Kedua, berhentilah kuatir (ay. 6).

Sukacita terjadi bila menghentikan kekawatiran. Salah satu perintah penting dalam Alkitab adalah jangan kuatir. Perintah ini setara penegasannya dengan perintah-perintah yang lain. Bahkan Yesus sendiri dalam khotbahnya di bukit (Mat. 6:25, 27, 28, 31 dan 34), memperingatkan para murid untuk tidak kuatir.

Kekawatiran tidak memberikan keuntungan apa pun dalam hidup, tetapi justru membawa kepada sikap dan tindakan yang salah, kekawatiran merampas damai sejahtera. Webster‟s New World College Dictionary memberikan penjelasan tentang kekawatiran: pertama: keadaan gelisah, kuatir, atau kuatir tentang apa yang mungkin terjadi, kekawatiran tentang kemungkinan kejadian di masa depan; kedua: keadaan abnormal yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan tidak mampu mengatasi peristiwa yang mengancam, biasanya khayalan, ketegangan fisik yang ditandai dengan berkeringat, dan gemetar; ketiga: keinginan yang bersemangat tetapi sering kali merasa tidak nyaman.

LAI menerjemahkan ay. 6: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Dalam teks bahasa Yunani, kalimat “janganlah hendaknya kamu kuatir” menggunakan satu kata saja yaitu merimnate, yang artinya memiliki kecemasan, cemas, menjadi (terlalu) kuatir, mengawatirkan dirinya sendiri. Strategi tepat untuk menghentikan kekawatiran adalah bangunlah komunikasi yang indah dengan Tuhan, dengan kata lain bawalah semua permintaanmu kepada Tuhan.

Ketiga, damai sejahtera (ay. 7).

Damai sejahtera atau dalam bahasa Yunani he eirene, yang artinya bukan suatu keadaan tetapi sesuatu yang bisa didapatkan. Kata eirene ini adalah kata yang sama yang digunakan dalam Galatia 5:22-23 yang berbunyi: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Damai sejahtera yang dimaksud adalah damai sejahtera yang diperoleh karena adanya persekutuan dengan Tuhan, bukan karena hal-hal materi.

Bagi Paulus, damai sejahtera bersumber dari Allah, karena Allah sendirilah damai sejahtera itu. Damai sejahtera itu tidak bisa terpisah dari pribadi Allah. Hal itu berarti juga bahwa hanya orang-orang yang telah memiliki hubungan pribadi dengan Allah yang memiliki damai sejahtera.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Kata “memelihara” diterjemahkan: menjaga, menahan, melindungi. Seperti sepasukan tentara yang ditugaskan menjaga gerbang kota. Artinya, Allah yang adalah damai sejahtera akan menjaga, menahan, melindungi dengan aktif dan siaga umat-Nya. Paulus sendiri mengungkapkan bahwa yang dialaminya bukan sekedar damai sejahtera tetapi “damai sejahtera yang melampaui segala akal.”

Keempat, pikirkanlah hal-hal yang terpuji (ay. 8).

Sukacita melibatkan hati dan pikiran yaitu berpikirlah terpuji. Paulus menasihati jemaat di Filipi untuk memikirkan hal-hal yang terpuji dan berharga. Kata memikirkan Paulus menggunakan kata logizesthe, kata ini lebih baik diterjemahkan teruslah berpikir, teruslah perhitungkan, teruslah pertimbangkan atau teruslah renungkan dengan cermat. Ini merupakan tindakan untuk menjadikan hal-hal yang masuk ke dalam pikiran dipertimbangkan dengan bijaksana atau direnungkan dengan hati-hati. Dave Hagelberg, memberikan definisi kata kerja logizomai sebagai berikut: pertama, menemukan lewat proses sistematis atau menghitung; kedua, “menimbang suatu persoalan dengan saksama,” mempertimbangkan, menaruh pikiran pada suatu persoalan:

Kelima, hiduplah konsisten (ay. 9).

Paulus telah memberikan teladan kehidupan yang baik bagi jemaat di Filipi. Dia bukan sekedar mempunyai keyakinan, gagasan dan pengajaran, tetapi dia sendiri telah menjadi pelaku dari apa yang diyakininya. Dalam Filipi 3:17 dia mengatakan: “Saudara- saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.” Kata teladan digunakan kata summimetai imitasi atau peniru, atau lengkapnya “jadilah imitasiku” atau “jadilah peniruku.”

Paulus dengan lantang mengajak untuk mengikuti teladan kehidupannya. Dengan tegas dan berani dia mengatakan: “Ikutilah teladanku.” Apa yang Paulus harapkan untuk jemaat Filipi meniru kehidupannya? Dia menggunakan empat kata kerja yang berbeda untuk menjelaskan instruksinya. Dan apa yang telah kamu pelajari, (hematete) dan apa yang telah kamu terima (parelabete), dan apa yang telah kamu dengar (ekousate) dan apa yang telah kamu lihat (eidete) padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu (ay. 9).

PENUTUP

Renungan:

Pertama, sukacita itu bersumber dari Allah oleh karena itu berilah diri dipimpin oleh Allah dalam tuntunan Roh Kudus. Sukacita itu adalah buah Roh Kudus. Hal itu hanya bisa diperoleh dengan membangun persekutuan yang erat bersama Tuhan melalui doa. Sebab dengan demikian kita membawa sukacita kepada sesama kita apa pun situasinya. Persekutuan kita yang erat dengan Tuhan menghilangkan rasa kuatir dan cemas dalam menghadapi persoalan hidup. Kita tidak dipengaruhi tetapi mempengaruhi (doa st. Fransiskus).

Kedua, menyebarkan sukacita dengan berbagi kebaikan kepada sesama kita, tanpa memandang latar belakang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang yang bersukacita tidak diukur dengan setiap saat tertawa, tidak pernah mengeluh, sehat, kaya, semua tercukupi, namun berbagi dan melayani sesama. Seperti seorang perawat yang merawat pasien dengan penuh kasih, seorang guru yang mengajar murid-muridnya dan orang tua yang mengasihi anak-anaknya.

Ketiga, untuk menghadirkan suasana penuh sukacita, maka sebelum bertutur kata, mengambil kesimpulan dan bertindak, harus berpikir dengan baik, merenungkannya, sehingga perkataan dan tindakan kita yang nyata terpuji.

Keempat, orang yang percaya kepada Kristus dituntut untuk menjadi teladan dalam menyebarkan sukacita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertanyaan refleksi kita adalah: perbuatan dan tutur kata yang baik apa yang ditiru oleh generasi milenial. Generasi yang suka meniru hal-hal yang baru melalui konten-konten di media sosial? Tokoh yang diidolakan? Teladan apa yang kita berikan kepada orang-orang yang hidup tidak seiman dengan kita? AMIN.  (FN).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *