VIRUS CORONA: ALLAH PEMURAH atau PEMARAH?

Pdt. Frans Nahak

VIRUS CORONA: ALLAH PEMURAH atau PEMARAH?

Pdt. Frans Nahak

“Jangan sampai Tuhan Allah marah umat manusia sehingga Ia mengijinkan virus Corona yang membunuh banyak manusia,” pernyataan seorang jemaat ketika kami berbicara tentang kondisi terkini Covid-19.

Yahyah Wijaya, Ph.D dalam bukunya yang berjudul Kemarahan, Keramahan dan Kemurahan Allah, mengatakan bahwa dalam Alkitab Allah sering ditampilkan dengan dua wajah yaitu Allah yang pemurah dan Allah yang pemarah. Di satu pihak Allah mengampuni, melindungi dan memberkati. Tapi di pihak lain, Ia mengancam dan menghukum mereka yang berbuat jahat, berkhianat, cemar dan licik. Allah yang menyenangkan tetapi sekaligus Allah yang mengerikan. Menyenangkan karena pengampunan-Nya, perlindungan-Nya dan berkat-Nya sungguh amat besar mengatasi kelemahan kita. Mengerikan karena ternyata semua orang, termasuk tokoh-tokoh teladan seperti dan Daud tidak luput dari hukum-Nya.

Menurut kitab Hosea (11:1-11). Allah mempunyai alasan yang cukup kuat untuk menjadi pemarah ketimbang pemurah. Kemarahan Allah kepada umat-Nya begitu nyata, sejak awal sejarahnya. Kita lihat dalam ungkapan dalam kurung (ketika Israel masih muda), umat itu diperlakukan seperti anak sendiri (Ku panggil anak-Ku), dengan penuh kesabaran (Akulah yang mengajar berjalan), dan pengorbanan (‘Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan), namun umat ini melecehkan, mengkhianati-Nya bahkan mengkhianati-Nya dengan mengikuti ilah-ilah lain.
Hosea menggambarkan Allah bergumul begitu hebat, apakah Ia akan mempertahankan kemurahan atau mendatang kemarahan-Nya. Tetapi hasilnya Allah tetap Allah pemurah. Kemurahan Allah, “Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali.”
Kita tahu cerita Yunus, cerita tentang Musa.

Allah menggantungkan kemurahan-Nya kepada diri-Nya sendiri. Allah itu pemurah, misi-Nya untuk menyelamatkan dan bukan menghanguskan.
Allah memang punya alasan yang sangat kuat untuk marah namun Ia punya alasan yang jauh lebih mendasar yang dalam diri-Nya sendiri untuk tetap menjadi pemurah.

Dalam Perjanjian Baru kemarahan Allah dipikul oleh Anak-Nya. Di dalam Yesus Kristus, Allah membatalkan kemarahan-Nya kepada umat manusia.
Yesus dalam pengajaran-Nya menyatakan kemurahan Bapa-Nya karena Ia tahu kemarahan Bapa-Nya kepada manusia Ia yang akan menanggung.

Penulis surat Titus menegaskan kemurahan Allah. Bukti dari kemurahan Allah adalah Yesus Kristus. “Kasih Karunia Allah menyelamatkan semua manusia sudah nyata…(2:11-14).
Kemurahan Allah bukan berarti barang murahan. Dipermainkan. Surat Titus mengatakan juga, “Kasih karunia Allah mendidik kita untuk meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi.
Dalam kemurahan ada didikan Allah.

Surat Ibrani (12:5-6, 10-11) mengatakan bahwa, “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;
karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”
Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

Apakah virus Corona merupakan hukuman Allah seperti pernyataan jemaat tersebut?

Saya sendiri tidak mengatakan ya atau tidak.
Namun mari berefleksi.
Jika ini kemarahan Allah, maka Ia punya alasan untuk marah kepada umat manusia.
Jika demikian, ini sebuah rotan kepada anak-anak-Nya agar tidak menjadi anak gampangan, dan ini merupakan didikan untuk meninggalkan kefasikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *