YESUS ADALAH PINTU DAN GEMBALA

YESUS ADALAH PINTU DAN GEMBALA

             Yohanes 10:1-21

Sejak dahulu kala orang Israel yang empunya domba-domba menyerahkan ternak kepada gembala-gembala. Mereka membawa domba berpindah-pindah untuk mencari rumput. Musim dingin mereka bersama domba tinggal di lembah-lembah, tapi kalau musim panas tiba mereka naik ke pegunungan mencari padang rumput.

Malam hari domba digiring ke kandang di tengah Padang.

Kandang terdiri dari empat dinding batu yang ditumpuk-tumpuk. Di atas batu tumbuh tanaman yang berduri. Kandang tidak beratap, hanya bagian belakang yang diberi atap sehingga hujan domba-domba bisa berlindung di sana. Pintu tdk tertutup sehingga penjaga malam berdiri di depan pintu.

Pada petang hari si gembala berdiri di depan pintu yang terbuka itu.Gembala seolah-olah menjadi pintu. Seekor demi seekor masuk di kandang. Si gembala memeriksa satu persatu ketika mereka masuk, jika ada yang luka dikasih obat.

Kadang domba dari beberapa gembala bermalam dalam satu kandang, tetapi setiap domba kenal suara gembalanya, gembala lain tidak akan mereka ikuti, sekalipun gembala-gembala lain meniru suara gembala domba-domba itu. Setiap ekor domba diberi nama agar dikenal.

Di padang rumput banyak binatang buas. Sebagai senjata seorang gembala memegang gada yang di ujungnya diberi berduri besi. Selain gada ada lagi tongkat dan umbannya. Umban itu dipakai melemparkan batu kepada domba terlalu jauh menyimpan dari kawannya. Ada gembala yang pandai melempar sehingga selalu kena sasaran.

Perumpamaan ini menjelaskan hubungan Kristus dan para pengikutNya.

Yesus menjadi pintu. Yesus bukan saja hanya menjadi pintu tapi gembala yang baik (bdk Maz. 23 Yeh. 34).

Mengandung dua perumpamaan yang keduanya berporos pada Yesus, yakni: sebagai pintu, dan sebagai gembala.

Peran Yesus sebagai pintu menunjuk pada peran Yesus sebagai penghubung, mediator atau jalan satu-satunya. Hal itu sejalan dengan Yoh. 14:6, hanya Yesus satu-satunya jalan yang benar, tidak ada jalan lain kepada Bapa.

Peran Yesus sebagai gembala antara lain menunjuk pada hubungan yang intim antara Tuhan dan manusia/orang beriman. Hidup orang beriman sebagai domba amat bergantung pada Tuhan.

Ada dua bahaya bila orang beriman putus hubungan dengan Tuhan sebagai gembala: (a) bisa tersesat atau hilang dari hadapan Tuhan. (b) bisa terancam bahaya (binatang buas), entah dari musuh atau iblis.

Karena itu penting sekali membangun hubungan personal dengan Tuhan agar kita mengenal Tuhan lebih dalam dan mengalami Tuhan sebagai gembala, dan kita merasa tenang dan aman bersamanya.

Di pihak lain, peran Yesus sebagai gembala menunjuk pada tanggungjawab dan kerelaan berkorban bagi manusia. Dlm konteks bergereja adalah tanggungjawab dan kerelaan berkorban bagi/demi orang lain, bagi/demi mereka yang dipimpin (jemaat). (FN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *