YESUS DAN HERODES

YESUS DAN HERODES

 (Meneladani Yesus, Tanggalkan gaya dan praktek hidup Herodes)

                        (Lukas 13:31-35)

Hidup tertekan, ditindas dan diancam itu alangkah tidak enak. Apalagi kalau hal itu berlangsung tiap hari, dapat mempengaruhi dan merusak mental orang yang mengalaminya. Orang lalu dikuasai oleh roh ketakutan dan hidup dibawah bayang-bayang kematian. Takut tidak bebas berkata dan bertindak walau benar.

Diam dianggap sebagai pilihan dan jalan hidup yang paling tepat dan aman. Akibatnya, kesalahan demi kesalahan terus berjalan tanpa hambatan. Orang takut berbicara apa adanya karena takut bayar harga yang mahal dan takut menerima resiko yang buruk. Cinta kasih, kebenaran dan keadilan pun dibiarkan terkubur.

Memang secara jujur kita mesti mengakui bahwa di dunia tempat kita hidup ini, orang yang berani rela berkorban untuk menyatakan kebenaran dan keadilan bagi orang lain termasuk langka. Semakin lama dunia semakin penuh dengan orang yang dengan segala cara berusaha mendapatkan rasa aman bagi dirinya sendiri.

Kalaupun ada orang yang nampaknya rela berkorban, biasanya sudah didahului dengan perhitungan untung-rugi yang sangat cermat. Memberi, namun dengan pamrih dibelakangnya. Melayani, namun haus penghargaan. Merendahkan diri, namun mengharapkan pujian.

Pendeta DR Eka Darmaputera, Salah satu Teolog Indonesia pernah menulis: Hidup serba tertekan di bawah penindasan dan ancaman akan melahirkan tiga tipe manusia:

Pertama, Tipe Konfrontatip: pemberontak.

Tipe ini tidak banyak orang. Jumlahnya sangat sedikit. Mereka tidak mau tunduk pada nurani saat melihat kejahatan dan praktek ketidak-adilan merajalela. Saat dimana kejahatan dan ketidak-adilan dipertontonkan sehingga cinta kasih, kebenaran dan keadilan seolah terkubur.

Orang-orang dengan tipe ini nuraninya akan terusik, lalu berdiri di garda terdepan untuk melawan. Mereka berani melawan arus, siap membayar harga yang mahal tanpa takut. Bahkan kematian sekalipun tidak akan membuat mereka gentar dan mundur.

Kedua, Tipe Kompromistis: Kompromi.

Tipe ini adalah ciri para penjilat: Menjilat ke atas (pejabat atau penguasa) dan menindas ke bawah (orang-orang kecil atau orang miskin). Tipe kompromistis adalah orang-orang yang suka mengikuti arah angin atau derasnya arus. Kemana arah angin bertiup, di situ mereka condong; Kemana derasnya arus mengalir, ke situ mereka pergi dan terbawa.

Yang penting bagi mereka adalah mendapatkan rasa aman dan kenikmatan hidup bagi diri, keluarga dan kelompoknya. Mereka ibarat mopi (anjing piaraan): Semakin dibelai semakin mengebaskan ekor, semakin diberi makan enak semakin tunduk dan melahap. Mopi memang mopi: Suka dibelai dan suka akan hal yang nikmat dan lezat meski tidak semua yang nikmat dan lezat itu beraroma harum dalam indra penciuman manusia normal.

Ketiga, Fatalistis: Menyerah pada nasib.

Tipe ini adalah orang-orang yang percaya pada takdir. Kita dilahirkan dan ditakdirkan sebagai orang susah, miskin dan menderita. Beginilah keadaan kita, harus diterima sebagai nasib. Mereka bingung dan tak tahu harus berbuat apa.

Mereka adalah orang-orang yang diam membisu, tidak berani mencoba apa-apa. Jalani hidup apa adanya tanpa bertindak merobah situasi dan keadaan diri. Menjalani dan menyerahkan hidup dan masa depan pada keadaan yang terjadi dan terus bergulir.

Bagaimana karakter Yesus dalam hal menyikapi berbagai bentuk tekanan dalam misi pelayanan-Nya ? Narasi teks Lukas 13: 31-35 mengisahkan tentang reaksi Yesus saat beberapa orang Farisi memperingatkan Yesus akan bahaya yang mengancam-Nya dari pihak Herodes.

Beberapa orang Farisi menganjurkan supaya Yesus tidak pergi ke Yerusalem. Mungkin mereka telah dengar bahwa Herodes berniat membunuh Yesus, seperti yang telah ia lakukan terhadap Yohanes Pembaptis.

Herodes menganggap Yesus sebagai suatu ancaman terhadap kewibawaan bahkan jabatannya.

Yesus menanggapi peringatan orang-orang Farisi itu dengan menyuruh mereka pergi dan mengatakan kepada Herodes tentang segala hal yang telah la lakukan dengan penuh kuasa. Kata Yesus:”Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu (ay 32a).

Yesus menyebut Herodes dengan sebutan si serigala. Siapa Herodes sehingga yang disebutkan Yesus sebagai serigala ? Ia adalah Herodes Antipas (Antipatros) yang berkuasa pada tahun 4 SM-39 M sebagai raja wilayah Galilea dan Perea yang memiliki gelar Tetrarki. Ayahnya adalah Herodes Agung dan ibunya adalah Malthace.

Ia terkenal atas perannya dalam peristiwa yang berujung pada eksekusi Yohanes Pembabtis dengan cara memenggal kepalanya (Matius 9:9). Kejinya tindakan itu tidak sekedar untuk menyenangkan dan memuaskan hasrat Salome, anak gadis Herodias yang direbut sebagai isteri dari saudaranya Filipus dan menceraikan istri pertamanya Phasaelis.

Perilaku Herodes yang memperisteri Herodias di tegur keras oleh Yohanes Pembabtis. Rasa sakit hati oleh sikap Yohanes Pembabtis yang berkali-kali menegur Herodes dengan perilaku jahatnya juga jadi pemicu peristiwa biadab itu (Matius 14:1-12; Markus 6:14-29; Lukas 9:7-9).

Dalam teks Injil Lukas, Herodes hendak membunuh Yesus karena takut kehilangan jabatan dan kekuasaan. Ia percaya akan berita orang tentang sosok Yesus dengan warta kenabian-Nya sebagai sebagai kebangkitan Yohanes Pembabtis dimana kuasanya bekerja melalui Yesus. Ia juga yang mengadili Yesus dan menyerahkan kepada Pilatus karena tidak mendapati kesalahan dalam diri Yesus (Luk 23: 8-12).

Herodes menjadi sosok yang tangannya berlumuran darah karena membunuh banyak orang melalui peperangan yang berlangsung hingga meninggal. Libodo kekuasaan telah jadi jerat diri dan menjadikannya ibarat serigala buas yang lapar dan siap memangsa siapa saja yang merintangi dan menggangu naluri kekuasaannya. Siapapun yang dirasa menghambat akan dibabat.

Yesus dengan penuh keberanian menyebut Herodes sebagai serigala. Bagi orang Yahudi, sebutan serigala melambangkan kelicikan, kebuasaan, dan kemerosotan akhlak dan moral seseorang. Yesus menilai bahwa Herodes cocok dengan pelambangan itu, dan pantas di sebut si serigala.

Herodes pikir bahwa dengan kelicikan dan kebuasan nya ia mampu menghentikan Yesus. Sebaliknya, Yesus berpikir bahwa la harus melakukan rencana Allah, Bapa-Nya, sampai selesai, dan tidak akan lari meskipun menghadapi ancaman kelicikkan dan kebuasan seorang raja duniawi.

Bila Herodes adalah Tipe sosok yang selalu menekan dan menindas orang dalam kepeimpinannya selaku raja yang berkuasa kala itu, Yesus adalah tipe pribadi yang selalu memperjuangkan cinta kasih, kebenaran dan keadilan dalam kepemimpinan-Nya sebagai hamba yang melayani. Itu sebab kejahatan dan berbagai praktek yang tidak benar dan adil yang menekan dan menindas banyak orang dengan tegas dan berani dilawan.

Yesus tidak segan-segan menegur secara nyata berbagai tindak kejahatan yang mengemuka baik itu yang dilakoni para pejabat maupun oleh umat/rakyat. Kepada Herodes, Yesus dengan tegas dan berani menyingkapkan perilaku busuk dalam menjalankan kepemimpinannya seperti serigala.

Hal yang sama juga dilakukan Yesus Kepada para Imam dan umat di Yerusalem: Yesus mengecam kejahatan dosa dan menubuatkan kehancuran Yerusalem karena para penduduknya tidak tahu waktu ketika Allah melawat mereka untuk membebaskan dan menyelamatkan.

Ya…, Yesus berani melawan arus, siap membayar harga yang mahal atau resiko bagi perwujudan cinta kasih dan tegaknya kebenaran dan keadilan. Bahkan untuk terwujudnya cinta kasih, kebenaran dan keadilan, Ia rela ditinggalkan dalam kesendirian, kesepian dan kesunyian hidup hadapi derita dan kematian di salib. Itulah pengorbanan yang mulia dan harga yang paling mahal yang tidak dapat tergantikan dengan apapun juga.

Pegorbanan seperti yang dilakukan Yesus itu yang berkenan kepada Allah. Allah membangkitkan Yesus dari kematian dan memuliakan-Nya sebagai Anak Bapa yang berkenan mendapat tempat layak di sisi-Nya.

Gereja mestilah meneladani hidup dan karya Yesus: Menjadi persekutuan yang memperjuangkan terwujunya cinta kasih dan tegaknya kebenaran dan keadilan dalam hidup.

Gereja semestinya jadi persekutuan yang tidak boleh bersikap kompromistis dan fatalistis manakala berbagai kejahatan, tekanan dan penindasan terjadi serta berbagai praktek ketidak-adilan sosial mengemuka dalam konteks dimana kita hidup dan berada.

Gereja tidak boleh menjadi nabi bisu di tengah-tengah kegalauan zaman dan keresahan batin banyak orang karena penekanan dan menindasan yang melanda masyarakat kecil.

Gereja harus komunitas orang-orang percaya yang tidak boleh takut untuk “menyuarakan suara mereka yang tidak dapat bersuara” (Voice of the Voiceless). Cinta kasih, kebenaran dan keadilan harus terus diwartakan gereja meskipun ada resiko atau harga yang harus dibayar.

Cinta kasih, kebenaran dan keadilan sosial adalah kebenaran hakiki dan nilai utama yang mesti diwartakan. “Kebenaran itu menyakitkan tetapi diam itu membunuh”. Seseorang yang memilih untuk diam di tengah-tengah kejahatan dan praktek ketidak-adilan yang merajalela, pilihan seperti itu adalah bentuk dari kejahatan dan ketidak-adilan itu sendiri, demikian kata Desmond Mpilo Tutu, seorang teolog Afrika Selatan dan seorang aktivis yang penentang apartheid.

Ya……, Gereja tidak boleh menjadi nabi bisu di tengah-tengah kegalauan zaman dan keresahan batin banyak orang karena kejahatan, penekanan dan menindasan dan praktek ketidak-adilan yang melanda masyarakat kecil.

Gereja harus belajar dari Teladan Yesus dan tanggalkan gaya dan praktek hidup Herodes.

SOLI DEO GLORIA.

Catatan: Tulisan ini dapat dibaca di Koran Harian Timor Ekspress tanggal 13 Maret 2022.

Sumber: FB Elisa Maplani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *