YESUS MEMBERI TERANG HIDUP BAGI ORANG PERCAYA – YOHANES 8:12-20

YESUS MEMBERI TERANG HIDUP BAGI ORANG PERCAYA

YOHANES 8:12-20

Banyak sepeda motor di kampung ini yang tidak memiliki lampu. Jika jalan pada malam hari, yang menyetir memakai senter dan senter itu diikat di kening. Oleh karena itu, senter harus selalu dicas. Pada satu malam, saya dalam perjalanan pulang dari pelayanan menyetir sepeda motor. Saya menyetir motor cukup pelan karena hujan dan kondisi jalan yang rusak. Jalanan lumpur dan banyak genangan air hujan. Dari arah belakang saya, ada sebuah sepeda yang mengikuti saya. Tak lama kemudian dia melewati saya. Senter diikat di keningnya namun nyalanya suram. Sekitar 150 meter di depan saya, saya mendengar bunyi kecelakaan. Benar, ketika dekat, saya melihat motor dan orangnya tergeletak di lumpur. Saya berhenti untuk menolongnya. Dia mengenal saya. Dia berkata kepada saya, “senter baterai habis sehingga gelap tidak lihat genangan air dan lumpur. Begini sudah bapak, kalau motor tidak ada lampu.”

“Bukan motor tidak ada lampu, dari pabrik sudah ada memang lampu tetapi  karena rusak tidak mau perbaiki. Motor sekarang ini, lampu tidak hanya dinyalakan pada malam hari tetapi siang juga dinyalakan. Salah satu tujuan untuk mengurangi kecelakaan,” kata saya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Cerita ini menghantar kita dalam refleksi akhir tahun.

Peryataan Yesus “Akulah terang Dunia” dilatarbelakangi peristiwa perempuan yang berzina. Dalam peristiwa itu Tuhan menyingkapkan keadaan hidup semua orang bahwa mereka adalah orang-orang berdosa. Tidak ada satu pun dari orang-orang tersebut yang tidak berdosa. Dalam dosa itu manusia kehilangan terang yang memampukan mereka untuk mengerti bagaimana seharusnya mereka hidup sesuai dengan maksud Sang Pencipta. Dalam keadaan  itulah Yesus bersaksi menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia. Barang siapa yang mengikuti-Nya, tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan mempunyai terang hidup (ay. 12). Ia datang ke dalam dunia untuk menolong manusia melihat siapa itu Allah yang sesungguhnya memberikan hidup baru bagi semua orang. Dan juga manusia melihat jalan yang benar.

Pernyataan Yesus ditanggapi oleh orang Farisi. Pertama, menurut orang-orang Farisi, kesaksian Yesus tidak benar sebab Dia menyamakan diri-Nya dengan Mesias. Sebab dalam ajaran dan tradisi Yahudi bahwa Mesias akan datang membawa terang. Kita membaca dalam PL nubuatan-nubuatan banyak berbicara tentang terang yang akan datang. Dalam Kitab Daniel misalnya 2:22, terang adalah nama Mesias, seperti ada tertulis “Dan terang ada pada-Nya.”

Kedua, Yesus memberikan kesaksian palsu sebab menurut aturan, kesaksian itu harus dua orang baru dibenarkan. Orang-orang Farisi keberatan tentang kesaksian Yesus. Menurut mereka kesaksian Yesus tidak sah, “Engkau bersaksi tentang diri-Mu, kesaksian-Mu tidak benar” (ay. 13). Yesus dituduh memberikan kesaksian palsu. Orang Yahudi mengklaim suatu teknikalitas bukti yang resmi yang mengatakan bahwa jikalau tidak ada dua atau tiga saksi maka tidak sah tentang apapun yang kita sampaikan. ( Bil 35:30; Ul 17:6; 19:15-21;).

Ketiga, Yesus membela kesaksiannya. Yesus mengatakan bahwa kesaksian-Nya benar adanya karena hubungan-Nya dengan Allah Bapa: Yesus berasal dari Allah Bapa (ay. 8:14a), bahkan Allah Bapa juga bersama dengan-Nya (ay. 16). Tuduhan – tuduhan tersebut kepada-Nya karena mereka tidak mengenal-Nya dengan baik. Mereka mencoba menilai Dia secara manusia (ay. 15).

Yesus mengklaim kesaksian diri-Nya sah menurut hukum Taurat yang mengharuskan dua saksi (ayat 17; lih. Ul. 17:6) karena Dia adalah saksi yang benar, demikian juga Allah Bapa (ay. 8:18).

Klaim Yesus sebagai terang Dunia dan klaim-Nya tentang hubungan yang khusus dengan Allah Bapa saling berkaitan. Klaim ini hanya dimengerti oleh manusia menerima dan percaya kepada-Nya (ay. 8:19b).

Terlihat bahwa yang dipersoalkan oleh orang Farisi bukanlah arti terang itu, melainkan diri Yesus.

Kesatuan Tuhan Yesus dengan Bapa juga dijelaskan dalam hal penghakiman. Ia dan Bapa bersama-sama menghakimi (ayat 16).

Orang-orang Farisi menghakimi menurut ukuran manusia (ay. 15), namun tidak demikian dengan Yesus. Kesatuan-Nya dengan Bapa menjadi dasar bahwa penghakiman-Nya tidak menurut ukuran manusia. Juga Yesus menjelaskan bahwa Bapa pun bersaksi tentang-Nya (ay. 18). Semua penjelasan ini berpuncak pada pernyataan yang tertuang dalam ayat 19. Dalam ayat ini Yesus menyatakan bahwa orang yang melihat dan mengenal-Nya berarti juga melihat dan mengenal Allah. Ia dan Bapa adalah satu. Orang Farisi masih memahami Yesus pada tingkat jasmani. Pikiran mereka yang penuh prasangka dan keangkuhan dan tertutup terhadap kebenaran sehingga mereka tidak dapat merasakan dan menikmati kehadiran Terang itu sendiri . Bagi orang Farisi, mereka memiliki kebenaran tunggal sehingga menghakimi orang datang membawa sebuah konsep kebenaran yang berbeda.

Renungan:

Beberapa jam lagi kita akan melepaskan tahun 2023 dan memasuki tahun 2024. Banyak orang merayakan pergantian tahun dengan berbagai cara, konvoi, membunyikan trompet, live musik, pesta kembang api, berkunjung ke keluarga, namun ada juga yang melakukan ibadah di rumah atau di gereja untuk menyambut tahun baru serta melepaskan tahun 2023. Gereja di pedalaman timor, khususnya di Amanuban Timur, jemaat berkumpul di gereja, jam 12 malam berdoa bersama.

Namun di sudut-sudut jalan kita juga menemukan ada kelompok yang duduk menyendiri minum sopi sampai mabuk tak menyadarkan diri.

Melalui firman Tuhan saat ini, kita diterangi  untuk melihat perjalanan sepanjang tahun 2023. Kita hidup tidak luput dari kegagalan karena keberdosaan dan keterbatasan sebagai manusia. Selama setahun perjalanan kita, mungkin kita hidup dalam kegelapan atau terkadang kita gelap terkadang juga terang tergantung situasi. Bahkan mungkin juga hidup menggunakan kuasa gelap.

Atau mungkin terang kita sebagai pendeta, penatua, diaken dan pengajar semakin pudar. Mari kita bangkit membersihkan diri menyalakan kembali pelita kita dan masuk di tahun 2024 dengan terang.

Atau kita hanya seperti orang-orang Farisi yang mau debat, mencari kesalahan orang lain untuk menghakimi, membully, menyebarkan hoax, dll., dan tidak mengalami Kristus dalam hidup. Mari kita berkomitmen untuk hidup “hidup baru” dan hidup dalam terang. Berkomitmen untuk “hidup baru” saja tidak cukup sebab tidak ada yang menerangi hidup kita, tetapi komitmen disertai dengan datang kepada Terang yang sesungguhnya. Menerima Dia dalam hati dan hidup.

Di malam kunci tahun ini, kita duduk bersama baik di gereja , di rumah tangga, di kos, untuk berdoa bersama, memohon pengampunan dan meminta Tuhan untuk menerangi hati kita.

Kita menutup tahun 2023 dengan renungan firman Tuhan, bahwa Yesus adalah terang dunia. Terang itu yang membuka hati dan pikiran kita untuk memahami maksud Tuhan bagi perjalanan tahun 2024. Namun dalam terang Tuhan itu juga, kita berefleksi, melihat perjalanan kita tahun 2023; apa maksud Tuhan dalam hidup kita di tahun 2023 yang telah kita lakukan dan juga yang tidak kita lakukan? Mungkin karena kita tidak mengerti maksud-Nya karena kita terlalu menghadalkan pengetahuan kita, status kita, adat kita, kebiasaan kita, dst. Hal-hal ini membuat maksud Tuhan kita abaikan. Kita lebih mengutamakan hal-hal tersebut dari pada kehendak Tuhan.  Atau hal-hal tersebut “mengatas namakan” kehendak Tuhan padahal bukan kehendak Tuhan.

Mungkin di tahun 2023, pikiran kita dan hati kita gelap sehingga tidak melihat kehadiran Tuhan melalui sesama kita sehingga kita menutup pintu hati dan pintu rumah bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Refleksi akhir tahun akan membawa kita ke tahun 2024 dengan pikiran dan hati yang terang bagi kehadiran Tuhan melalui sesama kita. Amin. FN.

Selamat menyongsong Tahun Baru 2024.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *